
"Siapa kalian?"
Terdengar teriakan dari samping rumah. Angel, Nilla dan Wildan langsung menghentikan langkah. Suara laki-laki serak dan berat menambah kesan horor di tengah suasana temaram kala rintik gerimis mulai membasahi tanah merah tempat Wildan berpijak.
"Siapa kalian? Mau apa kemari?" seorang laki-laki paruh baya mendekat, dengan sebilah sabit di tangan kanannya. Laki-laki itu mengenakan capil, berbadan kurus tanpa memakai alas kaki.
"Ah ini Pak, kami ingin mencari rumah Pak Suryono RT 14," jawab Nilla kalem. Perempuan berkacamata itu terasa paling tenang, bahkan sanggup menunjukkan senyum ramah meski kakinya sedikit gemetar.
"Mau apa?" laki-laki bercapil itu kembali membentak.
"Ini, kami petugas pencatatan untuk lansia yang tinggal sendirian," jawab Nilla meyakinkan.
"Ohhh. Mari ke rumahku kalau begitu. Kalau rumah ini sih kosong. Nanti tak jelaskan." Laki-laki bercapil kini lebih kalem.
"Rumah Bapak sebelah mana?" tanya Angel ragu-ragu. Sekian lama termangu, perempuan galak itu akhirnya membuka mulut.
"Itu yang di seberang jalan," laki-laki bercapil menunjuk rumah ber cat hijau dengan lampu LED di teras depan yang sudah menyala terang.
"Oh iya, perkenalkan aku Siswoyo. Keponakan dari Pak Suryono yang kalian cari." Laki-laki bercapil itu memperkenalkan diri. Di tengah suasana senja yang temaram, Pak Siswoyo terlihat tidak ramah dengan kumis tebal melintang di bawah hidungnya.
"Yaahh, saya Ina Pak," sahut Nilla lebih dulu. Dia mengedipkan mata ke arah Wildan dan Angel, memberi kode agar tidak menyebutkan nama asli.
"Ah ya, emm saya Inka," ucap Angel sedikit kebingungan. Tidak ada nama yang terlintas di benaknya kecuali Inka. Wildan mengernyitkan dahi, menatap Angel dengan pertanyaan di kepalanya. Kenapa harus Inka?
"Kamu yang laki-laki. Kok diam saja? Siapa namamu?" Pak Siswoyo memanggil Wildan.
"Ah ya Pak. Nama saya Sugiono," jawab Wildan gelagapan.
"Pfftttt!" Nilla tak tahan menahan tawa. Perutnya terasa sakit. Bahunya yang kecil nampak berguncang-guncang.
__ADS_1
"Apanya yang lucu Mbak?" tanya Pak Siswoyo mulai curiga dengan gelagat aneh orang-orang asing di hadapannya.
"Ah tidak Pak. Saya hanya teringat video-video lucu yang tadi sempat saya tonton," sahut Nilla cepat. Wajahnya masih memerah menahan tawa.
Pak Siswoyo mendengus, kemudian berjalan mendahului rombongan Nilla. Angel segera melangkahkan kaki, mengekor di belakang Pak Siswoyo. Disusul Nilla, dan terakhir Wildan yang melangkah gontai karena merasakan tak enak badan.
Sampailah mereka di rumah seberang jalan. Bangunan yang bergaya serupa dengan rumah tusuk sate milik Suryono. Bedanya, rumah Pak Siswoyo lebih terawat dengan lampu yang menyala terang, mengusir suasana gelap dan muram saat turun hujan.
Istri Pak Siswoyo terlihat ramah menyambut kedatangan tamu. Berbeda dengan sang suami yang nampak garang nan ketus. Sang istri sangat murah senyum dan aura hangat terpancar dari dirinya.
"Silahkan diminum kopinya," ucap istri Pak Siswoyo membawa nampan berisi gelas-gelas penuh wedang kopi.
"Terimakasih Buk. Jadi merepotkan," ucap Nilla cengengesan.
"Nggak repot kok, cuma air," sahut istri Pak Siswoyo.
"Bapak masih mandi. Kan tadi pas ketemu Njenengan semua lagi merumput," jawab istri Pak Siswoyo kalem.
"Oohh, pantesan bawa sabit. Kupikir mau tawuran tadi," seloroh Wildan enteng. Dengan cepat Nilla mendaratkan sikunya ke perut Wildan. Sontak saja laki-laki itu meringis dan mengaduh.
"He he he, suami saya memang kurang ramah. Tapi orangnya baik kok. Eh, saya permisi ke belakang dulu ya. Ini tadi pas lagi ngangetin 'blendrang' tewel soalnya, takut gosong." Istri Pak Siswoyo segera beringsut ke dalam rumah.
Nilla menoleh pada Wildan dan memelototinya.
"Apa sih? Aku kan becanda. Just kidding," ucap Wildan cengengesan. Meski wajahnya masih pucat pasi, laki-laki itu masih doyan bergurau.
Tak berselang lama, Pak Siswoyo kembali muncul dari dalam rumah. Dia sudah berganti pakaian. Kaos berkerah dengan logo singa laut dan celana panjang berwarna hitam membuat Pak Siswoyo terlihat lebih rapi. Kesan menakutkan yang tadi sempat terpancar, kini berubah lebih sedap dipandang.
"Silahkan diminum," ujar Pak Siswoyo kala melihat kopi masih utuh di gelas. Sebenarnya Wildan cs bukannya tidak mau minum kopi, namun cairan hitam beraroma wangi itu masih sangat panas. Kalau meminumnya sekarang, khawatir lidah bakalan kebas.
__ADS_1
"Terkait Pak Lik Suryono, memang benar rumah di seberang itu miliknya. Tapi sekarang sudah tidak ditempati lagi," ucap Pak Siswoyo menyeruput kopi panas miliknya. Seolah lidah laki-laki paruh baya itu kebal air panas.
"Ohh, kopinya masih panas banget ya." seloroh Pak Siswoyo sambil melet-melet kepanasan. Nilla tersenyum menahan tawa.
"Terus Pak?" tanya Angel tak sabaran. Dia terlihat paling antusias membahas sang badut nomor 3.
"Mungkin kalian menyadari, rumah Pak Lik terletak persis di ujung pertigaan. Itu namanya rumah tusuk sate. Dalam pemahaman orang desa sini disebutnya 'ora ilok', nggak bagus untuk dihuni," Pak Siswoyo menghela nafas.
"Terus Pak?" Lagi-lagi Angel tak sabar.
"Dulu keluargaku itu tinggal di kota. Seingatku, Simbah termasuk orang yang berpunya. Bahkan aku ingat betul, Pak Lik yang masih muda kerap kali membeli mainan impor. Dia menyukai rubik, puzzle dan sejenisnya. Sayangnya usaha yang dijalankan Simbah gulung tikar sekitar tahun 90 an," ujar Pak Siswoyo sembari menatap tamunya satu persatu.
"Terus Pak?" Angel kembali menyela.
"Teras terus teras terus, nabrak!" bentak Pak Siswoyo jengkel. Angel diam saja, Nilla yang nyengir malu.
"Aku lupa bagaimana cerita detailnya, yang jelas akhirnya Pak Lik punya uang, beli lahan di desa ini, dan kita sekeluarga pindah kemari. Karena Pak Lik pendatang, dia kurang tahu tentang kebiasaan ataupun istiadat orang sini. Dibangunlah rumah tusuk sate itu. Dan setelah menempati rumah itu, Simbah berpulang, dan Pak Lik mulai bersikap aneh." Pak Siswoyo melotot, terlihat menakutkan. Nilla menelan ludah, membasahi tenggorokan yang terasa kering.
"Pak Lik sering ngomong sendiri. Semakin bertambah usia kian menjadi-jadi. Dan puncaknya, Pak Lik memasang perangkap babi hutan di belakang rumah. Saat ada tetangga yang tengah nyari rumput disana, jebakan dari Pak Lik menjerat tetangga itu. Beberapa ruas jari kakinya terputus. Pak Lik malah tertawa puas sambil berteriak mati kau Sumiran. Aku ingat betul dengan teriakan itu. Masih terngiang di telingaku hingga sekarang." Pak Siswoyo menghela nafas. Angel dan Nilla saling bertukar pandang.
"Karena dianggap tak waras dan membahayakan, berdasar musyawarah dusun, Paklik dibuatkan gubug di tengah tegalan sana. Untuk makan sehari-hari, aku yang bertugas mengirimkan makanan untuknya," tukas Pak Siswoyo mengakhiri ceritanya.
"Jadi, bisakah Njenengan mempertemukan kami dengan Pak Suryono?" desak Angel menatap tajam pada Pak Siswoyo.
"Pak Lik itu berbahaya. Sulit untuk diajak berkomunikasi. Bahkan kesukaannya pada rubik, puzzle dan mainan semacam itu, membuat dia terampil menciptakan jebakan di sekitar gubugnya. Bukankah keterangan dariku sudah cukup untuk mengisi form sensus kalian?" Pak Siswoyo balik bertanya.
"Kami butuh foto orangnya Pak," sahut Nilla cepat. Pak Siswoyo kembali menghela nafas pelan.
Bersambung___
__ADS_1