25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Ayah Aku Rindu


__ADS_3

Setiap pergerakan jam aku terus kembali membuka penutup wajah Ayah. Dimana aku terus berusaha mengingat kenangan terakhir bersama Ayah. Ku usap pipi dan bibir Ayah yang semakin dingin dan keras. Air mataku kembali menetes mengingat bibir ini yang sering kali mengatakan hal yang sangat menyakitkan.


"Tuhan, ampuni semua dosa-dosa Ayah. Ampuni semua hal yang Ayah lakukan di masa hidupnya. Aku tak menaruh sama sekali amarah untuk Ayah. Aku mengikhlaskan semuanya, Tuhan. Aku ingin Ayah pergi dengan tenang saat ini." ucapku dalam do'a.


Ketika pagi menyapa, aku di ajak Angga untuk mandi. Begitu pun dengan adikku Ica aku ajak untuk mandi. Sebentar lagi adalah waktu pemandian jenazah Ayah. Sedih rasanya mengingat waktu semakin dekat untuk aku tak lagi bisa memeluk dan melihat Ayah.

__ADS_1


Buru-buru aku mandi, setelah bersiap segera aku mendekati Ayah lagi. Ku peluk terus dan ku pandangi wajah Ayah. Tanpa terasa kini waktu sudah bergerak begitu sangat cepat. Air mataku terus menetes terlebih mendengar Mamah yang menangis. Aku diam melihat satu persatu orang berdatangan memberikan kekuatan untuk kami. Tak sejengkal pun aku meninggalkan Ayah saat ini.


Sampai ketika kedua abangku datang. Mereka semua menangis. Bagaimana sakitnya Abang yang paling terakhir melihat Ayah sudah benar-benar pergi. Padahal baru saja kemarin Abang pamit dengan Ayah untuk pulang mengurus Ibu. Hari ini Abang sudah kembali lagi datang melihat Ayah yang tidak bernyawa. Sedih rasanya di saat Ayah pergi ada satu Abang yang tidak bisa datang. Bukan hanya kami, Abang pun sangat terpukul tanpa bisa melihat Ayah untuk terakhir kalinya.


Tangisku pecah ketika melihat orang-orang sudah ingin mengangkat Ayah untuk di mandikan. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menahan tubuh Ayah. Aku yakin setelah di mandikan tak akan ada waktu lagi untuk aku bisa melihat Ayah.

__ADS_1


"Adek, sabar. Kita harus kuat. Ayah sudah tenang. Tuhan tahu yang lebih baik untuk Ayah. Sudah cukup sakit yang Ayah rasakan saat ini." Aku hanya diam mendengar ucapan Kakak iparku.


Aku hanya bisa mengangguk meneteskan air mata. Aku pun demikian mengatakan hal yang sama pada diriku sendiri. Ayah sudah menyerah menahan sakitnya selama ini. Saat ini Ayah ingin tenang. Tapi, entah mengapa sakit sekali mengingat kali ini adalah kali terakhir aku bisa menyentuh Ayah. Tak bisa sama sekali aku menyentuh Ayah lagi ke depannya.


"Tuhan, kenapa kau ambil janinku saat itu? Kenapa? Kenapa tidak kau biarkan Ayah melihat anakku untuk terakhir kalinya? Kenapa tidak kau beri kesempatan Ayah untuk melihat aku melahirkan cucu yang Ayah inginkan?" Dalam hati aku hanya bisa berteriak marah.

__ADS_1


Kenapa sulit sekali untuk aku bisa membuat Ayah bahagia? Itu satu pertanyaan yang terus aku ulangi dalam hatiku.


"Ayah, aku rindu. Nanti malam kita sudah di tempat yang berbeda."


__ADS_2