
Jam 10 pagi. Wildan selesai mandi menggunakan air panas yang sudah disiapkan Nilla. Rasa letih yang menumpuk, kini telah hilang. Wildan juga menyeduh serbuk jahe merah untuk menghilangkan mual akibat masuk angin.
"Pagi tadi saat melihatmu pertama kali, kupikir nyawamu sudah tak tertolong Wildan," ucap Nilla memperhatikan Wildan yang tengah duduk dengan handuk basah melingkar di lehernya. Sedangkan Angel duduk di depan meja makan bersikap acuh tak acuh. Dia asyik menikmati secangkir teh hangat.
"Emm, saat pingsan aku memimpikan Angel sebanyak dua kali sepertinya," sahut Wildan mengingat-ingat.
"Tuh, Ngel. Kamu dengar kan? Bahkan saat hilang kesadaran pun laki-laki ini memimpikan mu lho," ledek Nilla.
"Uhukk! Uhuukk!" Angel tersedak. Tawa Nilla pecah. Suasana rumah kembali terasa ceria. Dalam hatinya, Nilla sangat bersyukur Wildan sudah kembali.
"Nil, kamu belum pernah ngrasain kan minuman kolak sandal dan oseng-oseng batako? Kalau ngomong ngawur lagi, kupastikan nanti sore, itu yang akan menjadi menu makanmu!" bentak Angel dengan wajah merah padam.
"Memangnya kamu mimpi apa Wil?" tanya Nilla, mengacuhkan kemarahan Angel.
"Pertama aku bermimpi, Angel menunggui ku di ruang TV. Dan emmm, ini agak memalukan kurasa," ucap Wildan tertunduk malu. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Ayoklah ceritakan saja. Bukankah mimpi bisa diartikan sebagai pertanda sesuatu. Mungkin saja arti mimpimu adalah keberuntungan," pinta Nilla penasaran.
"Yahh . . sebelumnya aku ingin minta maaf pada Angel, entah kenapa aku bisa memimpikan hal ini. Di dalam mimpi, aku melihat Angel menyentuhkan dahinya pada dahiku. Sangat dekat dan terasa nyata. Kurasa kamu memiliki mata yang indah Ngel. Maaf, jangan marah." Wildan malu-malu mengatakannya.
"Uhukk! Uhuukk!" Angel kembali tersedak. Nilla tersenyum puas.
"Itu pertanda bagus untukmu Wildan, sungguh," ucap Nilla tersenyum penuh arti.
"Mimpi yang kedua apa? Hmmm, jangan bilang kamu mimpi bermesraan dengan cewek pemarah yang tersedak itu," ledek Nilla cengengesan.
"Nilla, kubuang stok krim malammu bulan ini ya!" ancam Angel. Nilla terkekeh.
"Yang kedua mimpi aneh," tukas Wildan. Ekspresinya berubah. Nampak serius dengan dahinya yang mengkerut.
__ADS_1
"Apa?" Nilla tak sabar.
"Aku melihat seseorang dengan wajah yang sangat mirip dengan Angel datang ke rumahku. Disana ada Bapak dan Bunda. Juga ada diriku yang masih usia balita," jelas Wildan meneguk air jahe di cangkir.
Nilla dan Angel terdiam kali ini. Suasana hening selama beberapa saat. Wildan berdehem memecah kesunyian. Dia sedikit bingung, kenapa tiba-tiba semua terdiam. Adakah sesuatu yang salah atau menyinggung dari mimpi yang baru saja dia ceritakan?
"Bagaimana ciri-ciri perempuan yang mirip denganku dalam mimpimu Wil?" tanya Angel kemudian.
"Ahh, ya. Perempuan itu memiliki potongan rambut bob. Dan sebuah tahi lalat di ujung bibirnya. Itu hanya mimpi. Bunga tidur. Kurasa tak perlu terlalu dipikirkan," ucap Wildan sambil tersenyum.
"Wildan kamu tahu nggak, saat kita bertemu seseorang dalam mimpi itu artinya kita pernah berjumpa dengan orang tersebut dalam dunia nyata. Karena dalam mimpi, otak tidak bisa membuat gambaran orang yang belum pernah kita temui," sahut Nilla dengan wajah datar.
"Entahlah. Jangan terlalu dipikirkan." Wildan mengibas-ibaskan tangannya.
"Emm, yang jelas aku benar-benar minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Terimakasih sudah menolongku. Menerimaku kembali, dan untuk semua hal yang sudah terjadi, aku benar-benar minta maaf," ucap Wildan sambil membungkuk.
"Aku sih sudah memaafkanmu Wildan. Tapi nggak tahu ya dengan Mbak yang satu itu," jawab Nilla menunjuk-nunjuk Angel.
"Hari ini kita bagi dua tim. Kalau kamu ingin dimaafkan, buat dirimu berguna kali ini Wildan!" perintah Angel dengan tatapan tajam. Wildan refleks mengangguk sambil menelan ludah.
"Dua tim gimana?" tanya Nilla penuh selidik.
"Kamu dan Wildan cari Badut nomor 3. Aku mau mencari informasi soal Inka," tukas Angel.
"Memangnya kamu mau mencari informasi tentang perempuan itu dimana Ngel? Rumah sebelah kosong. Aku benar-benar kehilangan jejak," bantah Wildan cepat.
"Hah? Apa kamu pikir aku sepertimu, melewatkan petunjuk yang ada di depan mata," cibir Angel. Wildan nampak bingung.
"Hotel tempat kalian check in kuncinya. Aku memiliki kenalan disana. Cukup dengan melihat buku tamu, juga cctv kemarin, aku pasti bisa menangkap ekor pacar mu itu!" Angel melotot ke arah Wildan, membuatnya kikuk.
__ADS_1
"Aku akan berangkat sekarang. Sekiranya badanmu sudah kuat, segera cari Badut nomor 3. Nilla sudah tahu, lokasi dan ciri-cirinya. Lakukan pencarian dan pengintaian, tapi jangan gegabah. Sharelok dan tunggu aku. Kamu mengerti Wildan?" tanya Angel setengah membentak.
"Ah ya. Aku mengerti," jawab Wildan tertunduk.
Angel pun bergegas pergi meninggalkan Wildan dan Nilla. Selang beberapa waktu terdengar suara motor matic meraung di halaman depan.
"Dia bersemangat sekali hendak melabrak pacarmu," ujar Nilla terkekeh.
"Bagaimana bisa dia memiliki banyak kenalan di kota ini? Bahkan hotel di pinggiran kota pun dia tahu." Wildan berdecak kagum.
"He he he. Satu hal yang perlu kamu tahu Wildan, banyak laki-laki yang mengantre ingin memiliki Angel. Termasuk pimpinan hotel tempatmu check in kemarin. Angel itu jejaringnya sangat luas," jelas Nilla. Wildan hanya manggut-manggut.
Sementara itu, Angel memacu motor matic nya kesetanan. Jarum di speedometer nampak mengarah ke angka 90 kilometer per jam. Angel merasa gundah dan penuh amarah. Meski sebenarnya dia tak tahu pasti apa yang membuatnya sangat marah dan kesal.
Selalu terngiang di benak Angel, cerita Wildan yang sudah 'ngamar' dengan perempuan yang baru dikenalnya. Angel kesal dan kecewa. Bagaimana mungkin ada laki-laki yang dengan mudah mau saja diajak menginap di hotel oleh perempuan yang baru dikenal sehari?
Dua orang dalam ruangan tertutup, tanpa ada orang lain yang melihat. Ditambah suasana sejuk yang mendukung. Apalagi yang hendak dilakukan? Bayangan-bayangan Wildan tengah bermesraan dengan perempuan lain berputar-putar di kepala Angel.
"Aarrrhhh! Peduli setan!" pekik Angel, kembali menarik gas motornya dalam-dalam.
Tak butuh waktu lama, Angel sudah sampai di pelataran hotel. Dia langsung disambut oleh laki-laki tampan berambut klimis. Laki-laki itu mengenakan kaos polo berwarna kuning yang nampak cocok dan fresh. Tingginya yang mencapai 175 cm nampak ideal dan cocok mengenakan celana kain yang agak ketat.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Angel tanpa basa-basi.
"Asalkan aku bisa, pasti kubantu," jawab laki-laki tampan itu.
"Aku mau melihat rekaman cctv hotel juga buku tamu selama sehari kemarin." Angel memasang ekspresi wajah yang acuh dan tenang.
"Itu sulit kukabulkan. Melanggar aturan tidak ada dalam kamus ku. Kamu tahu itu kan Ngel?" Laki-laki tampan itu tersenyum sekilas.
__ADS_1
"Aku mencari seorang perempuan bernama Inka. Bagaimanapun ini sangat penting. Kumohon padamu," ucap Angel. Kali ini dia membungkuk. Laki laki pimpinan hotel terkejut melihat tingkah Angel yang demikian itu. Baru kali ini Angel yang terkenal keras, dan kuat membungkuk di hadapan seorang laki-laki.
Bersambung___