
Langkah kaki terseok-seok menapaki lantai keramik yang sedikit basah terkena cipratan air hujan. Beberapa tetes cairan merah kental mengalir di betis yang terbalut perban. Rasa sakit kembali terasa berdenyut saat obat pereda nyeri telah kehilangan efeknya.
Nilla membuka pintu rumah sambil merangkul dan membantu Wildan berjalan masuk. Tubuh mereka basah kuyup oleh air hujan. Bibir Wildan nampak bergetar dan membiru, tak mampu menahan udara yang beku. Wildan menjatuhkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Dia meringis kesakitan menatap langit-langit usang yang ada di atasnya.
"Biar kuambilkan handuk," ucap Nilla bergegas menuju ke bagian belakang rumah.
Wildan terdiam dan melamun. Sekujur tubuhnya memang terasa sakit seakan setiap sendi yang melekat hendak rontok. Bahkan luka di betisnya kian berdenyut serta ngilu yang menyiksa. Namun dalam otak Wildan hanya terpikirkan Angel. Bagaimana keadaan perempuan galak itu? Dan dimana dia sekarang? Rasa khawatir seolah meledak di benak Wildan, menutupi rasa sakit yang diderita.
Nilla sudah kembali dari belakang rumah membawa selembar handuk bergambar tokoh superhero laba-laba. Dia membantu Wildan melepas kaosnya. Kemudian menggosok dan mengeringkan punggung Wildan yang bidang.
"Bagaimana dengan Angel?" tanya Wildan lirih. Tubuhnya berselimut handuk kini. Nilla terdengar menghela nafas dan menggeleng perlahan.
"Maafkan aku. Keberadaanku tidak bisa membantu kalian," ucap Wildan tertunduk.
"Kita hanya bisa percaya pada Angel sekarang. Berada disini menunggunya untuk pulang," sahut Nilla berusaha untuk tetap berpikir optimis.
"Setelah Angel kembali, aku tidak ingin melanjutkan lagi pencarian para Badut. Aku sudah lelah. Dendam itu bagai bara api, yang sedikit demi sedikit membakar kedamaian pemujanya. Orang yang memuja dendam dalam hidupnya, semula berwujud kayu yang kokoh dan kuat, saat semuanya selesai hanya akan menjadi arang. Tidak ada satu pun kebaikan dari hasil membalas dendam," lanjut Nilla. Suaranya lirih namun terdengar menusuk.
"Bukankah kalian sendiri yang mengatakan pencarian para Badut ini bukan untuk membalas dendam?" sergah Wildan.
"Ini semua karena Abang dan Angel ingin bertemu dengan Bu Melati. Mereka mungkin tidak mendendam pada para Badut, tapi sepertinya para Badut menutupi apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sesuatu yang dicari oleh Abang dan Angel," jawab Nilla dengan tatapan yang terlihat sendu.
"Siapa Abang?" tanya Wildan penasaran.
__ADS_1
"Laki-laki yang berharga untuk Angel. Aku tidak memiliki hak untuk menjelaskan itu padamu." Nilla menggeleng pelan.
"Aku benar-benar tidak faham dengan hubungan kalian. Sejujurnya kukira kamu dan Angel bersaudara. Aku melihat foto dua balita cantik di dinding sebelah dapur. Dan aku yakin itu adalah foto kalian dulu," ujar Wildan sembari mengusap-usap lengannya. Meskipun telah terbungkus handuk, udara dingin nyatanya masih mampu menembus ke dalam kulit.
"Aku dan Angel memang bersaudara. Kami memiliki Bapak yang sama, namun dari Ibu yang berbeda," jawab Nilla lirih. Entah bagaimana dada Nilla serasa sesak setiap membahas orangtua dan masa lalunya.
"Jadi Angel anaknya Pak Sumiran? Kepalaku semakin terasa pusing. Berarti waktu itu Angel berbohong mengatakan kalau dirinya anak dari Santoso, salah satu Badut." Wildan memijat-mijat keningnya.
"Kami memang menganggap Santoso sebagai pengganti sosok Bapak. Salah satu Badut yang berusaha menebus dosanya," jawab Nilla dengan bola mata yang bergetar.
"Hah? Semua ini terlalu membingungkan untukku," ucap Wildan seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Pertemuan Angel denganmu adalah sebuah kebetulan yang sudah digariskan. Dan aku adalah orang yang bersyukur saat Angel membawamu ke rumah ini Wildan. Angel selalu tertutup, hidupnya hanya untuk mencari Bu Melati, mencari para Badut. Dia dan Abang sama sekali tidak bisa menikmati kehidupan. Tapi kedatanganmu merubah Angel. Dia lebih ceria dan seringkali tersenyum. Aku sungguh bersyukur dengan kehadiranmu di tengah-tengah kami," tukas Nilla dengan beberapa bulir air bening menetes di balik kacamatanya yang tebal.
Wildan termenung. Ucapan tulus dari Nilla membuatnya tersanjung. Sepanjang waktu orang-orang memandang Wildan sebelah mata sebagai pemuda yang tak jelas jalan hidupnya. Sebutan madesu alias masa depan suram selalu dialamatkan padanya.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya Wildan pada Nilla setelah terdiam beberapa saat.
"Apa?" Nilla balik bertanya.
"Ambilkan baju dan celana ganti. Udara semakin terasa dingin. Aku bisa membeku jika seperti ini," jawab Wildan tersenyum masam.
Wildan berpegangan pada kursi dan berganti pakaian. Nilla membantu merangkul Wildan agar bisa berdiri seimbang dengan satu kaki. Namun dia menghadap ke arah lain, menghindar melihat Wildan yang tengah berganti celana.
__ADS_1
"Kamu segeralah tidur. Kondisimu membutuhkan banyak waktu untuk istirahat. Aku akan menunggu Angel pulang," ujar Nilla setelah Wildan selesai berganti pakaian.
Wildan menurut. Dengan dibantu Nilla dia berjalan tertatih menuju ke ruangan depan televisi. Kemudian Wildan merebahkan tubuhnya di kasur lusuh beraroma tubuhnya sendiri.
"Wildan?" panggil Nilla lirih.
"Hmm? Apa?" tanya Wildan sambil menata bantal di kepalanya. Dia mencari posisi yang terasa paling nyaman untuk kakinya yang tengah terluka.
"Tolong maafkan Angel, juga diriku karena telah membawamu pada semua hal berbahaya dan mengerikan. Menjadikanmu buron kepolisian. Merusak kehidupanmu," ucap Nilla tertunduk.
"Tidak Nilla. Tanpa Angel aku sudah mati di tangan Pak Anwar. Seburuk-buruknya hal yang kualami hingga hari ini, setidaknya aku masih hidup. Aku merasa memang digariskan untuk bertemu kalian," balas Wildan menggenggam tangan Nilla erat.
Sementara itu, udara malam yang dingin juga dirasakan oleh lengan dengan arloji emas melingkar di atasnya. Seorang laki-laki duduk di kursi yang berwarna senada dengan arlojinya. Laki-laki bertubuh gempal dan berotot di usia yang sudah tidak lagi muda.
Tiga orang berwajah sangar menghadap sang arloji emas. Mereka berada di sebuah ruangan dengan nuansa dan warna yang serba mengkilap berlebihan. Di dinding terpasang televisi layar lebar menayangkan sebuah berita malam.
"Si Nomor 3 mati. Ini bukan kebetulan. Ada yang memburu para Badut," ucap arloji emas dengan suaranya yang berat dan serak.
"Tidak ada yang perlu anda khawatirkan. Kami tidak akan membiarkan anda lecet meski seujung kuku," jawab laki-laki dengan bekas luka di pipinya. Dia lah kepala pengawal sang arloji emas.
"Bod*h! Aku tidak sudi berdiam di dalam benteng sendiri meski terjamin keselamatannya. Seni perang mengajarkan padaku untuk tidak menunggu musuh datang. Cari, datangi dan hancurkan orang-orang yang berpotensi menjadi sandungan untuk langkahku!" perintah Arloji emas dengan suara menggelegar.
"Ba Baik Pak. Apapun perintahmu, kami laksanakan," jawab kepala pengawal tertunduk. Dia ketakutan melihat aura majikannya itu saat sedang marah. Meski sudah tua, seekor singa tetaplah binatang buas yang haus akan darah.
__ADS_1
"Berdasar penyelidikan polisi, pelaku yang menghabisi para Badut adalah anak dari Umar si nomor 2. Si brengs*k itu tetap merepotkan meski sudah mati. Umar yang menyimpan uang-uang lawas bukti kejahatan tahun 91. Ada juga benda-benda yang seharusnya dimusnahkan. Kalian tahu kan se kecil apapun skandal yang tercium tentangku saat ini akan sangat berpengaruh pada karier ke depan. Kalau sampai anak Umar itu menemukan benda-benda yang disimpan Bapaknya, habis sudah segala usahaku membangun citra baik di masyarakat selama bertahun-tahun," tukas Arloji emas. Tangan kanannya menggenggam botol air mineral kuat-kuat, hingga akhirnya botol kaca itu pecah dan melukai telapak tangan laki-laki yang berusia hampir 70 tahun itu.
Bersambung___