
Sejak kepulangan suamiku dari Bali itulah aku tak lagi bisa percaya. Bahkan aku tak lagi bisa berkata hangat seperti sebelumnya. Dan sejak hari itu pula keadaan rumah tangga kami sering kali ribut. Rasa percayaku yang sama sekali tak bisa ku kembalikan terkadang membuat Angga sangat kesal. Banyak hal yang selalu ia curigai.
"Apaan sih, Anggia? Aku kerja bukan macam-macam. Kenapa sih kamu mikirkanya jauh banget?" Ia bertanya padaku dengan nada suara yang tinggi. Lantas aku tersenyum mendengar ucapan Angga.
"Jadi sekarang kalau aku nggak percaya, itu salah ku? Aku juga pengen deh kerja di luar biar bisa ketemu teman-teman di luar tanpa harus mengurung diri di rumah terus. Kamu happy kan bergaul bertemu banyak teman di luar sana. Kamu nggak pernah mikir aku yang stress di rumah." Tanpa bisa di kendalikan lagi kami berdua pun kembali beradu mulut.
Hubungan yang tak harmonis lagi kini tak terasa sudah berjalan sampai dua bulan. Dimana aku tak pernah berkomunikasi dengan Ayah. Aku berpikir mungkin ayah sangat marah padaku. Entahlah sampai kapan hubungan ku dengan ayah akan seperti ini.
Hari ini rasa rinduku tiba-tiba terasa pada kedua orangtuaku. Ingin sekali rasanya aku pulang. Tapi, lagi-lagi kendala ekonomi aku tak bisa pulang seenaknya. Bukan semata-mata aku hanya memikirkan uang, tapi ada masa depan keluarga yang juga harus ku pertimbangkan. Dimana kerjaanku tak akan bisa menghasilkan gaji yang maksimal karena perjalanan yang cukup jauh di tambah lelahku pasti akan membuat kerjaan tak bisa fokus.
"Sedang apa, Anggia?" Mamah menyapa ketika pertama kali sambungan vide call terhubung.
__ADS_1
"Istirahat kerja, Mah. Mamah makan siang yah?" tanyaku ketika melihat di layar itu Mamah sibuk menyiapkan makan di rumah tentu untuk ayah.
"Iya. Ini lagi makan ikan bakar sama Ica sama Ayahmu juga." Aku terdiam saat Mamah dengan sengaja mengarahkan layar ponsel pada Ayah. Dimana aku tak melihat Ayah tersenyum padaku.
"Gimana sudah hamil belum?" tiba-tiba Mamah kembali bertanya.
"Apa sih, Mah? Belum lah. Nanti-nanti aja aku lagi stress juga kasihan bayinya nanti tertekan." jawabku seolah menyindir Ayah saat itu.
Panggilan pun berakhir ketika Mamah pamit untuk makan siang. Aku sempat merasa rindu dengan keadaan rumah yang sering kali ku rasa tak nyaman. Tak di sangka jika saat jauh justru aku begitu merindukan suasana di rumah.
Sejak panggilan berakhir, pikiranku terus terbayang dengan ucapan Mamah yang memintaku untuk ke dokter program hamil. Dan ucapan Ayah yang ingin aku pulang karena rindu.
__ADS_1
"Huh sudahlah. Nanti saja, lagi pula Ayah juga sedang marah padaku. Ini semua gara-gara Angga." ujarku dalam hati mengingat tingkah suamiku.
Sejak tahun lalu kami berdua sudah menabung niat untuk pergi liburan. Berharap dengan adanya libuan hubungan kami bisa kembali membaik. Sayang, pekerjaannya selalu saja ada dan kami tak bisa mengambil cuti hingga waktu berjalan di bulan satu.
Suatu ketika, aku sedang fokus kerja di rumah seorang diri. Pikiranku penuh dengan alur ide cerita yang ingin aku buat.
"Mamah?" gumamku kala melihat ponsel yang ku letakkan di meja sampingku berdering. Segera aku mengangkat panggilan Mamah. Jujur semenjak pertengakaranku dengan Angga dan Ayah komunikasi dengan Mamah sudah jarang ku lakukan.
Terlalu kesal saat kedua orangtua ku justru membela suamiku yang benar-benar salah saat itu. Aku tahu apa yang Mamah dan Ayah lakukan semua demi keutuhan rumah tangga ku. Sejak kecil aku sudah tahu cara Mamah dan Ayah mendidik anak-anaknya. Sebenar apa pun anak mereka, tak akan pernah mereka bela. Bahkan ketika aku membuat masalah dengan temanku meski aku benar, Ayah tak akan segan memukulku.
Ayah tak akan pernah membela anaknya di depan anak orang lain, berharap orang lain itu akan melakukan hal yang sama agar anaknya bisa di didik dengan benar. Sayang hanya ada satu dari seribu orang tua yang mengerti akan didikan seperti itu.
__ADS_1
Mereka akan cenderung membela anak mereka sendiri-sendiri meski pun salah.