12 Badoet

12 Badoet
Sewidak Papat


__ADS_3

Praanggg


Botol kaca wadah air mineral pecah di genggaman tangan sang arloji emas. Darah segar mengucur dari telapak tangan dengan luka robek yang cukup dalam. Para pengawal tertegun dibuatnya. Kemarahan sang arloji emas benar-benar terasa menakutkan dan mengintimidasi.


"Di hadapan darah yang menetes, bersumpahlah untuk menangkap bocah anak dari Si Umar itu!" perintah arloji emas sambil menyeringai. Ketiga pengawal di hadapannya tertunduk semakin dalam.


"Ya, kami bersumpah Tuan," ucap ke tiga pengawal secara bersamaan.


Terdengar pintu diketuk dari luar. Salah satu pengawal arloji emas dengan cekatan berlari ke arah pintu. Pintu dibuka sebagian untuk memastikan siapa yang hendak masuk ke ruangan majikannya.


Ada 3 orang di balik pintu. Seorang pengawal arloji emas yang bertugas jaga di luar, dan 2 orang kakek sepuh dengan perawakan yang sangat berlawanan. Satu berbadan kurus kering dan satu lagi bertubuh sangat gemuk dengan leher yang nampak berlipat.


Dua orang tua itu dipersilahkan masuk untuk menemui arloji emas. Sedangkan pengawal yang mengantarkannya beringsut mundur untuk kembali ke tempat jaga di luar rumah.


"Waahh, teman lamaku. Bagaimana kabar kalian Nuryanto? Jumani?" tanya Arloji emas. Senyumnya nampak mengerikan di bawah lampu ruangan yang temaram dengan cahaya kuning keemasan.


Kakek berbadan kurus bernama Nuryanto hanya tersenyum masam. Sedangkan yang berbadan gemuk bernama Jumani mengedarkan pandangan, takjub dengan ruangan yang serba berwarna emas nan gemerlap.


"Mari-mari silahkan duduk," ucap arloji emas ramah. Mempersilahkan tamunya untuk duduk di sofa dengan kain sutera halus yang membungkusnya.


"Pengawal, minta orang dapur untuk menyiapkan minuman," lanjut arloji emas. Dia menarik laci meja dan mengambil kotak berkilauan yang berisi cerutu dan korek api. Dua pengawal segera beringsut mundur dan keluar ruangan. Sedangkan kepala pengawal berpindah ke sudut ruangan, berdiri tegap dalam posisi waspada.


"Kupikir hanya kamu yang aman tak tersentuh di antara para Badut. Lihatlah berapa banyak penjaga yang kamu miliki," ucap Jumani.

__ADS_1


Mendengar ucapan Jumani arloji emas hanya diam saja. Dia berjalan mendekati lelaki tua gemuk itu sambil menggenggam erat kotak cerutu. Namun tiba-tiba saja dengan gerakan cepat arloji emas mencengkeram leher Jumani menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya menyalakan korek api dan diarahkan ke mata Jumani dalam jarak yang sangat dekat. Aroma sangit tercium kala alis Jumani tersulut api.


"Jaga bicaramu beruang tua! Apa kamu lupa sedang berhadapan dengan siapa? Aku yang sekarang dapat dengan mudah melenyapkanmu dengan satu jentikan jari Jumani! Atau mau kupanggil Badut nomor 10?" Arloji emas menyeringai menakutkan.


"Tolong maafkan dia. Mungkin Jumani hanya ingin bercanda, seperti saat dulu. Bukankah kita teman dekat?" ujar Nuryanto berusaha menenangkan Arloji emas.


Arloji emas melepaskan cengkeraman tangannya di leher Jumani. Kemudian menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan membakar cerutu dengan korek api yang sedari tadi terus menyala. Jumani terbatuk-batuk dengan wajah pucat pasi. Dia sama sekali tak menduga niat untuk bercanda malah membuatnya hampir kehilangan nyawa.


"Ehemm!" Nuryanto berdehem setelah suasana hening beberapa saat lamanya.


"Mungkin semua sudah tahu kalau Badut tengah diincar. Nomor 2, 6, 4, 5, dan terakhir 3 terpanggang di rumahnya yang ada di tengah hutan," ujar Nuryanto dengan ekspresi penuh kegelisahan.


"Jadi, kedatangan kalian kemari malam-malam begini karena ketakutan kalau sekarang adalah giliran kalian diincar oleh sang malaikat maut?" Arloji emas terkekeh menertawakan dua lansia di hadapannya.


"Kami yang pensiunan pegawai perusahaan listrik tidak memiliki pengawal sepertimu. Kami memohon perlindungan padamu," sambung Jumani dengan kepala tertunduk.


"Kalian tahu apa yang membedakan aku dengan kalian?" tanya Arloji emas sembari mengusap-usap dagunya. Jumani dan Nuryanto kompak menggelengkan kepala bersamaan.


"Aku menggunakan uang hasil pekerjaan kita di tahun 91 untuk investasi. Bukan hanya sekedar foya-foya sepertimu Jumani! Tubuh layaknya kuda nil menjijikkan. Aku menggunakan uang itu secara tepat untuk mendapatkan pengaruh di tempatku bekerja. Memilih usaha property yang menguntungkan dan seperti inilah aku sekarang. Kekayaan, kejayaan, dan kekuasaan aku dapatkan. Sedangkan kalian semua menua, hanya menua tak berguna. Bahkan saat musuh dari masa lalu datang kalian tak mampu berbuat apa-apa," ejek Arloji emas sambil meniupkan asap cerutu yang berwarna putih tebal.


"Kamu berhak mengejek kami. Tapi kumohon beri kami perlindungan darimu," pinta Nuryanto memelas.


"Begini teman lamaku, kamu harus tahu kalau saat ini aku sedang disibukkan dengan pencalonan putraku sebagai kepala daerah. Jadi terus terang saja, aku tidak tertarik dengan keinginan kalian. Lagipula apa yang kudapatkan jika menolong kalian?" tanya Arloji emas sinis.

__ADS_1


"Kita adalah kawan lama. Apakah kamu tak punya hati membiarkan kami mati konyol?" Nuryanto menatap tajam pada Arloji emas yang bersikap dingin.


"Aku meyakini hubungan pertemanan antar manusia hanyalah dikarenakan ada unsur kepentingan di dalamnya. Seperti halnya saat ini, kalian datang kemari di jam malam yang tak layak disebut bertamu untuk mengungkit soal pertemanan hanya karena kalian punya kepentingan meminta perlindungan padaku," sambung Arloji emas menyesap dalam-dalam cerutu beraroma manis itu.


"Apapun pendapatmu tentang kami itu tidak masalah. Asalkan beri kami perlindungan." Nuryanto kembali mengulang permintaannya.


"Aku menolak. Tadi kamu mengatakan apakah aku tega dan tak punya hati membiarkan kawan lama mati konyol? Sekarang aku balik pertanyaannya, mengapa kalian tega membiarkan Sumiran mati di depan mata? Bukankah awalnya dia juga seorang teman?" Arloji emas balas menatap tajam pada Nuryanto. Laki-laki sepuh dan kurus itu menelan ludah seketika. Tenggorokannya tercekat tak mampu berucap sepatah kata.


"Itu tidak disengaja. Kamu tidak ada di lokasi kala itu. Kamu tidak tahu yang sesungguhnya telah terjadi." Kali ini Jumani ikut bersuara.


"Asal kalian tahu saja, gara-gara kesalahan fatal itu aku harus berusaha keras untuk melenyapkan bukti. Aku sudah menyelamatkan kalian semua saat itu. Jadi kini aku sudah tidak memiliki keinginan untuk menolong orang-orang macam kalian." Arloji emas menekan ujung cerutunya di asbak berkilauan. Membuang cerutu mahal itu meski belum ada separuh bagian yang terbakar.


Nuryanto dan Jumani tertunduk dengan raut wajah merah padam. Mereka tak mengira Arloji Emas akan bersikap sedingin itu. Nuryanto mengepalkan tangannya erat-erat. Tidak ada pilihan lain. Meski berada di kandang singa, dia harus berani untuk mengancam demi keselamatannya.


"Jika kamu tidak mau melindungi kami, maka kami akan datang ke kepolisian menceritakan semua yang sudah terjadi di tahun 91!" ancam Nuryanto dengan suara bergetar.


"Bua ha ha ha ha!" tawa Arloji emas pecah kali ini.


"Apa yang lucu? Hah?" Nuryanto geram ditertawakan.


"Kalian tidak mungkin punya nyali datang ke kepolisian. Membuka cerita masa lalu hanya akan membuat kalian masuk bui di usia senja. Dan sekali lagi kutegaskan, jangan macam-macam denganku! Aku bisa saja membuat kalian menghilang sekarang juga, tanpa jejak tanpa ada seorang pun yang tahu. Jadi, berhati-hatilah saat berbicara dengan mulut keriputmu itu. Saat ini kalian masih bernafas pun itu karena kebaikan hatiku," ancam Arloji emas. Jumani dan Nuryanto tak berkutik. Pengawal berwajah sangar di sudut ruangan menyeringai dengan tatapan bengis. Benar-benar seperti masuk kandang singa dengan serigala lapar di sekelilingnya.


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2