
Suasana pagi ini tampak sangat berbeda. Dimana aku sekeluarga menikmati suasana kampung yang sangat asri. Ayah terlihat menikmati rasa rindunya di kampung kelahirannya kala sudah beranjak lanjut usia. Aku jelas melihat wajah berbinar bahagia milik ayah. Aku tahu tak enak menjadi seorang perantau. Bahkan dulu aku dengar jika ayah tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya untuk merantau. Berbekal keberanian ayah bisa menjadi sukses seperti saat ini dan memiliki keluarga yang ia inginkan.
Samar aku mendengar mamah dan ayah berbicara seperti memarahi adikku. Aku mendekat ke arah rumah yang bukan lagi milik ayah. Rumah peninggalan kakek dan nenek yang sudah di jual.
“Mah, ayah, ada apa?” tanyaku penasaran mendekati mereka.
“Ica ini terlalu manja. Semalaman tidur di atas perut mamah. Itu nggak baik, Ica. Kita harus menghargai pamanmu. Rumah mamah dan ayah dulu jauh lebih parah dari itu,” aku menghela napas pelan mendengar keluhan mamah.
__ADS_1
Semalam terlalu lelah aku bahkan tak sadar tidur jam berapa. Hingga aku tidak menyaksikan apa yang terjadi di rumah paman semalam. Ternyata adikku yang manja tidur di atas tubuh mama karena keadaan rumah paman memang sangat menyedihkan. Lantainya begitu banyak rusak di bagian papan dimana rumah di kampung ayah masih banyak yang belum di bangun permanen.
Dan ica yang terbiasa hidup nyaman sejak ia lahir ternyata membuat pikirannya sedikit kurang bisa menghargai keadaan. Tubuh mamah jadi pegal karena di buat pengganti kasur.
“Dulu kakakmu Anggia itu tidur di lantai. Kasurnya cuman di lapisi busa tipis. Ica tidak boleh seperti itu. Kita harus menghargai orang karena ayah dan mamah dulu juga orang yang susah. Kita dulu lebih parah dari mereka.” kini Ayah menceramahi adikku yang nampak diam menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Aku memeluk adikku agar tidak menangis. Aku takut ayah akan semakin marah jika sampai adikku menangis karena kesalahan yang ia perbuat sendiri.
__ADS_1
Aku tahu ada gurat kekecewaan di wajah ayah saat ini namun aku tidak ingin ikut campur. Itu bukan bagianku. Yang terpenting aku dan ica tak membuat ayah pusing.
“Ica, Anggia, ayo pulang.” Mamah memanggilku dan aku mendekat membawa adikku. Kami sangat senang bermain di sekeliling tempat kampung ayah yang sangat dingin berbeda sekali dengan tempatku yang sangat panas.
Sejenak aku melepas lelah dengan bermain ponsel. Baru saja berjalan lima menit tiba-tiba suara ayah terdengar membuatku terkejut.
“Jangan main hp terus. Belajar, Anggia. Jangan karena libur kamu malah sibuk maik hp. Cepat ambil buku yang ayah suruh bawa itu.” Patuh aku pun mengikuti perintah ayah. Tubuhku yang menjauh masih bisa mendengar bagaimana ayah berbicara padaku.
__ADS_1
“Ayah yang sudah tua bahkan tidak ada hentinya belajar. Usiamu itu masih sangat muda dan penting untuk terus belajar. Jangan buang waktumu dengan hal yang tidak berguna. Kelak kamu sukses banyak orang di luar sana yang terbantu.” Aku hanya diam. Melawan pun tidak mungkin. Sebab apa yang ayah katakan memang sangat benar.
Aku harus banyak belajar, namun isi di kepalaku seolah menolak semua hal yang ingin aku masukkan ke dalam kepala.