12 Badoet

12 Badoet
Telungpuluh Songo


__ADS_3

Selang beberapa menit sejak kepergian Angel dan Wildan, Ki Sarno mulai membuka matanya perlahan. Dia meraba leher dengan wajah ketakutan. Laki-laki tua itu sangat takut akan kematian.


Semenjak terdengar kabar tewasnya para Badut, rasa takut akan kematian semakin menjadi-jadi. Ki Sarno sering terbangun di tengah malam dan menangis. Dia mempertanyakan kenapa hukum karma terasa mengincarnya di usia yang sudah renta.


Kekhawatiran itu ternyata benar terjadi malam ini. Mereka yang memiliki hubungan dengan Sumiran datang menemui Ki Sarno. Laki-laki sepuh itu menyebutnya sebagai hantu masa lalu.


Kini Ki Sarno duduk dengan nafas memburu. Dia sadar ternyata masih dibiarkan hidup oleh hantu masa lalu itu. Tapi kenapa? Saat Anwar dan Trisno harus meregang nyawa, Ki Sarno dibiarkan lolos begitu saja. Apa mungkin mereka iba? Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Ki Sarno.


"Bagaimanapun aku beruntung masih hidup. Tapi tak bisa kubiarkan mereka berkeliaran sesuka hati. Bisa saja mereka berubah pikiran dan kembali kemari. Aku tahu, sekarang hukumnya adalah memangsa atau dimangsa," gumam Ki Sarno masih meraba lehernya yang tergores.


"Hey kalian yang di luar! Kemari!" Ki Sarno berteriak sekuat tenaga memanggil centengnya.


Tiga orang yang dipimpin si Gondrong tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. Mereka bersimpuh di hadapan Ki Sarno.


"Apa kalian menangkap dua orang tadi?" tanya Ki Sarno setengah membentak.


"Siapa Ki? Dua perempuan tadi?" tanya si Gondrong ragu-ragu.


"Yang satu bukan perempuan guobl*k! Kenapa kalian membiarkannya pergi?" Ki Sarno marah-marah.


"Lho tadi kulihat Aki tertidur pulas. Yang rambutnya sebahu keluar dari kamar marah-marah. Kupikir baru selesai Njenengan nganu Ki," sahut si Gondrong garuk-garuk kepala. Mungkin kutu di balik rambut lebatnya mulai berulah.


"Tidur matamu pic*k! Aku pingsan guobl*k! Lihat ini, leherku saja luka. Mereka tadi menyanderaku." Ki Sarno mendengus kesal.


"Maaf Ki, kita kecolongan. Terus gimana Ki? Sepertinya mereka belum terlalu jauh dari rumah ini kok." si Gondrong menunduk merasa bersalah. Dia merupakan pemimpin dari para centeng Ki Sarno.


"Pakek nanya lagi. Yasudah kejar sana. Bagi dua tim. Pakai mobil Expager biar cepet. Sisir wilayah sini. Satu ke utara satu ke selatan!" perintah Ki Sarno dengan suara serak.

__ADS_1


"Yang menemani Aki di rumah siapa?" tanya si Gondrong lagi.


"Si Sontoloyo ini saja. Yang lain kejar mereka, sampai dapat pokoknya!" bentak Ki Sarno. Centeng dengan badan paling gemuk yang dipilih Ki Sarno untuk menemaninya.


Si gondrong mengangguk dan segera mengajak dua rekannya keluar kamar. Si Gondrong kemudian memanggil dua centeng yang berada di luar rumah. Mereka berlima dibagi menjadi 3 tim. Dua orang menuju ke utara, dua lagi ke selatan. Sedangkan centeng paling gemuk, sesuai permintaan Ki Sarno diperintahkan untuk berjaga dan mengawal Ki Sarno.


Ki Sarno melepas jenggot dan kumis palsunya. Kakek sepuh itu kini terlihat layaknya aki-aki biasa. Tanpa jenggot dia tidak terlihat meyakinkan sebagai seorang dukun. Dia mengambil plester dalam kotak p3k yang ada di sudut kamar. Kemudian membalut luka gores di lehernya.


Dengan langkah gontai Ki Sarno keluar kamar. Dia duduk di sofa empuk dan menyalakan televisi. Centeng berbadan gemuk berdiri tegap di sampingnya. Ki Sarno beberapa kali mengganti saluran televisi dan akhirnya memilih sebuah acara komedi malam hari.


Terdengar tawa dari televisi. Tapi Ki Sarno diam membatu. Jangankan tertawa, tersenyum pun dia terlihat enggan. Mata Ki Sarno mengawang jauh. Dia tidak berbohong saat mengatakan bahwa dirinya menyesal telah ikut dalam perampokan para Badut di masa lalu. Ki Sarno juga jujur dengan ucapannya kalau tak pernah menyentuh uang hasil rampasan.


Harta benda milik Sumiran yang menjadi jatahnya masih utuh, tersimpan di lemari kamar. Dia sungguh menyesal telah ikut dalam peristiwa perampokan yang merenggut nyawa itu. Andaikan waktu bisa diputar ulang, Ki Sarno sungguh memilih fokus dengan praktek perdukunannya.


Penyesalan selalu datang terlambat. Semua sudah terjadi. Ki Sarno memang dihantui rasa takut akan karma yang akan datang padanya. Namun hati manusia tetaplah sulit ditebak. Saat Ki Sarno merasa hantu masa lalu telah melewatinya, kini dia merasa aman dan berniat menangkap lawan-lawannya itu.


"Kami hanya mengikuti kebijakan dari Aki. Mereka telah berani menyakiti Aki. Darah dibalas darah Ki," jawab centeng gemuk menggebu-gebu.


"Jawabanmu malah membuatku terpuruk. Kalau darah dibalas darah. Maka seharusnya aku yang mati sekarang," ucap Ki Sarno menghela nafas.


"Apa maksudnya Ki?" tanya centeng gemuk tak mengerti.


"Takkan ada asap bila tak ada api. Mereka menyakitiku karena aku yang lebih dulu menggores luka. Ahh, aku terbawa emosi. Kabari yang lain untuk kembali saja ke rumah. Lepaskan mereka!" perintah Ki Sarno.


"Baik Ki," ucap centeng gemuk segera mengirim pesan di WA Group para centeng.


Tiba-tiba terdengar pintu depan diketuk dari luar. Ki Sarno dan centeng gemuk saling bertukar pandang.

__ADS_1


"Masak iya mereka sudah kembali." Ki Sarno mengernyitkan dahi.


"Mungkin pasien Ki. Biar kulihat," ucap centeng gemuk bergegas menuju ke pintu depan.


Beberapa menit berlalu. Ada suara berdebum yang terdengar dari teras depan. Ki Sarno mengernyitkan dahi. Apa kiranya yang telah jatuh hingga menimbulkan suara sekeras itu?


Sayangnya kamera cctv di rumah hanya terhubung di handphone para centeng. Ki Sarno tidak memiliki akses untuk melihat cctv. Akhirnya, kakek sepuh itu beranjak dari duduknya.


"Hei, apa yang jatuh?" teriak Ki Sarno sambil melangkahkan kakinya ke lorong menuju teras depan.


Lorong selalu gelap dan terasa sempit. Ki Sarno sedikit menyesal membuat desain rumahnya seperti itu. Kesan mistis terasa bahkan membuat penghuni rumahnya sendiri pun merinding ketakutan.


"Hei, jawab aku! Suara apa barusan? Apa yang jatuh?" Ki Sarno kembali berteriak.


Hanya ada kesunyian. Bahkan kini Ki Sarno bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang bertalu-talu. Langkah kakinya semakin perlahan, menapaki lantai marmer yang berwarna abu-abu tua. Lukisan abstrak di dinding memberi kesan ruangan semakin sempit. Keringat dingin, serta nafas yang mulai memburu menandakan rasa takut sudah ada di ubun-ubun.


Ki Sarno berjarak beberapa langkah dari pintu depan. Daun pintu terlihat sedikit terbuka, dengan cahaya lampu teras berwarna putih bersih menerobos masuk. Terlihat bayangan seseorang berdiri di depan pintu.


Dengan tangan gemetar, Ki Sarno berusaha mencapai gagang pintu. Namun belum sempat tangan renta menyentuh pintu berbahan kayu jati unggulan itu, tiba-tiba sosok yang ada di luar rumah menerobos masuk. Samar-samar terlihat kilatan besi tajam di tangan kanannya yang penuh cairan merah kental.


"Siapa kamu?" teriak Ki Sarno. Sosok yang muncul dari balik bayang-bayang itu meracau tak jelas kemudian mengayunkan tangan kanannya tanpa ampun.


Ki Sarno tak sanggup mengelak, tak mampu melawan. Ada sensasi dingin kala besi tajam itu menyentuh kulit tuanya yang bergelambir. Ada aroma anyir yang menguar di udara. Hingga pada akhirnya, Ki Sarno dalam seper sekian detik dapat melihat tubuhnya sendiri yang ambruk ke lantai marmer tanpa kepala. Dan terakhir, suara tawa yang serak dan berat memecah kesunyian malam.


Bersambung___


Kritik, saran, dan masukan selalu ditunggu gaes.

__ADS_1


Follow IG : @bung_engkus


__ADS_2