
Menjadi seorang istri nyatanya tak semudah yang ku rasakan. Hari ini setelah pulang dari rumah mertua kami memutuskan langsung berangkat ke kota dimana suamiku bekerja. Meski berat meninggalkan ayah dan mamah, tapi ada pernikahan yang harus ku jaga keutuhannya dengan selalu di samping suami. Mamah dan ayah memelukku. Jika aku pikir mereka hanya sekedar mengantar kepergianku, nyatanya tidak. Ayah justru memberikan sejumlah uang hingga aku benar-benar tak bisa menahan sedihku.
Aku telah salah menyangka ayah terlalu keras dan gengsi. Dimana ketika lamaran aku merasa kasihan dengan Angga yang harus menambah uang nikah kami seperti yang ayah minta.
Ternyata saat ini aku sadar jika permintaan ayah bukan untuk meninggikan gengsi sebagai keluarga wanita. Tapi, semua dana itu justru benar-benar pas dengan biaya pernikahan kami.
Rasa bersalah begitu ku rasakan.
“Ayah, ini apa? Tidak. Uang ini untuk ayah saja.”
“Apa sih? Ini uang untuk kalian isi rumah di sana. Ayah ada uang lebih malah kalau untuk mamah dan ayah di sini. Sudah ambil ini.” Berat rasanya menerima uang dari ayah.
Dimana seharusnya aku yang memberikan ayah dan mamah uang justru berbalik mereka yang memberikan aku uang setelah menikah.
Ku peluk ayah berkali-kali aku mengatakan terimakasih.
“Ingat Anggia, kasih tau suami. Nggak boleh simpan uang diam-diam. Ini buat isi rumah yah?” Aku hanya mengangguk.
Ayah dan mamah memang sangat tahu jika anaknya ini selalu mementingkan menabung dari pada hal lainnya.
Kami pun pulang dengan Angga yang bersamaku. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh hingga membutuhkan pesawat untuk sampai di kota tempat tinggal kami.
Singkat cerita perjalanan pun usai. Dimana ponselnya berdering tanda pesan masuk. Wajahku tersenyum melihat pesan ternyata Ica yang mengirimku pesan.
__ADS_1
“Kak Anggia, sudah sampai belum? Kamar sepi loh.” Tertawa sekali gus sedih aku membaca pesan dari adikku.
Segera aku menelpon Ica, ia pun menyampaikan pada mamah dan ayah jika kami telah sampai di rumah.
Rumah yang sederhana dan masih kosong kini kami masuki. Sunyi rasanya, berbeda ketika aku di rumah banyak sekali orang yang tinggal. Sedangkan di sini aku akan benar-benar memulai semuanya berdua.
“Ini uang dari ayah buat kita isi rumah katanya.” Ku tunjukkan uang cash yang ku bawa di dalam tasku.
Angga cukup terkejut melihat sejumlah uang yang kami tahu jika itu adalah hadiah dari pernikahan kami ketika acara.
Yang ku pikir adalah uang untuk orangtuaku. Ternyata justru ayah berikan pada kami.
“Ayah benar-benar baik yah?”
Dimana aku tahu jika ia tak memiliki uang tambahan lagi.
“Aku nggak keberatan sama sekali, Anggia. Kan sudah aku usahakan berarti nggak ada keberatan buat aku. Toh itu untuk kita nikah dan juga pas-pasan lagi buat bayar semuanya.”
Aku bergegas membereskan barang tanpa mau membahas hal itu lagi. Dimana semuanya sudah lewat. Dan jadi pelajaran kami semua untuk tidak berburuk sangka pada semua yang ayah putuskan.
Sejak kecil aku tahu jika ayah adalah orang yang begitu memikirkan panjang ke depan dalam setiap keputusan yang ia buat.
Satu bulan dua bulan hingga tiga bulan lamanya waktu berjalan. Akhirnya aku pulang kembali sendirian karena harus mengurus surat pindah.
__ADS_1
Ayah senang sekali melihat kedatanganku. Bahkan ia bertanya ketika aku belum juga hamil.
“Belum ada kah cucu buat ayah?” Aku hanya menggeleng.
“Ayah ini, kan aku nikah baru aja. Nantilah mungkin belum di kasih.” jawabku dengan pelan.
Ayah diam, ia tak menyahut lagi namun kami justru membahas hal lainnya dengan duduk santai di teras rumah.
Mamah pun ikut bergabung duduk dengan kami. Suasana yang tak biasa ku rasakan ketika aku pulang. Ayah yang sering kali bersikap dingin dan cuek kini justru tertawa mendengar celotehanku tentang suamiku.
Tak lama di sana aku sudah harus kembali. Entah mengapa pikiranku begitu takut meninggalkan suamiku sendiri terlalu lama. Aku takut memberi jalan orang asing masuk ke dalam pernikahanku.
“Kan kamu baru sampai, Anggia. Ayah masih kangen loh.” Aku sedih sekali mendengar ucapan ayah.
Aku pun ingin lama. Entah mengapa perasaanku berbeda ketika pulang sudah menjadi seorang istri dan pulang ke rumah saat masih menjadi mahasiswi.
“Nanti ayah sama mamah ke sana yah bawa adek Ica. Aku tunggu, sekarang aku pulang dulu.
Aku tahu ayah masih berat melepaskan aku pulang. Tapi, ayah hanya diam tanpa berkata apa pun. Mamah sampai menangis melihat aku pulang. Ternyata begini rasanya berpisah dengan orang tua untuk ikut dengan suami.
“Iya nanti beberapa bulan lagi kami akan kesana. Ingat jaga kesehatan jangan capek-capek. Bilang ke ayah kalau ada apa-apa yah? Jangan pernah melawan suami apa lagi di depan orang.” Begitu pesan yang ayah ucapkan padaku.
Sepanjang jalan pulang aku terus saja menangis. Jika bisa ingin sekali rasanya aku membawa kedua orangtuaku tinggal bersama. Tapi, itu semua tidak mungkin. Sebab semua usaha ayah dan mamah ada di sana.
__ADS_1