25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kekecewaan


__ADS_3

Panggilan dari suamiku tak ku hiraukan sama sekali. Aku hanya menangis sepanjang mengelilingi kota yang mulai sunyi di tengah malam ini. Ponselku kembali bergetar dan ku lihat ada panggilan dari mamah serta mertuaku. Aku tahu mereka akan menasehati aku. Tapi, kali ini aku tidak ingin mendengar siapa pun. Sakit yang ku tahan selama ini tak bisa mereka rasakan. Aku menyimpan segala sakit sejak sebelum pernikahan pun mereka tak pernah tahu rasanya.


"Anggia, pulang ke rumah. Ini sudah malam. Bicarakan baik-baik dengan Angga." Air mataku menetes kembali kian banyak membaca pesan dari mertuaku.


Aku tahu sekali pun aku salah telah keluar dari rumah, tapi siapa yang bisa menenangkan aku saat ini? Tidak ada yang bisa. Kekecewaanku terlalu menumpuk pada suamiku yang bahkan sampai saat ini tak pernah aku ungkapkan. Sering kali aku hanya menangis menjalani takdir yang tak ingin ku sebutkan satu persatu dalam kehidupan baru ku ini. Aku terlalu lelah menjalani semuanya. Kali ini aku ingin sekali menjadi orang yang keras kepala tanpa mendengarkan siapa pun.


Setelah berkeliling hingga hampir subuh, barulah aku pulang. Meski tangisku sulit ku hentikan, aku tetap saja berusaha memejamkan mata hingga terlelap sampai siang hari. Ponsel yang sengaja ku matikan tak lagi ku sentuh.


Aku ingin tenang. Aku ingin melakukan apa yang ingin ku lakukan. Segera aku bergegas mandi dan bersiap untuk keluar. Mungkin Tuhan sedang memberikan aku waktu berjalan menyenangkan diriku sendiri. Selama ini aku selalu menurut untuk mengurung diri di rumah sampai pada akhirnya aku tahu jika semua yang ku lakukan ternyata tak cukup untuk membuatnya berpikir jika ingin melakukan hal buruk di luar sana.


Usai berpakaian, tubuhku tiba-tiba lemas tak sanggup menopang beban tubuhku. Aku terduduk di kasur menangis. Ku pikir aku akan kuat menyenangkan diri dengan keluar jalan-jalan. Nyatanya tidak. Aku selemah itu dan berakhirlah aku hanya berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apa pun.


Bahkan sampai hari ketiga pertengkaranku dengan Angga, aku tak kunjung mau mengaktifkan ponselku. Makan pun tak pernah ku lakukan. Tubuhku benar-benar sangat lemas sekali.


Tangisku terhenti kala mendengar suara dari orang yang tak lain adalah tetanggaku. Segera ku buka pintu dengan pandanganku yang buram karena air mata.

__ADS_1


"Anggia, sudah jangan sedih terus. Ini ada Tante menelpon." aku baru ingat jika mamahku punya nomor ponsel tetanggaku.


"Em biar saja aku yang menelponnya nanti pakai ponselku. Makasih yah?" aku tersenyum saat tetanggaku mengusap lenganku memberikan semangat.


Di kamar aku mendengar mamah berbicara padaku. Aku paham mamah masih belum mengerti apa pun tentang pernikahanku sebab sejak awal aku masih menutupi semuanya hingga masalah yang terjadi saat menjelang pernikahan pun mamah tidak tahu.


Aku sadar ini semua adalah jalan yang sudah ku pilih. Dimana aku memulai semuanya dengan rasa kecewa yang sangat besar. Hanya pasrah yang bisa ku lakukan saat menikah dengan Angga. Semua memang tahu aku begitu bahagia. Tanpa mereka tahu setahun sebelum pernikahan air mataku terus menetes setiap malam. Dan Ica adikku lah yang selalu menjadi saksi aku menangis setiap malam.


"Papah mu mau bicara, Anggia." Mamah berkata saat aku menghubunginya. Ketika ponsel ku nyalakan aku bisa melihat ada banyak pesan dari Angga dan juga mertuaku.


Aku siap menerima amarah Ayah, sebab kali ini aku tak melakukan kesalahan.


"Ada apa, Ayah?" tanyaku yang sudah menduga jika Angga pasti sudah melapor.


"Apa-appaan kamu ini? Ayah sudah bilang jaga sikapmu pada suamimu. Jangan membuat Ayah malu." air mataku jatuh. Inilah yang aku tahu dari ayah. Tak pernah melihat dari sisiku. Bagaimana aku sebagai wanita yang selalu diam justru mendapat kebohongan seperti ini.

__ADS_1


"Aku tahu Ayah pasti bela Angga. Tapi, maaf Ayah. Aku tidak bisa menurut. Ini pernikahan ku. Aku tidak pernah mentoleransi perselingkuhan mau pun judi dan tempat hiburan seperti itu. Aku tidak akan pernah memafkan itu."


"Anggia!!" telingaku berdengung mendengar suara ayah yang sangat tinggi.


Aku hanya menangis pilu, andai ayah tahu saat ini aku sangat terluka. Aku ingin pulang memeluk Ayah, tapi kini aku sadar jika ayahku berbeda dari ayah yang sering kali ku bayangkan.


"Suamimu sedang kerja. Kenapa kau menuntut hal seperti itu? Biarkan Angga melakukan apa pun di luar sana. Kau mengerti? Suamimu bertugas. Jika di luar dia bukanlah hakmu. Kamu bukan yang utama untuk suamimu. Ada pekerjaan yang harus di utamakan. Biarkan dia mau minum mau apa pun, biarkan di lakukan itu!" Sumpah demi apa pun aku tak menyangka ayah berkata demikian menyakitkan padaku.


Tak ada kata yang bisa ku ucapkan selain patuh pada ayah.


"Oke. Aku turuti mau Ayah. Biarkan dia di luar sana apa pun yang di lakukan. Aku akan turuti Ayah." panggilan pun berakhir saat itu juga. Kesabaranku hilang saat itu.


Ku lempar ponsel ke dinging hingga retak. Aku menangis meringkuk di atas tempat tidur.


"Ayah, tak bisakah aku mendapatkan perlakuan lembutmu? Aku hanya ingin bisa bercerita banyak hal padamu menangis dan memelukmu. Aku ingin mendapatkan usapan di rambutku saat ini. Aku benar-benar butuh penenang darimu." Hanya harapan yang nyatanya semakin membuatku sakit sekali.

__ADS_1


Rasa sayang dan rinduku pada ayah seketika sirna. Hanya kemarahan pada Angga yang semakin sulit ku kendalikan. Tidak seharusnya aku bertengkar dengan Ayah jika Angga tak melapor seperti ini.


__ADS_2