
Tiga hari setelah kepulangan mamah dan Ica, di sinilah aku dan Angga. Sebuah rumah sakit swasta yang cukup terkenal di kota tempat kami tinggal. Aku kembali mendaftar untuk pemeriksaan selanjutnya sesuai dengan saran dokter. Selama perjalanan aku terus berdoa memohon pada sang kuasa untuk di beri kesempatan menjaga kandunganku lagi. Air mataku terasa menggenang selama menunggu namaku di panggil. Dadaku terasa begitu sangat tak nyaman. Seolah aku merasakan firasat buruk akan terjadi setelah ini. Angga yang duduk di sampingku terus menggenggam tanganku dan mengatakan semua pasti akan baik-baik saja. Hingga akhirnya terdengarlah suster memanggilku.
"Nyonya Anggia!" aku mengangkat wajah dimana seorang suster keluar dari pintu ruangan dokter dengan tersenyum padaku. Segera aku masuk bersama Angga. Perasaan suhu tubuhku kian meningkat rasanya. Pikiranku benar-benar kacau menunggu hasil pemeriksaan. Berharap ada keajaiban yang terjadi. Sampai di brankar pemeriksaan tibalah waktu yang ku tunggu dimana sepasang mataku dan sepasang mata dokter sama-sama menatap ke arah monitor. Terlihat di sana kantung janin yang sama persis seperti keadaan di dua minggu sebelumnya.
Aku tak kuasa menahan air mata saat ini. Dokter masih menggerakkan alat transvag*nal di dalam intiku. Hingga detik berikutnya dokter pun menghela napas kasar.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Kantung janinnya masih kosong. Hasilnya masih sama seperti keadaan dua minggu lalu. Kita harus segera mengambil tindakan kuretase jika lambat ini justru akan jadi penyakit." tak kuasa lagi aku menahan tangis. Air mataku terus berjatuhan sakit sekali mendengarnya.
Kenyataan pahit yang tak pernah ku harapkan kini justru terjadi padaku. Tubuhku di peluk Angga dan di bawa untuk duduk di kursi depan dokter. Di sana dokter menjelaskan namun aku tak lagi bisa mendengar dan memahami. Kekecewaan jelas ku rasakan saat ini. Susah payah aku berusaha mempertahankan kandunganku nyatanya karena keras kepala ku malam itu membuat aku kehilangan calon anakku.
Sore itu juga aku di operasi, meski perasaanku tak rela untuk di angkat janin dari rahimku tapi semua sudah terjadi. Tak ada yang bisa membuat aku bisa bertahan dengan pilihanku selain pasrah pada sang kuasa.
__ADS_1
Semangat ku dan Angga hilang saat itu juga. Kami hanya berbaring menunggu dokter memeriksaku di ruang rawat setelah menjalani operasi. Sering kali hasil operasi yang hancur di plastik itu ku lihat dengan teliti berharap ada sesuatu yang ku harapkan ada di sana. Namun, semua tak ada sama sekali.
"Sudah sayang. Belum waktunya kita mendapatkan apa yang kita mau. Pasti nanti waktunya akan lebih baik lagi. Kita hanya harus belajar dari ini semua." aku mengangguk mendengar ucapan suamiku.
Dua malam aku di rawat di rumah sakit beruntung Angga belum masuk kerja saat ini. Dan ini adalah malam ketiga, dimana aku sudah kembali pulang ke rumah dengan pikiran kosong. Baring di kamar merasa hampa sekali. Seharusnya beberapa bulan ke depan aku sudah melihat perutku buncit. Bayanganku begitu ingin sekali melihat perutku besar pasti sangat lucu.
__ADS_1