
Satu cangkulan demi satu cangkulan tanah aku saksikan di depan mata ketika Ayah sudah di letakkan di bawa tanah sana. Aku tak bisa menjatuhkan air mata lagi. Rasanya air mataku sudah habis. Aku memperhatikan tubuh Ayah mulai tertutup tanah.
“Tuhan, mengapa aku tak tega sekali melihat Ayah di tindis tanah? Ayah tidak bisa bergerak di bawah sana. Ayah sesak di tindis tanah.” Pikiranku terus berperang dengan kenyataan.
Hingga perlahan kedua mataku sudah benar-benar tak lagi bisa melihat Ayah. Tanganku hanya memegang pundak adikku, Ica. Di sana Mamah mendapat dukungan dari kaka sepupuku. Kami semua hanya bisa saling menguatkan. Ayah tidak ada lagi.
“Kita berdoa untuk Ayah yah dek?” Ica mengangguk. Ia hanya meneteskan air mata tanpa berkata apa pun lagi.
Usai moment baca doa kini satu persatu orang mulai pulang ke tempat mereka masing-masing. Rasanya sangat sedih ketika kuburan Ayah sudah sepi. Mamah di bawa Abang pulang dengan mobil ambulance.
“Anggia, ayo kita pulang.” Angga menarik tanganku untuk pergi. Ku lihat kuburan tak ada orang sama sekali. Semua yang datang ramai kini tak tersisa. Kesedihanku yang sempat tak terasa kini begitu sakit rasanya.
“Ayah di sini sudah sepi. Ayah jangan sedih yah? Ayah harus tinggal di tempat yang beda dengan kami. Anggia tidak bisa menemani Ayah lagi. Maafkan Anggia, Ayah. Anggia rindu sekali dengan Ayah. Anggia ingin sekali menemani Ayah di sini terus. Tapi, Ayah sudah tidak di sini.” Aku menangis memeluk nisan Ayah.
__ADS_1
Besar rasa tak rela melihat kuburan Ayah yang indah berhias taburan bunga harus kesepian. Sejak hidup Ayah sangat tidak suka kesunyian. Ayah selalu ingin banyak teman datang ke rumah. Dan kini Ayah benar-benar sendirian.
“Aku mau di sini dulu, Angga. Ayah kesepian.” tuturku tak rela meninggalkan kuburan.
“Ayah sudah tenang. Ayah nggak di sini lagi, Sayang. Ayo pulang. Kasihan Mamah sendiri di sana. Kita harus kasih Mamah semangat.” Dengan rasa berat aku melangkah meninggalkan kuburan.
Angga benar ada Mamah yang butuh kekuatan dariku.
Susah payah aku memeluk nisan Ayah ketika terhalang tanah yang basah. Sulit sekali rasanya untuk pergi dari sini. Aku kembali menangis memeluk nisan Ayah.
“Anggia harus pulang, Ayah. Maafkan Anggia tinggalin Ayah lagi. Ayah harus bahagia di atas sana.” Pelan Angga menuntunku keluar dari pemakaman yang aku pilih untuk Ayah.
Kami pulang dengan pikiranku yang kosong. Hari pertama bagiku terasa kosong tanpa kehadiran Ayah lagi. Kini aku tak memiliki Ayah yang akan memasang tubuh paling depan ketika ada yang berniat jahat pada kami.
__ADS_1
Setiba di rumah singgah Ayah, Mamah ku lihat hanya baring meneteskan air mata.
“Mamah.” Ku peluk Mamah. Kami semua sama-sama sangat lemah saat ini. Sangat sulit rasanya untukku menguatkan Mamah sebab aku sendiri pun sudah tak punya kekuatan lagi.
Ica yang berbaring pun sampai suhu tubuhnya begitu panas.
“Mah, makan yah. Aku ambilkan makan sebentar.” Mamah menggelengkan kepala.
“Mamah masih kenyang, Anggia. Kamu makan lah jangan sampai sakit.” Aku tak perduli bagaimana Mamah menolak, aku tetap menyiapkan makan bahkan menyuapi Mamah.
Mamah susah payah menelan makanan. Air matanya pun terus menetes. Sama denganku, kami sama-sama sedih tanpa ada semangat lagi. Ayah sudah pergi meninggalkan kami tanpa kata apa pun.
Sakit membayangkan mengapa Ayah pergi dengan kemarahan di hatiku masih tersisa. Kenapa Ayah pergi tanpa menyelesaikan semuanya padaku dulu. Ayah tidak memberi aku kesempatan dekat dengannya lagi bahkan untuk melukis kenangan terakhir dengannya.
__ADS_1