
Belum usai kesedihanku, tepat pada pukul tiga sore suamiku pulang ke rumah. Angga nampak tersenyum-senyum saat aku membuka pintu rumah. Heran, tak biasa ia seperti ini. Segera aku pun bertanya padanya.
“Ada apa?”
“Sayang, besok lusa aku berangkat ke Bali. Dua minggu untuk pengawalan acara.” Mataku berair mendengar kabar itu. Entah tak seperti biasa aku akan senang suamiku pergi bekerja.
Dimana biasanya aku tak akan di ganggu kerja di rumah. Kali ini ada sesuatu yang membuat perasaanku tak nyaman. Namun, aku berusaha menutupi semuanya. Aku percaya suamiku akan kerja dengan baik dan pulang tanpa kurang satu pun. Tanpa Angga tahu dua malam sejak ucapannya itu aku sering kali meneteskan air mata tanpa alasan.
Biasanya waktu dua minggu bukanlah waktu yang lama untukku berpisah dengannya. Bahkan satu bulan pun mampu ku lewati.
Dan hari ini tibalah waktunya dimana Angga akan pergi ke Bali. Aku mengantarnya sampai ke depan rumah. Taksi sudah datang menjemput untuk mengantar ke bandara.
Cium dan peluk yang ia berikan terus semakin menyesakkan dadaku. Perasaanku benar-benar mengganjal kali ini.
Sebuah perjanjian ia berikan padaku sebelum berangkat.
__ADS_1
“Aku janji hanya kerja. Aku janji tidak akan macam-macam, Anggia. Sumpah demi Tuhan aku hanya kerja.”
“Kalau ada yang ngajak ke tempat-tempat hiburan bagaiman? Aku tidak akan bisa mentoleransi itu, Angga.” ujarku yang mengingatkan dalam pernikahan kami tidak akan ada namanya berteman dengan lawan jenis, menyentuh alkohol, menyentuh tempat hiburan yang tidak semestinya kita kunjungi.
Itu prinsip yang sudah aku tekankan sejak awal. Aku tidak akan mau pernikahan kami gagal hanya karena celah sedikit pun kami buka.
“Aku bersumpah tidak akan melakukan hal itu semua, Sayang. Percaya denganku. Ada nama keluarga dan kehamilan mu nanti yang akan menjadi tanggungan atas sumpahku ini.” Dengan perasaan berat pun aku melepaskan suamiku pergi.
Perpisahan kami berjalan dua hari. Semua masih baik-baik saja. Aku sibuk kerja, begitu pun Angga yang sibuk kerja.
“Ayah, sehatkah?” tanyaku basa basi.
“Namanya orang jantung yah nggak bisa sehat. Gimana kabarmu? Suamimu di rumah kah?” Ayah justru bertanya balik padaku.
“Angga berangkat ke Bali, Ayah. Ada apa?” Rasanya tumben ayah menanyakan suamiku ketika baru bicara.
__ADS_1
“Loh ke Bali? Kenapa kamu nggak pulang saja?” Pikiranku merasa heran. Tak biasanya ayah memintaku pulang ketika suamiku pergi. Di sini adalah rumahku. Dimana aku bertugas menjaga dan merawat. Lagi pula ekonomi kami tak semudah itu untuk pulang dalam waktu dekat.
“Aku kan juga harus kerja, Ayah.” jawabku yang sesuai dengan kegiatan nyataku saat di rumah.
“Kerjamu kan bisa di mana saja, Anggia. Ayah kangen.” Ada dua makna dari kata-kata ayah barusan.
Kerjaanku bisa dimana saja, mungkin ayah tidak tahu bagaimana aku usaha keras menyanggupi target kerjaku dengan terus berdiam diri di dalam kamar. Lingkungan yang harus dalam keheningan, bahkan aku merasa akan sangat terganggu bekerja jika ada satu orang saja yang datang. Sebab semua akan menghambat pekerjaanku.
Sayangnya, ayah tak mengerti bagaimana susahnya aku mengatur semua jadwal kerjaku.
Dan yang kedua, kata-kata ayah yang mengatakan kangen ingin aku pulang. Tentu membuatku terharu dan sedih. Terharu ketika biasanya kepulanganku selama ini tak pernah ayah katakan dengan harapan. Bahkan saat ayah menjemput di bandara pun tak ada raut bahagia selama ini. Mengapa setelah aku memiliki rumah tangga justru ayah menunjukkan semua itu padaku.
Kata-kata ini yang sering kali aku harapkan setiap kali pulang kuliah. Sayang, ini untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mendengar kata harapan ayah untuk aku pulang.
“Ayah, nanti aku akan pulang. Beberapa bulan lalu baru saja aku pulang. Sekarang aku harus kerja ngebut dulu. Nggak bisa di mana aja aku kerjanya, Ayah. Susah cari tempat yang pas buat kerja.” ucapku memberi pengertian.
__ADS_1
“Yasudahlah.” Panggilan ayah matikan. Aku merasa sangat tak nyaman. Kata-kata ayah seperti nada kecewa yang ia dengarkan padaku.