
Usai makan malam di sinilah kami duduk. Ruang tamu yang memang minim pencahayaan menambah ketegangan di ruangan itu. Meski tak jelas, namun tatapan ayah yang menopang dagu menatap Angga membuat aku sendiri merasa tidak tenang. Tangan yang sering kali melayang pada wajah dan tubuhku itu terus aku tatap. Takut, jika sampai Angga salah bicara justru membuat ayah bertindak kasar. Ku lihat setiap kali tangan Angga mengusap kasar wajah dan lehernya yang penuh dengan keringat. Jujur rasanya aku ingin tertawa tapi ada rasa kasihan yang jauh lebih besar ku rasakan. Kegugupan terlihat jelas pada diri Angga saat ini.
“Maafkan aku, Angga. Tuhan tolong tenangkan diri ayah agar tidak bertindak kasar kali ini,” dalam hati aku terus berdoa.
Jika pun ayah memang tidak setuju, mungkin bisa di bicarakan baik-baik. Itu harapanku saat ini. Dan detik berikutnya aku mendengar ayah mulai membuka suara.
“Jadi, tujuanmu ke sini untuk apa?” Debaran jantungku semakin besar ku rasakan.
Nada bicara ayah yang terdengar tidak ramah. Aku tahu ayah tengah memikirkan sesuatu yang sedang tidak pas di hatinya.
“Saya kemari ingin minta persetujuan dengan om. Saya dan Anggia sudah berpacaran. Kami ingin serius ke depannya, Om. Anggia minta saya menghadap om lebih dulu. Jika om setuju mungkin ke depannya kami akan lebih mudah menjalani hubungan ini.” Ucapan dari Angga membuat aku menunduk tanpa berani menatap ayah. Aku benar-benar tak sanggup dengan jawaban ayah kali ini yang begitu sulit ku bayangkan.
“Saya mau menikah dengan Anggia, tapi untuk saat ini masih ada ikatan kerja yang mengharuskan saya menunggu dua tahun baru bisa menikah, Om.” Lagi Angga bersuara.
Beberapa detik ayah terdiam. Mamah di sampingku pun hanya diam mendengar keputusan ayah. Sebab, mengenai kelangsungan masa depan kami anak-anaknya, ayah selalu memegang kendali semua tanpa meminta masukan dari mamah. Ayah memang memiliki sikap seperti itu. Tapi, aku yakin setiap sikap yang ayah ambil sudah ia pikirkan dengan sangat matang.
“Anggia masih harus kuliah s2. Kalian masih muda, saya rasa untuk saat ini fokus pada masa depan kalian masing-masing. Kalau memang kau punya niat baik saya akan terima. Kalian bisa jalani selama kalian juga fokus dengan pendidikan dan kerjaan. Nanti waktunya tiba kita akan bicarakan ini lagi.”
Tubuhku terasa lemas, benar dugaanku. Ayah tidak akan merestui kami menikah cepat. Aku tak bersuara sama sekali, sedang Angga hanya diam. Ia tak lagi memaksakan niatnya pada ayah.
Kami sudah saling mengenal lama antara keluarga. Meski tak ada hubungan apa pun. Itu sebabnya Angga sangat berhati-hati ketika bicara dengan ayah. Ia tahu ayah memiliki watak yang sangat keras dan mudah emosi.
__ADS_1
Malam itu kami pun memutuskan untuk jalan ke rumah Angga. Ia berniat mengenalkan aku dengan adik kecilnya. Ayah tak melarang. Untuk pertama kali aku mendapatkan ijin dari ayah jalan bersama pria.
Jujur ada perasaan senang rasanya. Aku tak perlu lagi sembunyi-sembunyi bertemu Angga. Ayah memang sudah merestui kami, tapi tidak untuk menikah. Besar impian ayah untukku memiliki pendidikan yang tinggi. Kelak aku akan mendidik anak-anakku dengan ilmu yang ku dapatkan kata ayah.
Dan malam itu waktu terasa berputar sangat cepat. Dimana aku dan Angga harus berpisah kembali. Sedih rasanya. Selama pacaran beberapa bulan kami tidak bisa bertemu selain komunikasi dari ponsel. Dan kini kami di pertemukan hanya beberapa jam saja. Angga harus kembali ke tempat kerja malam itu juga.
Aku dan mamah mengantar Angga pergi di depan pintu rumahku setelah Angga datang untuk pamitan.
“Hati-hati yah? Jangan laju-laju.” ujarku menatap mata Angga.
Rasanya aku sangat cemas. Aku tahu dia sangat lelah saat ini. Perjalanan yang sangat jauh harus ia tempuh demi memenuhi keinginanku untuk menghadap ayah.
Tak terasa waktu liburku sudah berjalan hampir tiga minggu. Dimana aku di kejutkan dengan kedatangan kedua orangtua Angga ke rumah.
“Loh Tante, Om?” Aku menyapa ketika sibuk membersihkan bunga.
Kedua orangtua Angga nampak tersenyum melihatku. Aku buru-buru mencium punggung tangan mereka. Dimana ayah pun juga keluar menyambut. Kecanggungan tak ada sama sekali sebab mereka memang sudah saling kenal.
Aku di luar bersama Ica dan juga adik dari Angga. Sedangkan kedua orangtua kami tampak berbicara di dalam rumah. Samar aku mendengar keinginan Angga yang meminta kedua orangtuanya datang memintaku pada ayah dan mamah.
“Sebenarnya saya mau Anggia lanjut sekolah dulu. Sebelumnya saya sudah bicarakan juga dengan Angga. Biarkan mereka sama-sama fokus dengan masa depan mereka. Tapi, kalau memang maunya sudah langsung menikah setelah dua tahun ini, yah saya bisa apa?” Ucapan ayah terdengar kecewa. Aku tahu ayah punya harapan tinggi untuk aku sukses.
__ADS_1
Tapi, pikiranku yang sudah hampir lulus kuliah ingin sekali punya anak dan ayah bisa menghabiskan waktu dengan cucunya. Aku tahu ayah sangat ingin punya cucu. Bahkan aku masih bisa lanjut kuliah setelah menikah.
Pengalamanku yang tak sempat lama bersama kakek dan nenek dari mamah membuat aku tak ingin itu terjadi pada anak-anakku kelak. Bahkan kakek dan nenek dari ayah pun tak pernah aku lihat dan kenal sebab mereka sudah lama tiada.
Aku takut dengan usia ayah yang semakin tua dan sakit-sakitan membuat aku menyesal tak merasakan pernikahan di dampingi ayah. Meski dalam hati aku selalu menolak akan takdir itu. Aku merasa belum siap jika salah satu dari orangtuaku akan pergi meninggalkan ku.
Sejak saat itu hubunganku dengan Angga semakin membaik. Kami benar-benar serius dengan komitmen yang kami ambil. Semua tugas kuliah dan skripsi aku kerjakan begitu penuh semangat.
Bahkan selama kuliah aku rela menyisihkan waktu untuk berjualan berbagai produk kosmetik untuk membantu biaya pernikahan ku kelak. Tak sampai di situ, selama skrispi pun aku juga sibuk menulis novel dimana aku akan mendapatkan upah yang lumayan di sana. Ayah mulai bangga padaku. Ia senang ketika aku bisa memiliki penghasilan pertama dari menulis novel. Hingga aku di wisuda tanpa kehadiran ayah dan mama, tentu sedih kami rasakan karena negaraku sedang di landa Virus berbahaya.
Ketakutan ku semakin menjadi, ayah yang mudah terkena sakit membuat kami sangat was-was. Banyak dari orangtua teman-temanku yang tumbang satu persatu karena terserang virus mematikan itu. Terpaksa aku wisuda hanya via online, dan setelahnya aku pulang ke rumah.
Di sinilah aku menerima gaji pertamaku dari menulis. Ayah dan mamah aku berikan dengan jumlah yang sangat sedikit. Aku tahu ayah dan mamah tidak membutuhkan uang dengan nominal itu. Tapi, aku hanya ingin merasakan pada mereka uang dari hasil kerja kerasku berpikir selama menunggu wisuda.
“Ayah, mamah, ini sebagian gaji dari kerjaku. Yang ini aku ingin taruh di amplop untuk beberapa orangtua yang tidak mampu.” Mata ayah nampak berkaca-kaca menatapku saat ini.
Ia mencium pipiku, memelukku dari belakang. Aku tersentuh melihat perlakuan ayah sehangat ini. Benar kata orang, orangtua itu tidak melihat dari nominal yang kita berikan. Tapi, dengan cara kita mengingat mereka saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
“Anak ayah sudah punya gaji. Terimakasih yah, Sayang. Terimakasih. Semoga kerjaanmu selalu sukses dan berkah. Bisa membantu banyak orang yah?” Tak terasa air mataku menetes mendengar ucapan ayah.
Hatiku rasanya puas sekali mendengar ucapan ayah. Aku senang bisa memberikan uang tanpa meminta dari mereka lagi. Sejak kuliah di semester akhir aku memang sudah punya penghasilan dari jualan. Tapi tidak sebesar ketika aku menjadi penulis. Meski di beberapa bulan awal aku menjadi penulis hasilku tak seberapa. Tapi aku bisa menyisihkan uang untuk beberapa orang yang membutuhkan sudah menjadi kepuasan tersendiri.
__ADS_1