
Sejak kejadian aku pingsan saat itu ayah benar-benar memperhatikan pola makanku. Setiap kali aku sibuk kerja di kamar ayah sering masuk memanggil makan. Bahkan semua sayuran yang tidak suka aku konsumsi terpaksa aku makan di depan ayah. Begitu pun dengan Ica adikku. Ia hanya suka makan beberapa macam sayuran, karena ayah menegur kami berdua pun tak berani lagi melawan.
Momen dimana kami selalu makan bersama mungkin kelak akan sangat ku rindukan ketika aku tak lagi tinggal di rumah. Tapi, tak apa. Mungkin dengan aku menikah ayah berkurang beban pikirannya. Dimana ayah tak akan lagi terus mencemaskan aku ketika di luar sana. Tinggal adikku Ica yang akan ayah pikirkan untuk menjaganya sampai menikah kelak.
Aku akui ayah benar-benar sangat keras dalam mendidik. Tapi dalam hati kecil aku bisa melihat ketulusan yang ayah berikan pada kami. Sangat berbeda dengan ayah kebanyakan temanku. Sedikit pun ayah tidak pernah mau jika anaknya kelelahan atau sakit. Ia akan melakukan segala cara untuk aku dan Ica bisa hidup nyaman. Bahkan di luar sana aku sering mendapati teman-temanku yang terpaksa jarang turun sekolah demi ikut orangtuanya mencari uang dengan pergi ke laut memburu ikan dan lain sebagainya.
Di kelas sering aku melihat temanku berganti-gantian bolos sekolah. Sedangkan aku tak pernah sekali pun meninggalkan kelas ketika jam pelajaran belum usai.
Hingga semua terlewatkan dengan baik meski sering kali aku tak bisa mengontrol rasa kesalku pada ayah. Pada akhirnya itu semua kembali terlupakan dan ayah tetaplah sosok ayah yang begitu baik untukku dan keluarga.
Perjuangan panjang ayah menjagaku tak terasa kini akan berakhir. Dimana aku sudah bersiap di ruangan kamar salah satu yang ada di hotel mewah ini. Perjuangan panjang aku dan Angga mengurus segala jalan pernikahan akhirnya usai. Dan ini adalah hari dimana janji suci akan kami ucapkan untuk menjadi sumpah pernikahan kami.
__ADS_1
"Ingat Anggia. Dalam hal apa pun jangan pernah berbicara nada tinggi pada suamimu kelak. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu berlaku seperti itu. Apa pun yang terjadi jangan pernah membuat Angga berpikir jika ayah tidak mendidik anaknya. Jangan membuat malu keluarga. Ingat itu!" sebelum prosesi pernikahan berlangsung ayah masuk ke ruangan dimana aku tengah di make up. Semua yang ada di kamar itu pun mendengar apa yang ayah tegaskan padaku.
Sebab aku tahu ayah paling tidak suka jika seorang wanita berani membentak atau memerintah suaminya. Dan aku hanya bisa mengangguk patuh pada perintah ayah. Pun demikian denganku yang berharap tak akan ada hal yang membuat aku marah pada Angga. Sebab aku sangat mengenal diriku sendiri yang terkadang sulit mengontrol emosi ketika marah.
Setelah banyak ayah memberikan wejangan padaku, ia pun keluar dengan penampilan gagah menggunakan jas hitam serta dasi dan jangan lupakan ulos yang tersampir di bahu kanannya. Mamah pun berjalan mendekat ke arahku dimana adikku Ica pun turut mengabadikan momen di kamar ini. Beberapa kali mamah meminta aku untuk tersenyum dan ikut berfoto hingga waktu pun tiba di mana kami semua keluar. Mamah dan ayah berdiri menggandeng tanganku di kiri kanan. Kami berjalan menuju lift dan menuju ballroom. Di sana aku melihat banyak mata yang memandang ke arahku.
Genggaman tangan ayah ku rasakan begitu erat dan bergetar. Aku tahu ini adalah moment pertama kali untuk mama dan ayah mengantar anaknya ke pelaminan. Dimana ketiga abangku yang sudah menikah tak bisa ayah saksikan. Aku tahu seorang ayah akan hancur hatinya ketika tak bisa mendampingi anak-anaknya menikah. Namun, lagi-lagi sakit yang ayah derita kala itu membuat ayah pasrah ketika tak bisa berangkat menuju pernikahan abangku.
Air mataku pun jatuh tanpa bisa aku tahan melihat karpet merah yang membentang di depanku terus aku pijak hingga tibalah aku di depan dimana momen sakral akan aku katakan dengan Angga yang dalam hitungan menit akan sah menjadi suamiku.
Tiba-tiba pikiranku terlintas rasa berat untuk meninggalkan ayah dan mamah di rumah bersama Ica. Tiba-tiba aku ingin kembali menjadi anak bukan istri dari pria asing yang baru bertemu denganku beberapa tahun ini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtuaku yang akan menua.
__ADS_1
Namun, kini mamah dan ayah sudah melangkah pergi ke kursi dan duduk. Sedangkan aku melangkah ke depan tanpa bisa menahan tangisku lagi. Hatiku benar-benar tak bisa kuat lagi. Bayanganku setelah ini akan pergi dan jarang bersama mamah dan ayah sangat menyakitkan.
Hingga akhirnya ku dengar tepukan tangan ketika kami sudah sah menjadi suami istri.
"Hei...kenapa menangis terus?" tanya Anggga padaku namun aku justru menjatuhkan softlens di mataku. Terlalu menangis membuat semua penampilan ku kacau saat ini. Aku hanya diam dan berikutnya tangisku kembali pecah kala ayah berbicara di depan pada pria yang sudah menjadi suamiku.
"Angga, sekarang kau sudah menjadi suami dari anakku. Aku titipkan Anggia padamu. Jaga dia seperti aku ayahnya menjaga dan mendidiknya. Didiklah istrimu karena nama mu akan di bawa kemana pun istrimu pergi. Sekarang anakku bertambah dengan adanya kamu. Kau bukan menantu saja tapi anakku juga. Saat ini keputusan kalian untuk menikah sudah terkabul. Tolong, jangan pernah permainkan pernikahan yang suci ini."
Selama ayah berbicara panjang aku benar-benar tak bisa mengangkat wajah. Tangisku terus saja keluar. Hingga suara ayah berganti dengan suara abangku yang nomor dua. Yah, pernikahanku kini di hadiri juga oleh kedua abangku dan istri mereka. Aku sangat bahagia rasanya meski kami berasal dari rahim yang berbeda tapi kebaikan abangku membuat aku tak bisa merasakan jarak antara kami.
Kata demi kata terus abangku ucapkan dan kami mendapat banyak pesan dari keluargaku mau pun keluarga suamiku. Dimana semua selesai dengan bahagia. Saatnya momen foto-foto sebelum akhirnya acara keluarga ini berakhir dan berganti acara tamu undangan yang akan tiba.
__ADS_1
"Anggia, ada apa dengan ayah?" tanya Angga seketika menyenggol lenganku. Aku segera menoleh dan ku lihat ayah sudah kesulitan bernapas memegang dadanya.
Mamah dan aku panik melihat itu.