
Malam minggu seperti biasa, aku dan Angga akan berjalan-jalan berusaha mendekatkan diri kembali. Meski pada dasarnya kepercayaan yang aku miliki akan sulit untuk di kembalikan.
"Anggia, kenapa perasaanku tak enak seperti ini yah?" tanya Angga kala kami di atas motor.
Hidup kami memang sangat sederhana, tak ada rumah besar dan kendaraan mewah yang kami miliki. Tapi, itu semua sudah lebih dari cukup menurutku. Meski aku di besarkan dengan kehidupan yang berlebih sejak ayah mendapat kerjaan yang bagus.
Pernah berada di titik paling sulit untuk membeli apa pun yang aku inginkan, tumbuh dewasa aku tak begitu sulit mengendalikan diriku yang ingin sekali belanja ini dan itu.
"Mungkin ada kerjaan penting kali yang harus kamu kerjakan besok atau malam ini." ujarku menduga.
Sepanjang jalan Angga pun terus saja berkata tentang perasaannya yang gelisah. Hingga waktu berjalan tepat pada pukul sepuluh malam di mana kami sudah kembali ke rumah. Ponselku berdering kembali. Sebelumnya memang Mamah sempat menghubungi aku mengatakan jika ayah sakit dan sudah di bawa ke rumah sakit.
Seperti biasa ayah akan masuk rumah sakit dan kembali keluar setelah mendapat pertolongan dokter. Niatku untuk pulang besok masih belum pasti. Sebab Ayah sering kali sakit dan kembali jalan-jalan ke esokan harinya. Kesibukan sejak dulu membuat Ayah tak akan betah jika harus berlama-lama di rawat di rumah sakit.
"Iya, Mah?" sahutku menyapa ketika ponselku ku angkat.
"Kamu jadi pulang besok kan? Ayahmu sudah di ruangan ICU saat ini." Mendadak pikiranku tak tenang mendengar Ayah di pindahkan ke ruangan ICU.
Ku lihat Angga yang menunggu penjelasan dariku. "Iya, Mah. Aku besok pagi berangkat. Malam ini juga aku cari tiket." jawabku.
Saat panggilan terputus aku segera menghubungi orang yang sedang bersama Mamah di rumah sakit. Pikiranku semakin gelisah rasanya. Semoga Ayah segera kembali pulih.
"Halo, Abang bagaimana Ayah? Kata dokter apa penyebabnya?" tanyaku.
"Anggia, Ayahmu terkena gejala stroke." Saat itu bibirku ku bungkam dengan tangan yang sudah gemetar. Jauh dari prediksi Ayah tiba-tiba mendapat gejala stroke.
__ADS_1
Air mataku menetes ketika berbicara pada orang di seberang telepon itu. Aku memintanya untuk menemani Mamah di rumah sakit dan terus memberikan aku kabar jika ada sesuatu yang terjadi pada Ayah. Setelah panggilan terputus aku pun menceritakan pada Angga. Dan segera aku berkemas untuk berangkat besok pagi setelah mendapat tiket penerbangan pertama.
Pikiranku satu malaman tak tenang memikirkan Ayah yang terkena stroke. Rasanya sulit percaya melihat selama ini Ayah begitu kuat.
Singkat cerita kini aku sudah tiba di rumah sakit dari bandara dengan koper yang ku bawa. Tak ku hiraukan jika barangku akan menjadi pusat perhatian orang di rumah sakit. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Ayah. Sepanjang jalan menuju ruuangan ICU air mataku tak henti menetes. Bayangan segala hal yang tak bisa ku percaya membuat aku tak kuasa menahan diri. Akhirnya aku berlari hingga sampai di depan ruang ICU. Mamah datang memelukku dengan air mata yang berjatuhan.
Aku merasa penasaran sampai seburuk apa yang terjadi pada Ayah? Mengapa Mamah sampai sesedih ini? Segera aku pun membersihkan diri di toilet dan masuk ke ruangan ICU.
"Ayah?" bibirku bergetar melihat pertama kali keadaan Ayah yang sudah kurus tak buncit seperti dulu lagi.
Ku peluk, ku cium punggung tangan Ayah dan ku usap kening yang lembab itu. Ayah susah payah membuka matanya dan meneteskan air mata. Aku menangis.
"Ayah, maafkan Anggia. Maafkkan Anggia, Ayah." Tangisku pecah di dada polos Ayah yang hanya berlapis selimut rumah sakit.
Hatiku sangat sakit rasanya melihat Ayah seperti ini. Aku benar-benar tak tega melihat Ayah kesakitan seperti ini.
Segera ku genggam tangannya, dan Mamah dari arah pintu datang mendekati aku.
"Ayahmu sudah tidak bisa bicara lagi, Anggia. Mamah datang pun cuman bisa nangis saja." Aku menggeleng tak percaya dengan semua ini.
Dimana Ayah yang selalu kuat berteriak? Dimana Ayahku yang tak pernah terlihat diam seperti ini? Selalu sibuk dengan kegiatan apa pun yang ingin ia lakukan. Mamah begitu sedih melihat Ayah, meski hubungan mereka tak seharmonis suami istri pada umumnya tapi Mamah tak akan pernah mau melihat Ayah jatuh sakit seperti ini. Tubuh yang tua itu tak mungkin kami bisa tega melihatnya kesakitan. Tubuh yang sakit-sakitan demi masa depan kami semua, kini telah tumbang.
"Ayah harus sembuh yah? Anggia belum hamil. Ayah harus sembuh buat kita. Anggia akan jaga dan rawat Ayah yang penting Ayah bertahan yah?" Air mata Ayah kembali menetes.
Kali ini adalah kali pertama aku merasakan hatiku begitu hancur melihat orang yang sering membuat hatiku nyeri justru tak bisa mengeluarkan suara apa pun selain membuka mata dan mengangguk.
__ADS_1
Sejak kedatanganku saat itu aku selalu bolak balik ke ruangan Ayah. Selama dokter mengijinkan aku terus mengambil kesempatan itu. Bahkan aku tak akan tidur sebelum jam besuk habis.
Ini adalah malam pertama aku tidur di rumah sakit. Adikku Ica sudah datang dan juga Abangku yang terakhir juga datang di hari yang sama denganku. Kami saling bergantian mengunjungi Ayah.
Setiap masuk ruangan ICU, aku dan Ica selalu berdoa dan menggenggam tangan Ayah. Malam ini suhu tubuh Ayah cukup tinggi. Dokter pun kembali menyuntikkan obat pada infusan Ayah.
"Tuhan, cabutlah sakit Ayah. Sudah cukup selama hidup ini Ayah menderita karena sakitnya. Aku mohon, Tuhan. Berikan kesempatan Ayah sembuh dan aku akan menjaga Ayah, Tuhan." Panjang aku berdoa selama di ruangan itu.
Sampai pada akhirnya pagi hari kami bangun. Ku lihat jam masih di angka enam. Aku buru-buru mandi ke tempat Paman, setelah itu Aku, Abang, dan Ica segera ke rumah sakit kembali bergantian dengan Mamah untuk mandi.
Hari kedua aku bersama Ayah, keadaan Ayah masih tak ada perubahan. Dokter bahkan memberi pilihan untuk Ayah mendapat bantuan pernapafasan namun tak bisa di temui, bahkan hal itu pun tak bisa merubah keadaan Ayah. Hanya membantu bertahan saja.
"Dok, apa hanya itu pilihannya? Tidak ada jalan untuk operasi, Dok?" tanyaku dengan rasa lemas tak berdaya.
Dokter di depan menggeleng. "Bapak sudah mengalami kerusakan saraf yang parah, Mba. Itu sebabnya tak ada jalan apa pun. Operasi bukan jalan yang harus kita tempuh. Tidak ada yang harus di operasi karena ini sudah rusak dan sarafnya tak bisa lagi mengendalikan bagian tubuh. Bahkan suhu tubuhnya pun tidak bisa lagi di bantu oleh obat untuk turun. Dimana siistem saraf pengendali ini semua tak bisa berfungsi lagi." Aku menunduk meneteskan air mata.
Pagi yang benar-benar buruk menjadi hari seperti mimpi untukku. Mamah pun ikut menangis di sampingku saat ini. Rasanya aku benar-benar ingin marah pada keadaan.
"Mengapa tak ada jalan yang bisa menjadi pilihan kami untuk Ayah saat ini, Tuhan?" Hanya mampu aku berteriak dalam hati.
"Anggia, sudah. Ayo kita keluar." Mamah menarik tanganku dari ruangan dokter.
Sampai di luar segera aku menghubungi abangku yang belum datang. Masih ada dua lagi. Aku mengirim pesan pada mereka untuk segera datang. Entah mengapa feelingku begitu terasa ingin semua keluarga berkumpul hari ini.
Suhu tubuhku yang semakin panas tak ku hiraukan sama sekali. Aku sedang tidak sehat. Satu minggu ini aku memang drop. Itulah yang membuat Angga sempat berat memberiku ijin untuk pulang.
__ADS_1