
Waktu yang ku nantikan kini akhirnya tiba. Angga ikut bersamaku dan juga bayi yang sudah lahir dari rahimku. Bayi tampan yang tampak menggeliat di gendonganku. Akr mataku menetes kala Angga memelukku. Aku benar-benar tak kuasa menahan sedihku kali ini. Di depanku nama Ayah terukir indah dengan karya tangan orang.
“Ayah sudah bahagia. Jangan menangis di depan Ayah. Cucu yang Ayah inginkan sudah Ayah lihat, Anggia.” Aku tak sanggup berkata apa pun. Hanya kepalaku saja yang mengangguk.
Angga benar, Ayah sudah bahagia melihat aku datang bersama suami dan anakku.
“Tolong gendong Raja sebentar.” pintahku. Segera setelahnya aku bergerak maju memeluk nisan Ayah.
Ku tumpahkan semua sedihku kali ini dan rasa rinduku pada Ayah. Kini aku sudah benar-benar menjadi seorang Ibu seperti yang Ayah tunggu selama hidupnya.
“Ayah! Aku sudah punya anak. Aku sudah kasih Ayah cucu. Ayah bisa kan lihat kami? Aku rindu Ayah. Tolong katakan jika ini adalah mimpi, Ayah. Tolong kembalilah pada kami.” Sepanjang berkata aku terus berteriak.
Sembilan bulan kehamilanku, waktu cukup lama untukku tidak bisa mengunjungi makam Ayah. Dan kini aku datang bersama anakku. Anak dan juga suamiku.
Sumpah demi apa pun ini adalah momen yang tak pernah terlintas di pikiranku selama ini. Dulu sejak kecil aku hanya berpikir kelak ketika aku dewasa siapakah yang menjadi suamiku. Sebab Ayah begitu sulit membiarkan aku dekat dengan teman pria.
__ADS_1
Kini keluarga kecilku datang menemui Ayah untuk melepas rindu. Rindu yang hanya bisa teribati dengan doa, menatap nama di nisan serta melepas rindu dengan berdoa agar bertemu di mimpi.
“Anggia, Angga, sini Raja biar sama Mamah.” Aku dan Angga menoleh melihat kedatangan Mamah, adikku Ica serta ketiga abangku.
Tak pernah bisa terbayangkan jika kami akan berkumpul di tempat peristirahatan terakhir Ayah.
Aku meneteskan air mata tanpa henti. Ku peluk Mamah yang juga meneteskan air mata memandangi anakku yang tidur bergantian menatap makam Ayah.
“Ayah sudah tenang. Maka dari itu kita harus tetap saling menyayangi meski pun Ayah kalian sudah tiada. Jangan buat dia sedih.” Mamah berucap sembari memejamkan mata menahan sesak di dadanya.
“Iya, Bu. Kami akan tetap menyayangi kalian seperti Ayah masih ada. Kita semua adalah keluarga yang Tuhan pertemukan dengan cara yang tidak biasa. Kita harus tetap rukun agar Ayah pun tersenyum tenang melihat kita seperti ini.” Ucapan dari Abang nomor satu membuat aku sangat sedih.
Ayah benar-benar hebat memiliki anak yang sangat bijak. Di sini keadaan Ica yang masih begitu kecil membuat kami semua berjanji dengan Mamah untuk mengarahkan adik kecil kami agar jadi anak yang sukses seperti keinginan Ayah sebelum pergi.
Ayah ingin anak-anaknya berguna untuk orang yang susah dan membutuhkan bantuannya.
__ADS_1
“Tuhan, terimakasih telah mempertemukan dua keluarga ini dengan cara yang berbeda. Tapi, kami tetap bersyukur dengan cara apa pun itu. Sebab kau telah mempertemukan kami dengan orang yang memiliki hati yang begitu lapang.” Doaku dalam langkah pulang meninggalkan makam Ayah yang tampak indah dengan taburan bunga.
Beberapa buket bunga pun terlihat berjajar di atas makam Ayah. Kami semua mencintai Ayah dengan sikap tegasnya dan kerasnya.
Ayah, I love you. I miss you. Banyak kata yang tidak bisa aku ucapkan pada Ayah selama dua puluh lima tahun bersama Ayah. Maafkan anakmu ini yang begitu banyak menaruh luka di hatimu. Tapi, sejujurnya aku sangat ingin sering bisa mengatakan cinta pada Ayah. Ingin memeluk dan bercanda tawa dengan Ayah yang kini tak bisa lagi aku inginkan. Ayah sudah pergi tanpa sempat aku memiliki keberanian dekat dengan Ayah.
Bukan jarak dan waktu yang membuat kita jauh selama dua puluh lima tahun ini. Tapi, sikap kita yang sama-sama keras membuat kita sangat jauh dan kaku. Kini penyesalan yang aku rasakan tentu tak akan bisa merubah apa pun selain berdoa kelak kita bertemu lagi di kehidupan selanjutnya.
Terimakasih Ayah untuk semua didikan yang kau berikan. Atas kasih yang besar kau beri untuk kami semua. Tanpa rasa bosan aku ingin selalu mengatakan aku rindu, Ayah. Aku ingin menjadi bocah kecil yang begitu takut dengan Ayah. Ketika sakit aku begitu kau manja, Ayah. Andai waktu bisa terulang. Namun, saat ini aku sudah tumbuh menjadi anak Ayah yang sudah berstatus istri orang. Dimana aku adalah milik suamiku.
Tenanglah di surga sana untuk Ayahku. Kebaikanmu yang begitu mulia banyak membantu orang susah aku yakin akan menjadikan jalan Ayah mudah di alam sana. Mamah akan kami jaga untuk Ayah. Adik akan kami sayang seperti Ayah yang begitu sayang dengan Ica.
Tamat.
Terimakasih untuk banyak dukungan para pembaca. Novel ini di angkat dengan cerita kisah nyata dimana author spesial menulis agar mendapatkan uang khusus untuk membantu kuburan Ayah. Mohon maaf jika banyak kurangnya. Author menulis ini tidak mudah dengan rasa kesedihan yang masih melekat jelas setiap kali membayangkan kejadian demi kejadian bersama Ayah. Sekali lagi author ucapkan banyak terimakasih. 🙏🏻
__ADS_1