
DI malam yang begitu sakit bagiku, Mamah dan juga Ica. Kami semua berjalan naik ke dalam mobil. Aku bersama Angga membawa mobil Ayah. Sedang Mamah dan Ica sudah ikut di mobil ambulance. Sepanjang jalan aku diam sulit percaya jika ini sebenarnya terjadi. Ayah sudah tak lagi bernapas, berkali-kali aku mengatakan pada diri sendiri untuk percaya jika Ayah sudah benar-benar pergi.
Dari langit hujan perlahan turun gerimis. Mungkin malam ini bukan aku dan keluargaku saja yang menangis melihat Ayah pergi. Paman ku pun sangat terpukul dengan kepergian Ayah. Kata-kata Paman yang sangat aku ingat saat pertama bertemu Ayah di perantauan.
"Anggia, Paman sudah lega sekali ketemu Ayahmu. Kelak Paman pergi ada Ayahmu yang menguburkan Paman. Itulah adat kami. Paman benar-benar senang bisa bertemu Ayahmu. Susah payah Paman mencari kalian. Akhirnya kini Tuhan pertemukan kami juga." Itulah kata Paman ketika memeluk Ayah di rumah.
Mereka benar-benar saling mencari selama ini di tanah perantauan tanpa bisa berkomunikasi. Dimana kala itu masih sangat sulit untuk komunikasi melalui telepon.
__ADS_1
Dan sekarang justru bukan Ayah yang mengantar Paman ke pemakaman. Justru Paman lah yang pergi mengantar Ayah ke peristirahatan terakhirnya.
Di waktu yang bersamaan ketika kami semua tiba di rumah Ayah, hujan turun begitu sangat deras. Di sini bukan rumah utama Mamah dan Ayah. Hanya rumah persinggahan Ayah dimana Ayah memiliki bisnis penginapan.
Tubuh Ayah yang tidak bergerak di angkat ke kamar dimana semua sudah di sediakan dari tempat tidur serta kain penutup dan juga alquran. Ayah berbaring tanpa terlihat sakit lagi. Aku, Mamah, dan Ica duduk di samping Ayah. Tepat pukul sebelas malam di awal tahun kini kami kehilangan sosok imam di keluarga kami.
Di luar Angga tampak sibuk mengatur semuanya. Di sini kami bukanlah warga asli tentu saja kesulitan untuk mencari semua perlengkapan penguburan besok hari.
__ADS_1
Jam yang terus berputar kini semakin larut. Hari sudah sangat malam. Mataku yang sembab sangat sulit untuk ku pejamkan. Sampai akhirnya aku hanya duduk bersandar di samping Ayah yang terpejam. Ku sentuh pipi Ayah begitu dingin sekali. Air mataku terus berjatuhan setiap menatap wajah Ayah kali ini. Ku cium berkali-kali wajah yang sebentar lagi tak akan bisa ku lihat.
"Ayah, mimpikah Anggia?" tanyaku berbisik pada Ayah meski aku sadar tak akan ada jawabannya.
Kini Ayah membungkam mulutnya dengan rapat sampai aku sadar dimana semakin lama wajah Ayah justru tersenyum. Hatiku semakin sakit rasanya melihat Ayah seperti ini. Apa arti semua ini?
Di saat semua orang tidur malam itu, aku, Mamah, dan Ica terus menunggu waktu sampai pagi. Bahkan ingin tidur aku kesulitan. Telingaku terus mendengar seolah ada suara alat medis yang tiga malam ini ku dengar di ruangan ICU. Saat mataku terpejam kembali ku dengar seperti Ayah sedang bernapas. Ku buka kembali kedua mataku, dan Ayah benar-benar tidak bangun lagi.
__ADS_1
"Ayah tenang di sana yah? Anggia akan jaga Mamah dan adek. Ayah sudah nggak sakit lagi kan? Ayah harus bahagia di sana lihat kami Sudah cukup Ayah sakit selama ini. Anggia mohon Ayah jangan cemaskan kami lagi." ujarku berbicara pada Ayah.