
Hari yang paling begitu sangat menyakitkan tiba. Bukan tidak bisa mengucap syukur, namun lebih ke rasa sangat sedih. Pagi ini aku meneteskan air mata setelah enam bulan kepergian Ayah, di depan mataku garis dua terlihat jelas. Tanganku gemetar memegang testpack yang baru saja aku pakai.
“Angga!” Aku berteriak histeris. Di kamar mandi aku tak berniat berdiri sama sekali. Pintu kamar mandi pun Angga buka dari luar yang kebetulan tidak aku kunci.
Angga benar-benar syok melihat aku menangis memeluknya. Sebelumnya aku memang sengaja memeriksa diam-diam darinya. Sebab sudah berapa kali aku melakukan tes di setiap bulannya namun selalu saja hasilnya nihil.
“Anggia, ada apa? Sayang, kenapa kau menangis seperti ini? Apa yang sakit?” Angga memelukku sembari memeriksa beberapa bagian tubuhku.
Aku hanya diam tanpa bisa menjawab. Rasa sedih dan bahagia kini datang di waktu yang bersamaan. Ingin sekali aku marah, mengapa ketika Ayah sudah pergi baru aku di berikan kepercayaan Tuhan mengandung.
__ADS_1
Bibirku bergetar menatap suamiku. “Aku hamil. Aku positif, Angga. Ayah tidak bisa melihatku hamil. Ayah tidak bisa melihat anakku. Ayah sudah pergi jauh.” Tangisku pecah di pagi buta ini.
Aku tahu tak seharusnya aku sedih seperti ini kala apa yang aku inginkan sudah Tuhan kasih. Tapi, di hatiku tetap saja rasanya begitu sesak sekali mendapat kebahagiaan tanpa Ayah bisa ikut merasakannya.
“Hamil?” Angga tersenyum memelukku. Ia meraih alat yang ku genggam sejak tadi. Ku lihat ia memelukku kembali semakin erat. Beberapa kali kepalaku di kecup olehnya bahkan mengucapkan terimakasih.
“Ayah sudah bahagia di sana, Anggia. Ayah sudah tahu tanpa kita beri tahu. Doakan Ayah bisa melihat cucunya meski dari atas sana. Ayah sudah senang semua yang dia inginkan kini terwujud.” Aku mengangguk mendengar ucapan Angga. Air mataku tak hentinya berjatuhan.
Sumpah demi apa pun rasanya aku ingin sekali terus berteriak marah. Tak percaya jika kepergian Ayah justru kami kedatangan anak yang tak kami sangka akan hadir saat ini.
__ADS_1
“Sehat yah, Sayang. Jangan banyak pikiran. Kita jangan kecewakan Ayah. Ayah percaya kita akan mewujudkan semua impian Ayah. Anak kita akan menjadi cucu yang baik kelak.” Tak ada kata yang mampu ku ucapkan dari ucapan Angga.
Pikiranku hanya sangat merindukan Ayah. Sosok yang paling bahagia jika mendengar kabar ini pasti adalah Ayah. Namun, kini Ayah tak lagi ada.
Sejak saat itu aku benar-benar sangat menjaga kandunganku. Aku takut sangat takut jika sampai calon anakku kembali pergi. Aku berusaha mengistirahatkan tubuh secukupnya. Semua pekerjaan tak ada lagi yang aku pikirkan. Hanya melakukan apa pun hal yang aku sukai tanpa membuat tubuhku lelah.
Mamah bahkan mengatur waktunya untuk sering mengunjungiku. Niat kami untuk sering mengunjungi Ibu di kota lain kini terhalang keadaan. Kandunganku yang lemah membuat semua orang tak berani memintaku bepergian jauh-jauh selain datang ke dokter untuk periksa.
“Aku sangat rindu Ayah. Kini aku akan menjadi orangtua, Ayah. Aku sudah tak punya Ayah lagi. Hanya Mamah yang tersisa dan juga Ibu. Tuhan panjangkan usia mereka dan beri mereka kesehatan. Ibu adalah wanita yang baik dan sangat mencintai Ayah. Maafkan semua perilaku Ayah yang meninggalkan Ibu serta Abang dahulu. Biarkan Ayah tenang di sana, Tuhan…”
__ADS_1