25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Ujian


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Tubuhku sudah kembali sehat pasca operasi kuretase tersebut. Dimana aku mulai sibuk dengan rutinitasku bekerja sebagai penulis dan pengisi suara di salah satu platform. Jujur lelah rasanya sangat ku rasakan setiap pagi ketika bangun tidur. Bahkan aku sadar terganggunya kandunganku saat itu pasti juga pengaruh dari pekerjaanku yang berat.


Sedih sering kali ku rasakan. Ketika banyak orang menganggap pekerjaan yang ku lakukan sangat mudah dan santai karena tak perlu keluar rumah merasakan teriknya matahari. Tanpa mereka bisa rasakan setiap kali aku kerja perutku terasa kencang karena mengisi suara dengan berbagai macam tokoh. Tentu hal itu tak mudah. Ketika aku memaksakan suara terus keluar tanpa henti dimana otot perutku bekerja begitu keras menekan ke bawah. Dan semua yang ku kerjakan tak bisa ku lakukan dalam posisi santai.


Sering kali Angga memintaku bekerja dengan baring ketika aku sakit. Tapi, tetap saja tak bisa. Pekerjaanku menuntut harus tetap duduk tegap sejak pagi hingga malam. Sebagian orang hanya tahu apa yang mereka lihat ketika aku berjalan kesana kemari dengan suami. Mereka tidak tahu ketika di jam orang sudah tertidur, aku masih harus bekerja terkadang hingga larut malam.


Dan ini semua bukan kemauanku. Tapi ada kebutuhan yang harus kami cukupi. Bahkan pekerjaanku yang tidak bisa ku abaikan begitu saja. Setiap tahun akan ada namanya penilaian kinerja. Jika kinerjaku tidak konsisten semua akan berdampak buruk di tahun berikutnya.


“Anggia, apa kabar? Gimana kapan lahirannya?” Pagi ini ketika memulai kerjaan. Ponselku berdering. Ku lihat ada pesan masuk dari salah satu temanku.


“Aku keguguran, Indah. Dua bulan lalu aku di kuret.” pesan yang ku kirim sebagai balasan.

__ADS_1


“Kok bisa sih? Kenapa kata dokter?” Aku pun menceritakan semuanya meski aku tahu itu sebenarnya tidaklah penting.


“Ya ampun, Anggia. Sabar yah, semoga di kasih rejeki lagi. Padahal kamu udah cukup santai yan kerjanya di rumah cuman buat novel. Masih bisa keguguran juga.” Wajahku mendadak tersenyum masam mendengarnya.


Entah mengapa aku sangat sensitif ketika orang membahas pekerjaanku dengan kata-kata hanya sibuk dengan novel saja. Tidak tahukah mereka bahkan jam kerjaku lebih banyak dari mereka yang kerja di luar sana. Ingin sekali aku marah berteriak, tapi aku sadar semua itu tidak berguna.


Aku hanya senyum tanpa membalas pesannya. Tak apa, yang penting dengan kerjaku yang dalam diam seperti ini semua kebutuhanku dan keinginanku bisa terpenuhi.


Kelak aku ingin bisa berhasil dengan terus menabung dan bisa membantu banyak orang. Itu adalah impianku yang masih ku pendam saat ini.


“Siapa sayang?” tanya Angga yang membuat aku melihat ponselku yang berdering.

__ADS_1


“Ayah.” jawabku.


Segera ku angkat panggilan. “Dimana?” Pertanyaan yang begitu singkat.


“Di rumah, Ayah. Lagi makan siang sama Angga.” jawabku pelan.


“Masakin apa suami mu?” Ayah kembali bertanya. Aku menyebutkan satu persatu masakan yang terhidang di meja makan.


Dan Ayah pun mengingatkan lagi untuk mengatur makan sehat.


“Ingat Anggia, jaga kesehatan. Lihat ayah sudah sakit-sakitan. Mau makan apa saja tidak boleh. Hanya bubur dan nasi merah. Kalian masih muda jaga kesehatan. Belum hamil lagi kah?” Senyumku yang mengembang mendadak sirna saat mendengar pertanyaan ayah.

__ADS_1


Bahkan kesedihanku saja masih bisa terasa saat ini ketika mengingat operasi yang sangat tidak aku inginkan.


“Belum, Ayah.”


__ADS_2