
"Mamah sama ayah sering seperti ini, Kak. Ica kadang sembunyi di kamar takut lihat ayah marah. Mamah sering nangis. Ica takut ayah sakit kalau sering marah-marah." curhat adikku ku dengarkan dengan seksama saat ini. Aku pun tersenyum mendengarnya. Semua yang adikku rasa tentu saja sudah pernah aku rasakan. Bahkan lebih dari itu sudah ku lewati. Dan kini adikku merasa jauh lebih tenang sebab bisa berbagi cerita padaku dan mendapatkan teman saat ketakutan.
Aku jadi ingat bagaimana masa kecilku yang begitu sedih rasanya. Aku sampai menangis di balik pintu kamar ketika menyaksikan keributan ayah dan mamah. Terkadang aku sangat lelah dengan prahara di rumahku, tetapi jika melihat nasib beberapa temanku yang bahkana harus terlantar tinggal bersama keluarga ketika kedua orangtuanya berpisah dan justru meninggalkannya pergi. Itu jauh lebih menyakitkan dari pada apa yang ku rasakan.
"Anggia, berapa hari masih liburmu?" hari ini ayah dan mamah sudah terlihat baik-baik saja dari empat hari lamanya mereka berdiaman tanpa ada yang mau bicara satu sama lain. Aku bersyukur, meski empat hari kulalui dengan Ica sangat menakutkan. Rumah terasa begitu sunyi. Entah apa yang membuat mereka berdua kembali baikan dan aku tidak mau tahu yang terpenting mereka sudah berbaikan.
__ADS_1
"Masih lama, Ayah. Satu bulan lebih lagi." tuturku dengan takut. Takut jika ayah kembali marah padaku karena liburku terlalu lama menurutnya. Dan itu sangat membuang-buang waktu.
Di luar dugaan ternyata ayah justru berkata mengejutkan.
"Kemasi barangmu lusa kita semua akan berangkat ke kampung ayah, di Sumatera." aku dan Ica sama-sama terkejut. Kami menatap mamah yang tersenyum melihat ekspresi kaget kami.
__ADS_1
Ica begitu antusias memperhatikan perjalanan kami dan ayah begitu bahagia melihat anak kesayangannya sudah tertawa begitu cerita. Perjalanan jauh yang aku pikir sudah berakhir ternyata masih harus menaiki pesawat kembali keesokan paginya setelah kami tiba di Jakarta tempat tante, kakak dari ayah. Mobil dari keluarga sudah menjemput kami di bandara. Dan di sinilah kami semua saat ini. Kuburan kakek dan nenek yang di sebut opung oleh kami suku batak.
Untuk pertama kalinya ayah aku lihat menangis sangat hancur dan pilu. Ia memeluk menangis kuburan di depan dimana kedua orangtuanya di makamkan. Mamah mengusap kepala sang ayah dan punggungnya memberikan semangat. Lama ayah menangis terisak di makam kakek dan nenek hingga akhirnya kami berjalan menuju rumah yang sudah rapuh. Rumah dimana semua kenangan ayah bersama kakek dan nenek hanya bisa di pandangi ayah dari luar.
Mata ayah menatap sedih bangunan yang ternyata bukan lagi miliknya. Ayah tak bisa memasuki rumah itu sebab telah di jual oleh saudaranya tanpa meminta persetujuan. Sungguh ayah kecewa dengan semua ini. Puluhan tahun meninggalkan kampung, ayah banyak berharap bisa melepaskan rindu dengan saudaranya. Justru semua terasa jauh dari harapan. Lama merantau ayah merasa saudaranya berubah drastis.
__ADS_1
Penyesalan bagi ayah ketika dulu tak memiliki uang sama sekali ketika kedua orangtuanya meninggal dan ayah tidak bisa pulang.