25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Penyesalan Semakin Dalam


__ADS_3

Dua mingg pikiranku tak kunjung tenangg usai menjalani pemeriksaan pertama. Meski berkali-kali Angga meminta padaku untuk tenang. Namun, ketakutan terus saja menghantui pikiranku. Susah payah aku mendapatkan kehamilan ini bagaimana mungkin hal buruk justru menimpa janinku. Aku tahu jika di luar sana begitu banyak orang yang berjuang jauh lebih keras dariku. Tapi, aku hanya manusia biasa yang bisa sakit ketika apa yang ku harapkan bisa ku dapatkan namun mendapat ujian di waktu yang bersamaan.


Dan kini adalah hari dimana aku dan Angga akan kembali ke dokter memeriksakan kandungan. Sepanjang malam aku terus berdoa memohon pada sang kuasa untuk memberikan kabar baik. Semalaman bahkan tidurku tak bisa tenang sedikit pun.


"Semua pasti baik-baik saja." di genggang erat tanganku oleh Angga saat namaku di panggil oleh suster.


Ruangan dokter yang akan memeriksa kami pun di buka dan masuklah aku dengan mata yang terpejam ketika berdoa. Harapanku hanya satu yaitu anakku baik-baik saja dan bisa melahirkan dengan waktu yang tepat.


"Nyonya Anggia, silahkan berbaring." asisten dari dokter itu memerintahku. Segera aku berbaring dengan Angga yang duduk di hadapan dokter saat ini.


Alat usg tampak bergerak di atas perutku yang sudah di berikan gel. Tatapanku terus tertuju pada monitor di depan sana. Dadaku berdetak begitu kencang kala aku memikirkan apa yang akan dokter katakan lagi hari ini. Sejenak keheningan di ruangan pun terjadi hingga wajah dokter tersenyum menghela napas.


"Wah syukurlah semuanya baik-baik saja. Lihat itu kantung janinnya sudah kelihatan. Aman yah? Semuanya berkembang dengan baik." aku pun yang mendengar ucapan dokter berkali-kali mengucap syukur. Tak pernah ku harapkan berita buruk keluar dari mulut sang dokter.


Kami pulang setelah menyelesaikan administrasi.


"Uang tabungan kita menipis. Gimana kita di suruh dokter harus rajin kontrol sedangkan tabungan pasti juga kita butuhkan saat melahirkan nanti." di jalan pulang aku berbicara pada suamiku.


Selama menikah enam bulan aku berinisiatif menabung tiap kali Angga memberikan aku uang untuk dapur.


"Sudah pasti nanti bisa kok. Aku akan nabung juga uang makan di luar buat anak kita nanti." Aku tersenyum lega mendengar ucapan suamiku.


Biaya periksa di rumah sakit memang sangat mahal tak seperti periksa di luar rumah sakit. Namun, kami saat ini belum pernah mendapatkan rekomendasi tempat yang bisa kami percaya.


Angga yang ingin segera langsung kerja hari ini terhenti niatnya kala mendengar aku memanggilnya di dalam rumah.


"Angga, tunggu sebentar." panggilku.


"Ada apa?" aku melihatkan layar ponsel milikku yang menunjukkan nama ayah tengah menghubungiku. Entah mengapa rasanya begitu jarang sekali ayah menghubungi aku.


Segera ku angkat panggilan itu dan terdengarlah ayah memanggil namaku. "Anggia,"

__ADS_1


"Iya, Ayah?" aku menyahut dengan rasa takut.


Meski aku sudah tumbuh dewasa dan menikah, rasa takutku pada ayah masih belum bisa sepenuhnya hilang. Ayah yang selalu keras padaku untuk kebaikanku justru membuat aku tak bisa merasakan kehangatan dari sosok ayah.


"Bagaimana kandungannya? Sehat? Ingat, makan makanan yang bergizi. Jangan terlalu di paksa kerja itu. Ayah bayarkan pembantu kerja di rumahmu yah?" lagi ayah menawarkan hal yang sama seperti yang mamah inginkan.


Andai aku menjadi anak yang sukses mungkin aku yang akan melakukan itu untuk ayah dan mamah. Di sini kehidupanku benar-benar pas-pasan untuk makan. Sedih rasanya mengingat semua impian ayah selama ini untuk melihat anaknya sukses. Kini aku tahu apa gunanya menjadi orang sukses. Dan apa perbandingan orang yang memilih sukses dan hidup sederhan.


Sedari kecil aku sering kali melihat bagaimana ayah dan mamah yang sama-sama sibuk kerja sampai tak memiliki waktu untuk bersamaku. Dan sejak itu aku berpikir ingin sekali menjadi orang yang sederhana meski kehidupanku cukup tapi keluargaku bisa menikmati waktu bersama.


Tapi, saat ini semua pikiran itu jauh berbeda. Dimana aku ingin menjadi wanita yang sukses agar bisa membantu kedua orangtuaku tanpa memikirkan jumlah uang dan bisa berguna bagi banyak orang. Sering kali aku melihat orang yang bernasib kasihan. Ingin membantu mereka tanpa memikirkan nominal yang ku berikan. Tapi, semuanya tinggal keinginan. Sebab aku saat ini hanya bisa menjadi istri yang bekerja dari rumah. Penghasilanku memang tidak begitu besar, tapi jika di setarakan dengan para temanku yang bekerja di beberapa perusahaan justru penghasilanku sedikit lebih besar.


Itu sebabnya Angga pun melarang aku untuk kerja di luar. Selain khawatir dengan pergaulanku, ia berpikir aku bekerja di luar hanya membuat tubuhku semakin lelah saja.


Ucapan ayah yang menawarkan aku jasa pelayan pun kembali ku tolak. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Dan berjanji akan menjaga kandunganku dengan baik. Ayah pun tak bisa berkata apa pun lagi dengan semua keputusanku. Tentu ayah menghargai suamiku yang sudah menjadi kepala rumah tangga.


"Yasudah kalau begitu ayah kirim uang itu. Lihat mbangking mu yah? Makan semua yang kamu mau jangan di tahan-tahan. Ayah mau keluar dulu ini." panggilan pun terputus ketika aku menjawab iya.


"Ada apa?" Angga bertanya mendekati aku.


"Ayah kirim uang katanya buat aku periksa sama makan yang mau akan makan." jawabku dengan santai sambil melihat ponselku. Awalnya aku tersenyum melihat nominal yang ayah kirim.


"Berapa?" tanya Angga yang penasaran tentunya.


"Sejuta." jawabku namun di detik berikutnya wajahnya terkejut. Mataku membulat sempurna dan ku bekap mulutku dengan tangan yang satunya.


"Angga, bukan sejuta!" Suara ku mendadak histeris melihat angka yang terasa seperti mimpi untukku. Air mataku jatuh begitu saja melihat nominal yang begitu banyak menurutku.


"Terus berapa?" Angga pun bertanya lagi.


Aku tak menjawab justru memilih langsung menghubungi ayah. Panggilan pun tersambung.

__ADS_1


"Ayah kenapa banyak betul? Ayah nggak salah kirim?" aku bertanya sebab rasanya seperti mimpi melihat nominal yang ayah kirimkan.


"Kenapa? Itu kan buat periksa, makan sama keperluan mu selama hamil. Itu masih dp. Nanti kalau sudah melahirkan ayah kasih lagi."


Aku menangis tubuhku gemetar mendegar ucapan ayah. Sungguh tak pernah ku bayangkan ayah memberiku uang senilah sepuluh juta dengan begitu mudahnya.


"Ayah Anggia kembalikan separuhnya yah? Itu terlalu banyak. Buat ayah periksa saja uangnya. Kami ada uang kok buat periksa. Sudah ada tabungan juga." meski sebenarnya itu tidak begitu cukup. Tapi, aku ingin ayah tenang tanpa memikirkan keuanganku dengan Angga di sini.


"Jangan di tolak. Itu ayah berikan yah berarti rejeki anakmu. Ayah mau belikan mobil pun kamu nggak mau. Sudah cukup kalau uang buat ayah sama mamahmu di sini." Berulang kali aku mengucapkan terimakasih pada ayah. Beberapa kali aku menyeka air mata terharu.


Mengapa ayah begitu baik padaku dan Angga? padahal pernikahan kami awalnya tak mendapat restu dari ayah.


Hingga akhirnya sambungan telepon pun berakhir. Air mataku masih saja menetes mengingat ayah. Di saat sakitnya yang parah di saat tubuhnya susah payah menahan sakit, ayah justru memikirkan kehidupanku yang tak lagi pernah meminta uang jajan padanya.


Ayah, maafkan Anggia. Maafkan Anggia yang begitu keras pada ayah. Andai waktu bisa di ulang Anggia ingin menghabiskan waktu dengan menjadi anak yang patuh pada ayah. Sekarang di saat Anggia sadar semua kebaikan ayah, Anggia justru sudah menjadi istri orang. Dan tidak bisa ayah atur-atur lagi.


Semakin ayah baik, hatiku semakin ngilu. Aku merasa benar-benar menjadi anak yang sangat berdosa pada ayah. Seharusnya aku bisa memaksakan diri untuk selalu menjadi juara kelas. Dengan begitu ayah pasti akan terus bangga padaku. Sayang, kemampuanku sudah tak bisa ku paksakan lagi. Terlalu besar godaan bermain dengan teman-teman di luar sana.


Angg yang melihat aku terisak duduk di sofa mendekati aku dan memeluk tubuhku. Ia berusaha membuat aku tenang.


"Anggia, ayah sudah senang bisa mendapatkan cucu. Sekarang tugas kita menjaga calon anak kita dengan baik. Jangan kecewakan ayah." aku mengangguk meski suara tangisku terdengar terisak.


"Aku belum bisa kasih ayah apa-apa." suaraku tercekat kala mengucapkan hal itu.


Satu bulan setelah kejadian tersebut, ayah menelponku kembali untuk mengatakan jika adikku akan berlibur ke kota tempatku tinggal dengan Angga. Aku sangat senang, Ica yang sudah besar tentu menjadi temanku di rumah. Antusiasku membuat aku kekeuh ingin menjemput adikku di kota c. Pukul enam sore tepatnya malam minggu aku dan Angga mengendarai mobil yang di pinjamkan kantor untuk menjemput adikku.


"Loh kenapa ikut? Kamu bisa tunggu Ica di rumah kan? Biar Angga yang jemput saja." itulah ucapan ayah yang membuat aku serba salah.


"Nggak apa-apa, Ayah. Kan kasihan Ica di jemput Angga aja. Kalau ada aku pasti dia senang." tuturku bersemangat. Dan lagi-lagi ayah hanya pasrah tanpa komentar apa pun.


Malam yang semakin larut kami lewati dengan penuh candaan sepanjang jalan. Saat ini usia kandunganku sudah berjalan tiga bulan. Dimana bagian-bagian tubuhku terasa mulai berisi. Tak ada rasa mual sedikit pun ku rasakan. Justru makan semakin lahap saat ini.

__ADS_1


__ADS_2