25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Berlibur


__ADS_3

Di hari yang bahagia kami semua berkumpul di rumah mamah dan ayah. Dimana semua abang dan istrinya juga hadir di sana untuk menginap beberapa hari. Bisa ku lihat bagaimana wajah ayah yang begitu semangat bahkan ia mengajak kedua abangku untuk melihat beberapa lokasi tanah yang ayah kelola untuk di jadikan lahan sawit. Yah, di tempat kelahiranku memang sangat besar peluang investasi untuk menanam sawit. Setiap tamu yang datang berkunjung ayah begitu semangat memperkenalkan kedua abangku yang adalah anaknya. Memang ini pertama kalinya ayah mendapat kunjungan dari kedua anaknya. Meski sebenarnya sangat di sayangkan ketika satu abangku tidak bisa ikut hadir. Tapi aku memaklumi sebab di sana pun ibu sedang sakit-sakitan tak ada yang bisa mengurusnya selain abang yang terakhir.


Namun, rencana pagi ini untuk liburan ke pulau mendadak tegang kala abang nomor satu meminta izin pada mamah untuk pulang pagi ini juga. Kerjaannya yang tak bisa di tinggalkan membuat abang bingung. Ia tidak ingin ayah marah dengan waktu yang begitu singkat, tetapi di sisi lain abang pun punya tanggung jawab yang tidak bisa di tinggal kapan pun ia mau.


"Aduh apa tidak bisa besok pulangnya? Ayahmu pasti marah lagi nanti." mamah terlihat takut. Sebab abang nomor satu dan ayah memang memiliki sikap yang sama-sama keras. Aku pun bisa tahu apa yang ayah rasakan setelah ini ketika mendengar abang yang akan pulang tanpa ikut kami untuk berlibur.

__ADS_1


"Saya harus pulang pagi ini, Bu. Kerjaan sudah menunggu di sana. Sudah syukur saya bisa ijin kemarin untuk pernikahan adek." mendengar ucapan abang, ibu hanya diam. Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa pada ayah.


Sebab kami semua pun tahu bagaimana kalau ayah sudah marah. Dan ibu yang sebagai jembatan untuk abang dan ayah berbicara tentu tak akan mudah untuk menyampaikan ucapan abang pada ayah. Ibu tak bisa salah bicara jika tidak ingin membuat ayah marah besar.


Sedih rasanya ketika kami akan pergi berlibur dua abang yang tidak bisa ikut. Padahal aku berpikir saat pernikahanku inilah satu-satunya jalan untuk bisa kami menghabiskan waktu bersama. Usia ayah tak lagi muda, itu yang membuat aku selalu berpikir ingin ayah merasakan ramai di sisinya dengan kami yang berkumpul semua. Sayang, semua rencana ku hanya tinggal rencana tanpa bisa terwujud sebab abang sudah dewasa semua dan tentunya memiliki tanggung jawab masing-masing untuk masa depan mereka.

__ADS_1


Kali ini kami berangkat hanya satu keluarga dengan abang yang nomor dua dan kedua kakak ipar yang ikut juga. Wajah ayah yang sejak kemarin bahagia kini nampak merenung. Aku tahu ayah pasti sangat merindukan ketiga abang bisa bersamanya di usia tua. Sebab saat mereka masih kecil semua ayah tak memiliki uang untuk bisa sering mengunjungi mereka.


Sepanjang kami menyeberangi pulau dengan speed semua begitu ceria. Cucu ayah dari bang pertama benar-benar lucu dan sejenak ayah lupa dengan beban pikirannya. Untuk satu hari ini yang melelahkan tak sekali pun aku melihat ayah kambuh jantungnya. Aku tahu ini semua pasti berkat hati ayah yang senang.


Kami tampak mengabadikan momen sepanjang jalan hingga akhirnya speed yang kami tumpangi pun tiba di di pulau yang sangat asri. Pepohonan kelapa yang berdiri tinggi berjajar rapi menambah keindahan pulau itu. Air yang jernih terasa begitu memanjakan mata.

__ADS_1


__ADS_2