25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Sosok Wanita Energik


__ADS_3

Setelah kepergian Ayah, tiga malam berturut-turut kami terus melakukan pengajian di rumah.


“Mah, bagaimana kita sebelum balik ke kampung pergi mengunjungi Ibu. Mungkin ini adalah waktu yang tepat.” usulku mengingat di sana Ibu sedang tidak sehar sejak lama.


Rasanya tidak akan terulang dengan kami yang sama-sama berkumpul bisa mengunjungi ibu yang tidak pernah kami lihat sebelumnya.


“Kamu benar, Anggia. Mamah juga setuju dengan usul itu. Kita bisa temui Ibu mu di sana. Dia pasti sangat sedih dengan kepergian Ayah kalian.” Mamah benar memiliki hati seluas lapangan. Sangat berbesar hati menerima takdir jika ternyata Ayah memiliki dua istri.


Dan kini Ayah meninggalkan kami semua, aku ingin kami semua dekat dengan begitu Ayah akan tenang pergi.


Setelah membicarakan ini semua akhirnya kami pun menyampaikan niat kami untuk datang ke rumah Ibu pada abang semua. Beruntung niat baik kami pun juga di terima dengan baik oleh Abang semua.


Hari ke empat kepergian Ayah, kami semua pergi meninggalkan makam Ayah setelah berpamitan untuk mengunjungi Ibu.

__ADS_1


“Ayah, kami akan pergi berkunjung pada Ibu. Iringi jalan kami dengan restu Ayah. Biarkan kami Ayah tinggal dengan tetap hidup rukun. Ayah sudah tidak ada. Biarkan kami memiliki dua sosok ibu yang hebat.” Doaku ketika meninggalkan makam Ayah.


Menetes kembali air mataku melihat makam yang akan aku tinggalkan satu malam ini.


Rasanya berat sekali meninggalkan Ayah begitu jauh. Tak rela rasanya sehari saja tidak melihat makam Ayah.


Pagi itu juga kami semua melangkah menuju mobil peninggalan Ayah. Rasanya Ayah masih ada dengan sejuta kenangan yang ia tinggalkan di dalam mobil ini. Mobil yang sering menjemputku ketika pulang kuliah di bandara.


Selama perjalanan tak ada obrolan yang kami keluarkan. Semua pikiran masih terasa begitu kosong. Kepergian Ayah masih menjadi luka yang begitu menyakitkan. Andai tak ada banyak hal yang harus kami selesaikan, ingin sekali rasanya berdiam diri di rumah hanya keluar dengan mengunjungi makam Ayah.


Aku tahu Mamah belum cukup kuat untuk berpikir. Namun, keadaan benar-benar memaksa Mamah untuk fokus dengan kerjaan.


“Anggia, usaha beras Ayahmu sudah mau datang. Mamah sudah harus bayar beras itu sekitar dua puluh ton.” Aku terkejut mendengar ucapan Mamah.

__ADS_1


“Dua puluh ton, Mah? Itu kan banyak sekali. Tapi, tunggu. Mungkin Ayah ada uang. Mamah tahu uang Ayah di atmnya kan?” Mamah menggeleng mendengar ucapanku.


“Mamah nggak tahu atm Ayahmu. Tapi semua ada di tas itu kok, nanti pinnya kita cari sama-sama.” Kacau pikiranku mendengar Mamah tidak tahu tentang uang milik Ayah.


Aku hampir lupa jika selama ini Mamah dan Ayah memanglah tidak begitu kompak dalam menjalankan segala sesuatunya.


Dari sini aku bisa belajar banyak hal dengan yang Ayah lakukan. Ada sisi baik dan sisi kurangnya.


“Yasudah. Mamah jangan khawatir. Kita cari tahu dulu. Kalau nanti tidak bisa kita bisa minta bantuan pihak Bank.” Mamah hanya mengangguk lemas.


Air mata Mamah jatuh di kedua pipinya.


“Tuhan, Mamahku belum sembuh lukanya. Kenapa Engkau paksa untuk berpikir seberat ini.” Aku menangis melihat keadaan Mamah saat ini.

__ADS_1


Tak tega rasanya melihat seorang wanita cantik yang biasanya begitu energik kini rapuh tanpa arah. Aku tahu Mamah kehilangan penopang hidupnya.


__ADS_2