
Hujan seringkali diawali dari rintik-rintik halus yang jatuh membasahi tanah kering dan berdebu. Saat aroma tanah basah menyeruak di udara, barulah butiran-butiran besar menghujam permukaan bumi. Mencipta suara berisik tak beraturan namun terasa menentramkan.
Atap tanah liat rumah di tengah perkebunan tebu itu juga tak luput dari derasnya butiran air yang menghujam bersama suara guntur yang memekakkan telinga. Beberapa pohon tebu terlihat merunduk kala batang tak kuasa menopang daun hijau basah yang kian berat. Suara kodok bersahut-sahutan tanpa dikomando, mencipta senja yang riuh ramai.
Di bagian belakang rumah, Pengawal berkepala plontos buru-buru masuk toilet. Perutnya tiba-tiba saja terasa melilit. Dia menutup pintu sekuat tenaga, tak peduli jika benda berbahan plastik itu terbelah atau jatuh dari engselnya.
Dalam ruangan sempit, Pengawal berkepala plontos bermandikan keringat. Meski hujan mencipta udara beku, tapi butir-butir keringat tetap menetes di pelipis. Wajah laki-laki itu memerah dengan bibir mengkerut dan mata melotot hingga bulat penuh. Tangan terkepal erat hingga gemetar.
"Haahhh." Pengawal berkepala plontos menghela nafas panjang setelah bebannya terlepas.
Sedangkan di bagian dalam rumah, Pengawal kurus sedang tertawa terbahak-bahak hingga bahunya yang kecil nampak berguncang. Melihat orang lain terluka membuat dirinya bersemangat. Sungguh orang gil* yang diberi jabatan oleh Arloji emas.
Wildan memegangi pipinya yang tergores. Luka memanjang vertikal yang tidak terlalu dalam, namun karena berada di bagian wajah yang memiliki banyak pembuluh darah maka cairan berwarna merah itu menetes cukup deras. Wildan mendesis merasakan perih.
"Hmmm, kamu terlihat semakin tampan dengan cairan merah maroon itu di wajahmu sayang," ucap Pengawal kurus menyeringai lebar. Bagian matanya yang hitam terlihat sedikit naik ke atas.
"Tuanku, majikanku, bos ku tadi berpesan agar aku tidak menghabisi kalian. Tapi bagaimana ya tanganku sudah gatal betul. Ahh, rasanya ingin kugaruk nadi ini hingga terkelupas kulitnya dan ku sesap setiap tetes yang keluar dari sana." Pengawal kurus semakin terlihat aneh. Tangannya nampak gemetar.
"Kamu tahu, dulu aku memiliki seorang Bapak yang seperti binatang. Sejak kecil setiap kesalahan yang kuperbuat, akan mendapat hadiah cambukan di sekujur tubuh ini. Bahkan meski itu hanya kesalahan kecil. Bangun kesiangan, jam 4 sore tidak segera mandi, tubuh ini akan langsung mendapat cambukan," ucap Pengawal kurus, melepas kancing bajunya satu persatu. Saat semua kancing terlepas, nampak bekas luka lama yang membentuk keloid menonjol di sekujur dada dan perut.
"Lalu, setelah bertahun-tahun barulah kelakuan Iblis itu diketahui orang-orang. Bapakku dijebloskan ke tahanan. Dan aku dibawa oleh Pak Wito ke panti yang di urus oleh istrinya. Di panti itulah aku baru bisa merasakan hangatnya keluarga. Istri Pak Wito, bagiku adalah seorang Ibu. Hangatnya pelukan yang kuimpikan, tak pernah kurasakan sebelumnya. Karena aku memang tidak pernah tahu siapa dan dimana Ibuku yang asli. Dan sejak saat itu aku bersumpah untuk mengabdi pada Tuanku, Pak Wito." Pengawal kurus melanjutkan ceritanya dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Sayangnya Ibu tidak berumur panjang. Entah bagaimana dunia ini berjalan. Orang baik selalu diambil lebih awal. Setelah kematian Ibu, aku melihat Tuanku Pak Wito, menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Maka aku yang akan mendukungnya. Menyingkirkan kerikil yang bisa menjadi sandungan. Termasuk kalian!" bentak Pengawal kurus sembari melayangkan tendangan pada wajah Wildan.
Wildan tersungkur. Kakinya yang terluka semakin berdenyut nyeri. Meski terlihat tidak berdaya, Wildan sebenarnya menyimpan tenaga. Dia mengedarkan pandangan, memastikan sosok pengawal berkepala plontos tidak ada di sekitarnya. Wildan berpikir mungkin bisa mengalahkan pengawal kurus jika sendirian.
Pengawal kurus kini beralih menjambak rambut Ika. Perempuan itu diam saja, pasrah. Tubuhnya sudah lemas tak berdaya. Pengawal kurus mendekatkan wajahnya. Merasakan hembusan nafas dari perempuan cantik itu.
"Kupikir sudah mati. Ternyata masih bernafas. Meski semrawut, kamu masih terlihat manis dan beraroma wangi," ucap Pengawal kurus.
Bibir Ika terlihat bergerak-gerak. Seolah sedang mengatakan sesuatu, tapi suaranya tidak keluar.
"Hah? Ngomong apa?" tanya Pengawal kurus penasaran. Dia mendekatkan telinga ke depan bibir Ika. Tanpa diduga, dengan cepat Ika membuka mulutnya dan menggigit daun telinga Pengawal kurus sekuat tenaga hingga putus bagian ujungnya. Ika kemudian meludahkan secuil daging lunak itu.
"Perempuan sial*n!" umpat pengawal kurus. Dia bersiap mengayunkan kaki. Sayangnya dari arah belakang sebuah tendangan sapuan dari Wildan tepat mengenai tulang kering. Pengawal berbadan kurus terpelanting dan jatuh ke lantai dengan bagian kepala terlebih dahulu. Pengawal berbadan kurus pingsan seketika.
Wildan buru-buru mengambil pisau lipat yang terjatuh di lantai. Kemudian dia membantu Ika untuk bangun.
"Lepaskan bajumu ka," ucap Wildan memberi perintah. Meski Ika tidak mengerti tujuan Wildan, namun dia tetap menurut.
Ika melepas bajunya yang berbahan kain katun tebal itu. Kini, dia hanya mengenakan bra berenda berwarna putih. Kulit mulus perempuan itu nampak basah oleh keringat. Wildan sempat teralihkan memandangi pesona sang mantan. Bagaimanapun mata laki-laki sangat mudah fokus pada hal-hal indah.
"Sampai kapan kamu mau memandanginya? Tubuhku sudah melar, tidak seperti dulu saat bersamamu," gertak Ika sedikit kesal. Dia menyodorkan bajunya pada Wildan.
__ADS_1
"Ah yaa, terakhir kali kulihat kurasa masih sama. Sama-sama cantik," sahut Wildan lirih. Dia meraih baju Ika dan segera merobeknya menjadi dua bagian dengan pisau lipat.
Wildan mengikat kaki dan tangan pengawal kurus menggunakan sobekan baju Ika. Setelah memastikan ikatannya kuat, Wildan memeriksa saku baju dan celana pengawal kurus. Sayang, dia tidak menemukan yang dicari.
"Di luar ada mobil. Tapi kuncinya tidak ada. Mungkin dibawa pengawal yang satu lagi. Kita harus merebutnya," ucap Wildan memberi ide.
Wildan berdiri dan melepas kaosnya, menunjukkan tubuh yang cukup berotot meski jarang berolahraga. Dia memberikan kaos bututnya pada Ika.
"Pakailah, agar nggak kedinginan. Aku memakai bajumu untuk mengikat orang gendeng itu karena kupikir bahannya lebih tebal dan kuat dibandingkan kaosku yang tipis seperti saringan tahu," jelas Wildan. Ika tersipu dan mengangguk.
"Kamu tetaplah disini. Aku akan coba melakukan sesuatu." Wildan menyeret kaki, hendak melangkah menuju ruang belakang. Ika tiba-tiba meraih lengan Wildan.
"Hati-hati," gumam Ika lirih. Wildan mengangguk dan mengusap punggung tangan Ika.
Wildan berjalan perlahan ke ruang belakang. Bunyi air hujan yang menimpa atap rumah semakin terdengar nyaring. Udara dingin langsung menghujam badan atas Wildan tanpa benang sehelai pun yang membungkusnya.
Sambil menggigil Wildan melongok ke kamar mandi. Dan menemukan pintu toilet tertutup rapat. Terdengar juga suara siulan yang fals dari dalam bilik toilet. Wildan yakin, pengawal berkepala plontos tengah buang hajat.
Wildan mengedarkan pandangan, mencari benda yang bisa digunakan sebagai senjata. Pisau lipat kecil di tangannya dirasa kurang berguna menghadapi lawan yang besar dan jago beladiri. Wildan takut malah menjadi senjata makan tuan nantinya.
Bersambung___
__ADS_1