
Sampailah tiba hari di mana Ica akan segera pulang beberapa hari lagi. Mamah datang menjemput adikku berniat untuk tinggal di rumah beberapa hari dulu. Mamah membawakan banyak makanan untukku. Berusaha positif thingking agar kandunganku tetap baik-baik saja. Perutku yang sering sakit kini tak lagi ku rasakan. Namun, meski begitu darah masih saja sering keluar meski hanya satu tetes saja. Aku merasa jika kandunganku tak bisa di pertahankan. Sebab sudah tiga minggu sebelum periksa ke dokter darah masih saja keluar meski tak banyak. Pikiranku benar-benar sedih saat ini.
Berharap sebelum ayah operasi bulan depan, keadaanku bisa segera membaik. Kedatangan mamah ke rumah pun membuat aku senang. Lama tak tinggal bersama tentu membuat aku rindu dengan masakan mamah. Hingga kini akhirnya aku pun menikmati semua masakan yang mamah buat. Sehari-hari kami habiskan di rumah sebab perutku sesekali sakit ketika di bawa bergerak.
"Besok lusa mamah sudah pulang. Kamu nggak apa-apa kan kalau mamah tinggal? Atau mau mamah di sini dulu temani kamu?" sedih rasanya mendengar mamah bertanya begitu.
Aku tahu mamah pun tak tenang pulang dalam keadaanku yang seperti ini. Tapi, di sana pun ada ayah yang sakitnya semakin sering kambuh. Aku tahu mamah tidak akan kuat jika harus meninggalkan ayah.
"Aku kan ada Angga yang jaga, Mah. Dia juga cuti kan masih. Mamah rawat ayah saja. Jangan biarin ayah bawa mobil sendiri bahaya kalau jantungnya tib-tiba kumat nanti." itu hal yang sering kali aku khwatirkan.
Ayah memang sangat keras sekali, aku sangat cemas jika mendengar ayah akan keluar kota sendirian mengendarai mobilnya. Hal yang paling aku takutkan jika sampai jantung ayah kambuh dan keadaan jalanan yang sepi membuat ayah sulit mendapatkan bantuan.
__ADS_1
"Iya sudah mamah pulang sama Ica. Kamu jangan ngapa-ngapin dulu. Makanan beli di luar aja yah? Ingat jangan cuci baju dulu." aku mengangguk mengiyakan ucapan mamah.
Jujur rasanya rumah terasa sangat ramai jika ada mamah. Aku merasa seperti kembali kecil dimana mamah sering membuatkan masakan kesukaanku.
"Sayang, bawa mamah sama Ica jalan-jalan yah? Kasihan mereka datang nggak ada jalan sama sekali." Angga pun patuh. Ia membawa mamah dan Ica ke mall sementara aku memilih untuk beristirahat di rumah saja.
Setidaknya ada satu waktu mereka pergi berlibur meski tak sesuai dengan yang di harapkannya.
"Mah, aku baik-baik saja. Yang penting ayah di sana sama Ica. Mamah jangan kelahi terus sama Ica." mamah tertawa mendengar ucapanku.
Memang adikku sering mengadu jika mamah dan dia sering bertengkar. Aku tak heran, sebab dulu aku juga pernah merasakan di posisi adikku. Dimana pikiranku masih sangat labil dan mamah yang jiwanya sedikit tomboy sulit memahami anaknya. Sering kali aku berdebat dengan mamah di belakang ayah.
__ADS_1
Ku lambaikan tangan ketika mamah dan Ica menjauh dengan mobil yang mamah bawa bersama supir. Semakin ke sini pikiranku semakin besar mengkhawatirkan keluargaku. Seakan rasa takut kehilangan mereka semakin sering menghantui pikiranku. Tak terasa air mataku menetes.
"Tuhan, jaga mamah di jalan dengan adikku. Sampaikan mereka di tujuan dengan selamat tanpa kurang satu apa pun." doaku yang di sambut kata amin oleh suamiku.
"Mamah akan ke sini lagi. Sabar yah?" ujar Angga yang tahu jika aku masih sangat rindu dengan mamah.
"Tapi, aku merasa bersalah, Angga. Mamah nggak bisa aku ajak jalan-jalan apa lagi Ica. Masa liburannya cuman ke mall sekali aja. Aku kasihan." Angga mengusap rambutku yang panjang.
"Mamah dan Ica paham kok kamu lagi sakit. Nanti kan mereka ke sini lagi. Saat itu baru kita ajak mereka jalan-jalan oke?" aku pun mengangguk. Berharap waktu cepat berlalu dan aku bisa menebus rasa bersalahku dengan mamah dan Ica.
Sebab perjalanan yang mereka tempuh untuk tiba di rumahku cukup jauh. Bagaimana mungkin rasa lelah itu hanya mereka obati dengan berdiam diri di rumah saja. Tentu aku tak tega melihat mamah yang jauh-jauh datang tak mendapatkan harapannya. Meski berkali-kali mamah bilang mamah bukan tujuannya untuk jalan-jalan kemari, melainkan untuk menjemput Ica saja.
__ADS_1