
Jauhnya jarak antara aku, mamah, dan ayah membuat kami kembali di satukan dengan sebuah musibah. Dimana ayah di larikan ke rumah sakit saat ini. Aku menangis kala paman menjemputku ke rumah sakit. Disana aku melihat ayah banyak di pasang alat-alat medis sembari berteriak-teriak. Mamah bahkan juga menangis meminta maaf terus menerus pada ayah. Entah aku tidak tahu apa yang terjadi. Di depanku aku melihat ayah meneteskan air mata dan mamah memeluknya. Aku benar-benar tidak tahu ada apa dengan mereka. Aku hanya berdiri menjaga adikku di samping ayah. Kini adikku sudah semakin besar. Terlihat ayah menutup matanya tak bisa mengendalikan pengaruh obat lagi.
Mamah terus menangis takut. Dokter mengatakan penyakit ayah sudah cukup serius. Alkohol yang sering ia konsumsi di masa muda dan rokok yang begitu ayah lakukan terus menerus membuat tubuhnya tak kuat lagi melawan sakit.
Jujur aku kecewa mendengarnya. Kenapa ayah begitu tidak sayang dengan tubuhnya. Bahkan ketika ayah sakit seperti ini usia kami masih sangat kecil. Kami tidak sanggup jika ayah pergi secepat ini.
“Anggia, kamu ke rumah pulang jaga adikmu yah? Mamah harus temani ayahmu di rumah sakit.” Tanpa membantah aku hanya bisa mengangguk. Adikku tidak mungkin tidur di rumah sakit. Akhirnya aku kembali pulang setelah mengusap kening ayah yang terpejam saat ini.
Mamah benar-benar kacau terlihat saat ini.
“Kak, ayah napa?” tanya adikku yang bernama Ica.
Aku pikir ia tahu sebab dari tadi air matanya nampak tergenang di kelopak mata. Ternyata air mata itu hanya tanda ia sedang terbawa suasana mamah yang menangis terus.
“Ayah sakit. Ica jangan nangis tidur sama kakak yah? Nanti ayah juga ikut nangis kalau ica nangis.” Patuh adikku menganggukkan kepalanya.
Seketika aku menjadi kakak yang baik untuk adikku. Mandi dan makan aku yang mengurusnya. Bisa di bilang aku memang sangat penyayang dengan anak kecil.
__ADS_1
Keesokan harinya kebetulan aku sudah libur semester lagi. Dimana aku bisa menjaga adikku. Aku tidak tahu mengapa di pagi sekali justru aku sudah mendengar paman memanggilku di depan rumah. Yah aku dan Ica saat ini memang tinggal di rumah ayah satu kota dengan tempatku tinggal sekolah.
“Anggia! Ica! Buka pintunya!” Teriakan serta gedoran di pintu rumah membuat adikku berlari kecil membuka pintu. Aku pun turut menyusul melihat paman berdiri dengan wajah cemasnya.
“Ada apa, Paman?” tanyaku.
“Cepat. Bereskan bawaan kalian. Kita ke rumah sakit. Ayahmu mau di rujuk ke luar kota.” Tanpa banyak bertanya lagi aku sudah berlari cepat ke kamar membawa tas yang sudah aku siapkan. Adikku ikut lari masuk ke mobil.
Dadaku terasa sangat sesak saat ini. Ketakutan semakin memenuhi pikiranku saat ini. Sungguh rasanya aku sangat takut. Sepanjang jalan aku menggenggam tangan adikku. Mobil begitu laju melesat menuju rumah sakit. Paman memang begitu sangat baik dan perhatian pada kami. Bahkan kami merasa sangat jarang memiliki keluarga yang rasa kasih sayangnya begitu besar dengan kami.
“Anggia,”
“Mamah,” mamah memelukku menangkup wajahku. Air matanya terus menetes aku lihat.
“Ayah tidak apa-apa kan, Mah?” tanya dengan air mata yang juga menetes.
Keluarga lainnya ikut melihat keadaan ayah saat ini.
__ADS_1
“Mamah harus berangkat bawa ayahmu ke rumah sakit. Kamu jaga Ica yah? Mamah percayakan sama kamu adikmu, Anggia.” Aku hanya bisa mengangguk tak berani komentar apa pun. Jujur aku bahkan ingin sekali ikut saat ini.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Mamah mungkin akan terbebani jika aku ikut bersama adikku. Aku mengalah untuk tetap tinggal menunggu kabar baik ayah di sana. Kami mengiringi ambulance yang sangat laju ke bandara. Di sana teman ayah suami istri juga ikut mengantar sampai rumah sakit yang di tuju. Mereka benar-benar orang yang sangat baik. Aku benar-benar bersyukur melihat ayah memiliki teman satu orang sebaik mereka. Bahkan mamah bicara jika tiket pesawat pun mereka bayar sendiri tanpa mau mamah bayar. Mereka tulus ingin mengantar ayah sampai di rumah sakit tujuan.
“Ayah, yang kuat. Ayah pasti sembuh.” Di depan bandara aku memeluk mencium kening ayah sebelum mobil ambulance menuju pesawat. Ku lihat wajah pucat ayah hanya mengangguk dan meneteskan air mata. Aku tahu jika yang paling ayah pikirkan saat ini adalah Ica. Anak yang paling kecil dan ayah paling takut pergi jika adikku masih kecil.
“Jaga adikmu, Anggia. Jaga perhatikan dia. Jangan di buat menangis.” Aku tak kuasa menahan tangis mendengar ucapan ayah.
Tuhan, jangan biarkan ini menjadi moment terakhir aku bertemu ayah. Sekeras apa pun ayah, aku tetap tidak siap kehilangan ayah. Aku belum siap hidup tanpa satu orangtua.
Sepanjang menunggu pesawat berangkat mengantar ayah, aku hanya bisa menangis menatap lapangan yang memang terlihat dari arah luar samping bandara. Disana semua mulai masuk. Dokter, suster, mamah dan juga teman ayah mereka masuk ke pesawat. Perlahan aku melihat benda besi itu mulai bergerak dan menapaki ketinggian. Hingga tertutup awan ketakutan ku pun hanya bisa ku bawa pulang ke rumah.
Ica yang usianya memang masih terbilang kecil, terkadang suka menangis. Aku hanya bisa menghibur dengan membawanya berjalan keliling membelikan kutex. Yah, adikku sangat suka mewarnai kuku tangannya. Setiap hari kala sore tiba adikku pasti akan menagih berbelanja kutex. Aku tidak keberatan selagi dia mau tetap tinggal bersamaku. Sesekali mamah menelpon menanyakan Ica.
Bahkan di sana ketiga abangku sudah datang. Mereka anak dari istri pertama ayah. Mamah bercerita kedatangan abang dan ibu di sambut senang oleh ayah. Bahkan mamah mengirimkan foto mereka di sana. Satu minggu di rawat keadaan ayah kian membaik. Aku pun lega mendengarnya.
Berharap ayah dan mamah segera pulang dan kami semua hidup tenang. Semoga ini kali pertama untuk ayah sakit yang sangat menakutkan. Aku tidak ingin ada waktu lain lagi. Aku tidak mau mendengar ayah kesakitan lagi. Tak apa jika aku harus sakit dengan semua perlakuan ayah padaku. Aku tidak akan rela apa pun menyakiti tubuh ayah. Sudah cukup ayah kelelahan dalam bekerja di usianya yang tua. Aku tidak sanggup jika ayah harus melawan penyakit di tubuhnya yang tua itu.
__ADS_1