
“Anggia, pulanglah tempat Paman. Kamu harus istirahat. Tubuhmu sudah nggak kuat di sini.” Aku menggelengkan kepala mendengar ucapan Paman.
Tidak. Bagaimana aku bisa pulang dan istirahat sedang di sini Ayah sedang bertaruh nyawa. Aku keras kepala kali ini. Aku tidak ingin ada penyesalan terhadi.
Sudah dua hari aku berada di rumah sakit. Dan ini adalah hari paling berat untukku. Dimana sejak pagi, aku dan Mamah terus bergantian menangis melihat kondisi ayah sang menakutkan.
Tingkat kesadaran Ayah semakin menurun. Suhu tubuhnya sangat panas, bahkan tangan Ayah yang di infus pun membengkak akibat menolak obat. Perasaanku semakin tak nyaman.
Di ruangan ICU kini aku duduk sepanjang waktu besuk. Ku perhatian setiap gerakan napas di perut Ayah yang tak panjang. Air mataku kembali menetes.
“Tuhan, Ayahku kesakitan. Tolong jangan buat Ayah seperti ini. Aku memohon Tuhan lakukanlah apa yang baik menurutMu, Tuhan. Aku percaya semua takdirmu yang terbaik untuk Ayah.” Ku pejamkan kedua mataku meneteskan air mata.
Ingin aku menangis kuat, tapi aku tak tega jika Ayah sampai terbangun dengan suaraku. Sesak sekali melihat Ayah hanya berbaring tanpa bicara seperti ini. Biasa Ayah akan berbicara mengeluhkan sakit di tubuhnya. Kali ini tidak. Ayah benar-benar tak berdaya.
“Ica, kasih tau Kak Angga yah Dek, suruh ke sini cepat. Ayah sudah menurun kesadarannya.” pintahku pada Ica.
__ADS_1
Adikku patuh keluar dari ruang Icu dan mengirim pesan pada suamiku. Aku tak lagi persuli pada ponselku saat ini.
Tak lama mamah pun ikut masuk ke ruang ICU. Ku genggam tangan Mamah berusaha menguatkan.
Apa jadinya Mamah tanpa Ayah kelak? Tak pernah terlintas di benakku akan hal ini. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kami semua tanpa sosok pelingung.
Satu harian kami habiskan menangis sampai di malam hari keadaan Ayah kembali membaik. Aku dan Mamah sudah merasa lega. Abang Ajun yang menemani kami di rumah sakit pun berencana akan kembali besok sebab Ibu pun juga tengah sakit di kota lain.
Meski berat kami melepas kepulangan Abang, tapi kami tak bisa egois. Ada Ibu yang sangat membutuhkan Abang di sana.
“Keadaan pasien kembali menurun.” Aku lemas mendengar ucapan perawat yang memberikan obat pada Ayah.
Sejak itu aku terus duduk bersampingan dengan Ica berdoa untuk keajaiban dari Tuhan.
“Tuhan, beri aku kesempatan menata hubunganku kembali dengan Ayah sebelum Ayah pergi. Aku mohon…” doaku benar-benar sangat ku harapkan mendapat jawaban yang sesuai.
__ADS_1
Lama aku berdua dengan Ica di dalam. Kami menggenggam kedua tangan Ayah. Terkadang kaki Ayah kami pijat pelan. Itu yang sering Ayah minta padaku, ia akan meminta di pijat karena sering merasa pegal.
Air mataku tak bisa berhenti hari ini. Entah mengapa firasatku begitu kuat tentang sesuatu yang akan terjadi.
“Sayang,” di depan pintu ku lihat Angga datang.
Adikku Ica segera keluar sebab pengunjung di ruangan ICU sangat di batasi.
Aku menangis Angga memelukku sembari mengusap pundak Ayah yang polos tanpa baju.
“Ayah pasti sembuh. Berdoa yah? Tuhan bisa kasih keajaiban untuk Ayah,” Aku hanya bisa mengangguk mendengar ucapan Angga.
Entah mengapa tiap kali melihat napas Ayah, pikiranku terdorong untuk menuntun Ayah membaca kalimat sahadat. Rasanya aku tak percaya dengan pikiranku saat ini. Aku menahan diri berusaha berbaik sangka pada takdir Ayah.
“Tidak. Ayah pasti masih bertahan. Nggak mungkin Ayah nunggu aku tuntun baca shadat.” ujarku dalam hati.
__ADS_1