25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Menuruti Permintaan Ayah


__ADS_3

Satu harian menjadi momen penting dimana ayah ku lihat berusaha kuat menemui satu persatu tamu yang ia undang. Terlihat jelas wajah ayah yang begitu bahagia. Aku senang, meski selama aku lahir sampai saat ini aku tak pernah bisa membuat ayah bahagia dengan keinginannya, tapi kali ini ayah tersenyum senang berbicara pada beberapa tamu.


Aku tahu dalam lubuk hati terdalam ayah ia sangat menantikan moment dimana ia yang menjadi orangtua pemilik acara pernikahan. Mamah dan ayah terus bergandeng tangan mengembangkan senyum bahagianya bersamaan dengan kedua mertuaku. Hingga malam ini acara selesai dimana semua keluarga kami telah pulang kembali ke rumah masing-masing. Begitu pun dengan adikku yang juga pergi ikut dengan ayah dan mamah.


Kebiasaan kami berdua yang sering bersama menjadi hilang berganti dengan kesibukan masing-masing. Adikku Ica yang sibuk momong anak dari abangku dan aku yang akan sibuk dengan suami dan adik iparku yang masih kecil. Sedih tentu saja aku sangat sedih. Untuk pertama kalinya keluargaku berkumpul dengan para abangku tapi justru aku tak bisa ikut bersama mereka.


Dan di sini aku berkumpul dengan keluarga dari suamiku. Terasa ada yang sangat berbeda. Aku pikir ini hanya perasaan biasa, nyatanya aku sedih tak bisa mengikuti keseruan di tengah keluargaku. Beruntung aku mendapat keluarga dari suami yang juga sangat baik. Mereka tak kalah heboh dengan keadaan di rumahku ketika berkumpul dimana mamah akan jadi paling dominan memecahkan suasana yang tegang dari ayah.


"Cewek, suapin. Aku mau makan kue yang ini." aku terkekeh mendengar adik iparku memanggilku masih sama seperti sebelumnya.

__ADS_1


Meski sudah di ajari berkali-kali memanggilku dengan kakak selalu saja ia kekeuh untuk memanggilku dengan sebutan cewek.


"Iya Gio, ada apa? Mau makan kue ini? Sebentar yah ambil sendok dulu." aku berdiri ke arah dapur mengambilkan sendok. Nyatanya tak hanya sampai di situ. Dimana Gio kembali meminta aku menyuapinya makan.


Semua tertawa melihat kami yang sangat dekat. Dimana hari pernikahan kami tepat juga pada hari ulangtahun adik iparku. Kami baru saja melakukan tiup lilin bersama satu keluarga besar.


Cukup lama kami menghabiskan waktu di rumah keluarga dimana aku akan kembali ke hotel lagi bersama Angga. Rasanya tubuhku masih sangat remuk akibat acara yang membuatku harus bangun di waktu subuh. Di luar suasana sudah nampak gelap. Malam semakin larut aku beristirahat di hotel bersama Angga. Rasanya sedikit aneh, ketika di malam biasanya aku akan menghabiskan waktu bersama Ica. Tidak dengan malam ini aku tidur bersama suamiku.


"Wah pengantin baru datang nih?" ledek kakak iparku dan aku hanya tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Anggia, hari ini kami semua mau pulang ke rumah. Kamu masih di sini yah?" mamah bertanya padaku.


Yah, aku dan Angga memang memutuskan untuk menikah di kota tempatku tinggal bersama ayah. Bukan di rumah tempat mamah tinggal dan mengembangkan usahanya.


"Loh mamah kok cepat betul baliknya. Ayah nanti kecapean loh di jalan. Kemarin saja baru kambuh lagi." ujarku yang mencemaskan ayah.


Sebab tak biasanya ayah begitu kuat. Jantungnya sering kali membuat kami ketakutan ketika kembali kambuh.


"Ayah baik-baik saja. Ayah sehat kok. Kamu cepat pulang yah? Kita liburan ke pulau dulu sama abang-abangmu." aku hanya bisa patuh sembari melirik suamiku. Tak ada kuasa ketika aku menolak permintaan ayah meski urusan kami di kota ini sebenarnya belum usai. Yah aku akan usahakan mengikuti mau ayah untuk segera pulang hari ini juga dengan suamiku.

__ADS_1


Aku tahu momen berkumpul seperti ini tidak akan bisa terjadi mungkin akan sangat sulit untuk mewujudkannya kembali jika tidak pada waktu ini.


__ADS_2