
Gendang telinga berdengung. Terlihat bayangan Inka tengah menelpon seseorang. Kamar hotel buram, bagai lukisan cat air yang luntur karena udara yang lembab. Sayup-sayup terdengar apa yang diucapkan Inka di sambungan telepon.
"Aku menemukan uang lima puluh ribuan lawas di dalam tas nya," sepenggal kalimat itulah yang tertangkap jelas di indera pendengaran Wildan.
Tidak lebih dari lima belas menit, Wildan berada di ambang batas antara sadar dan tidak. Hingga akhirnya dia benar-benar lupa dan tertidur. Sangat lelap, begitu nyaman. Dirinya benar-benar pasrah dibuai mimpi di siang bolong.
Terdengar suara pintu ditutup. Wildan pun terkesiap. Dia terbangun dari tidurnya yang terasa panjang. Kepala masih terasa berat dan berdenyut. Wildan memperhatikan tubuhnya yang acak-acakan. Di bagian dada kanan nampak bekas memerah. Wildan meraba dan memastikan, ternyata itu adalah noda bibir dengan lipstik berwarna merah terang.
Wildan memaksa tubuhnya untuk bangun dan bergerak. Kakinya masih terasa lemas, hingga akhirnya dia kembali jatuh tersungkur di lantai. Wildan mencoba merangkak, meraih ranselnya yang terlihat acak-acakan di atas meja. Dan benar saja, uang lima puluh ribuan lawas miliknya telah raib.
Tangan yang masih gemetar itu kini meraih handphone di atas meja. Wildan menelpon nomor Inka. Berhasil tersambung namun tidak diangkat.
"Perempuan sial*n!" Wildan mendengus kesal.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Wildan berhasil bangun dan berdiri. Dia segera menyambar ranselnya dan berjalan keluar kamar. Dari jendela kamar, nampak langit berwarna kemerahan menandakan senja telah tiba.
Wildan mengembalikan kunci kamar ke resepsionis. Kemudian bergegas meninggalkan hotel di pinggiran kota itu. Keinginannya untuk menyerahkan diri ke Polsek terdekat gagal sudah. Kini dia harus merebut kembali benda peninggalan Bapaknya, sekaligus kunci untuk mengungkap kejahatan di masa lalu.
Jarak hotel dengan perumahan tempat tinggal Inka cukup jauh. Jika berjalan kaki mungkin membutuhkan waktu tak kurang dari satu jam. Wildan memeriksa tarif ojek online di aplikasi handphonenya. Angka 15 ribu muncul di layar.
Wildan merogoh dompet di saku belakang. Hanya ada selembar uang 20 ribu kumal. Wildan mendongak menatap langit. Ingin rasanya berteriak sepuas hati, tapi takut ditangkap satpam hotel karena dikira orang gila.
"Tidak ada yang lebih menyedihkan dari hidupku!" gerutu Wildan kesal.
Sedikit ragu akhirnya Wildan memesan ojek online. Meski dia bingung, kalau nanti rasa lapar datang, dia harus makan apa. Lima menit berikutnya, ojek online datang. Pengemudi ojek seorang laki-laki tinggi besar dengan sebuah motor matic yang terlihat mungil.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Wildan duduk di jok belakang. Motor matic pengemudi ojek terdengar meraung, dengan suara mesinnya yang kasar. Mungkin beban yang dibawa terlalu besar, sehingga jalannya pun terasa lambat.
"Om, bisa dipercepat?" tanya Wildan tak sabar.
"Ini sudah poll Mas. Kalau digeber lagi, aku khawatir businya 'njeblos' nanti malah nggak jalan," jawab pengemudi ojek online.
Wildan hanya bisa pasrah. Rintangan dalam perjalanan bertambah, kala butir-butir air hujan mulai turun. Dari yang awalnya hanya rintik semata hingga berubah sebesar biji jagung menerpa tubuh berbalut kaos tipis itu.
Pengemudi ojek online menepikan motornya di sebuah halte bus. Kemudian mengeluarkan mantel plastik transparan yang masih baru. Pengemudi ojek berpostur tinggi besar itu menyerahkan mantelnya pada Wildan.
"Mas nya buru-buru kan? Pakai mantelnya Mas, kita lanjut jalan lagi," ucap pengemudi ojek.
"Mas nya nggak pakai mantel?" tanya Wildan kemudian.
Wildan tertegun sesaat. Meski sepele, Wildan merasa tersentuh atas kebaikan orang yang baru pertama kali ditemuinya itu. Bagaimanapun masih banyak orang baik di dunia ini. Meskipun banyak hal buruk yang ditemui Wildan, tetap saja dunia adalah tempat yang indah untuk menjalani kehidupan dengan energi yang positif.
Sepuluh menit berikutnya, Wildan sampai di perumahan tempat tinggal Inka. Hunian Inka terlihat gelap tanpa lampu yang menyala. Sementara rumah sebelah milik Nilla, nampak terang di bagian dalam.
Wildan mengetuk pintu rumah Inka. Sepi dan sunyi. Tidak ada jawaban dari dalam. Wildan memberanikan diri mendorong daun pintu dari kayu akasia itu. Ternyata tidak dikunci, pintu terbuka kini.
Rumah Inka kosong, tidak ada perabotan yang berharga. Ruang tamu hanya ada dua buah kursi dan sebuah meja kotak berbahan kayu tua. Bahkan debu tebal menempel di meja itu. Seolah tidak ada yang menyentuhnya dalam jangka waktu yang lama.
Wildan melihat kamar, dan benar-benar kosong. Tidak ada apapun. Wildan kini yakin, rumah itu tak pernah ditinggali. Selesai memeriksa setiap sisi dan sudut rumah, Wildan terduduk lemas di teras depan. Dia baru sadar telah dibod*hi oleh Inka. Siapa Inka sebenarnya? Apa tujuan perempuan itu mengambil uang lima puluh ribuan lawas peninggalan Pak Umar? Seingat Wildan, Inka juga mengorek informasi kala dirinya dalam kondisi mab*k.
...****************...
__ADS_1
Di ruangan kepala satuan reserse kriminal, Adi nampak serius melihat berkas-berkas lama tentang pembangunan kantor polisi yang kini ditempatinya itu. Dahinya nampak berkerut di bawah sinar lampu yang tak terlalu terang.
"Kantor ini dibangun pada tahun 95. Kamu tahu tentang ini Ji?" tanya Adi pada rekan kerjanya yang tengah asyik memandangi arloji emas di pergelangan tangan kiri.
"Ngapain sih Di, nyari info tentang kantor ini? Aku kadang heran dengan pola pemikiranmu," sahut Tarji geleng kepala.
"Setelah kuteliti soal perampokan tahun 91, aku menemukan fakta bahwa kejadian itu terjadi disini Ji. Di atas tanah tempatmu berpijak," ucap Adi setelah menghela nafas.
"Hah? Bapak jangan muter-muter deh kalau ngomong. Aku ini hanya bawahan yang telmi lhoh," cibir Tarji.
"Rumah Sang konglomerat Sumiran dilelang oleh Bank pada tahun 94. Pada kenyataannya, pengusaha kaya raya itu memiliki hutang yang menumpuk hingga akhirnya rumah disita. Dan akhirnya ditebus oleh pemerintah setempat atas rekomendasi seorang petugas kepolisian yang tengah naik daun kala itu. Tempat ini dipandang lebih strategis dibanding kantor yang lama. Lokasi yang memang berada di pusat kota. Dan akhirnya tahun 95 kantor kita ini dibangun Ji," jelas Adi membuka catatannya.
"Apakah menurutmu semua itu kebetulan semata?" Adi menatap tajam Tarji yang kini mulai terlihat serius.
"Siapa yang dimaksud petugas yang naik daun Di?" tanya Tarji penasaran.
"Tidak dijelaskan. Namun aku yakin, dia adalah salah satu dari Pak Sukmoro, Pak Wito atau Pak Suko," jawab Adi ragu-ragu.
"Hmmm, jadi menurutmu ada petugas yang membantu perampokan itu? Dan berusaha mengubur semua jejak dengan membangun kantor disini? Dan kamu mencurigai pensiunan yang sudah memberiku arloji emas ini. Begitukah?" Tarji mengernyitkan dahi.
"Nah, ada gunanya juga kamu disini. Tumben otakmu encer," sambung Adi girang. Tarji bersungut-sungut kesal.
Bersambung___
__ADS_1