25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kebohongan Yang Fatal


__ADS_3

Salah seorang teman wanita dimana suaminya yang juga sama kerja bersama suamiku saat ini datang berkunjung ke rumah. Aku menyambut kedatangannya dengan sangat baik. Dimana ku lihat ia sedang melakukan panggilan video bersama suaminya. Kami duduk di depan rumah hingga ketika malam aku menawarkan tidur di rumah saja sebab ia pun di rumah sendirian saat ini.


Ia setuju, malam ini kami akan tidur bersama di rumahku. Belum terlalu kenal tapi kami berbicara banyak berusaha mengakrabkan diri. Sampai pada akhirnya malam itu aku mendapat pesan dari suamiku.


"Sayang, aku pergi dulu yah. Mau ada pengarahan dari atasan." aku mengatakan untuk Angga hati-hati.


Perasaanku sangat tak nyaman entah apa artinya. Namun, sekeras mungkin aku berusaha terlihat tenang dan tetap fokus bekerja. Malam ini hal yang tak pernah aku sangka terjadi. Tanpa sengaja aku mendengar suara musik keras di panggilan temanku saat ini. Ia tak ada berbicara apa pun dengan suaminya. Hanya sebatas untuk mengawasi jika suaminya tak melakukan hal lain-lain.


Sebab aku tahu bagaimana permasalahan mereka sebelum menikah dimana suaminya sering kali berganti-ganti pasangan di luar sana dan istrinya tahu jika suaminya pernah selingkuh. Itu sebabnya sampai saat ini ia tak memberikan kebebasan pada suaminya.


"Mereka ini malah pergi ke club. Gaya betul." telingaku mendadak terasa berdengung mendengar ucapan temanku.


Aku segera menghentikan kerjaanku. Dadaku mendadak terasa sesak sekali. Tubuhku gemetar berulang kali aku mencoba menelpon suamiku namun tak juga di angkat. Kemarahanku semakin jadi saat ini. Sungguh aku tak tahu jika Angga justru menyalahgunakan kepercayaan yang aku punya.


"Mereka semuanya di situ mba?" aku melihat ia mengangguk dengan santai.

__ADS_1


"Coba tanyakan suamiku mba ada di situ kah? Aku mau liat dong." ujarku dengan suara yang santai.


Nyatnya dadaku sangat bergemuruh menahan amarah saat ini. Detik berikutnya panggilan video pun di arahkan padaku dan ku lihat bagaimana Angga duduk santai menikmati suasana di sekelilingnya.


Lemas rasanya tubuhku melihat tingkah laki-laki yang ku percaya. "Tuhan, aku mendoakan suamiku bekerja dalam lindunganmu, kenapa justru ini yang di lakukan di sana?" marah aku menangis dalam hati sebab panggilan ku pun tak kunjung di angkat.


"Mba, tolong kasih tahu suaminya. Aku nelpon suamiku nggak di angkat-angkat soalnya." ujarku dengan tetap tersenyum.


Sampai akhirnya ponselku pun berdering. Tak tahan dengan perasaanku yang sangat kecewa.


Tubuhku gemetar meneriaki suamiku di ujung telepon. Sumpah demi apa pun rasanya aku benar-benar tak kenal dengan suamiku yang sekarang. Aku merasa di khianati sekali.


"Anggia, aku nggak bohong. Tadinya mau pengarahan tapi kami di suruh kumpul di sini."


"Oh di suruh kumpul? Pengarahan ijin dulu sama aku. Ke club nggak bisa ijin dulu yah?"

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti marah..."


"Bagus, Angga. Bagus. Kamu tahu ini nggak akan pernah bisa aku maafkan. Kamu bohong sama aku. Kamu lihat aku juga bisa lakukan yang lebih dari kamu lakukan sekarang." air mata yang jatuh di kedua pipiku segera ku hapus. Aku beranjak pergi dari rumah malam itu juga meninggalkan temanku di rumah. Biarlah aku tak bisa lagi memikirkan orang lain saat ini. Hatiku terlalu sakit.


Sepanjang jalan tepat pukul sepuluh malam aku menangis di jalanan menaiki ojek online.


"Tuhan, kurang apa lagi aku sebagai istri? Aku bahkan sudah menyita banyak tenagaku untuk membantu mendapatkan uang agar bisa menabung. Aku bahkan tak pernah mau meminta apa pun darinya. Aku hanya minta kejujuran saja. Di kurung di rumah pun aku tak pernah protes, aku hanya menurut. Sementara di luar sana banyak istri yang bermain dengan teman-temannya di kala punya waktu senggang. Sedangkan aku selalu di rumah demi menuruti permintaan suamiku yang tak mau aku keluar."


Suara ponsel di tas ku sama sekali tak ku hiraukan. Entah siapa yang menghubungiku aku tak lagi perduli. Entah kemana tujuanku saat ini, satu jam aku meminta ojek menemaniku berkeliling di kota tengah malam. Aku tak lagi memikirkan jika hal buruk menimpaku saat ini.


Mungkin jika menurut sebagian wanita, kebohongan masih bisa di maafkan. Tapi tidak untukku. Satu kebohongan kecil menurutku mampu merusak pernikahan. Satu titik celah pun mampu membuat orang asing masuk ke dalam rumah tanggaku. Aku sadar dari mana aku berasal. Aku bukanlah anak yang berasal dari keluarga baik. Rumah tangga mamah dan ayah begitu banyak permasalahan yang baru aku ketahui dimana perkara orang asing yang masuk dan menghancurkan semuanya.


Aku tidak ingin itu terjadi di dalam pernikahanku. Dan itu yang sedang aku lakukan saat ini. Yaitu menjaga semampuku keutuhan rumah tangga, dan salah satu penyebab bisa terjadi dari tempat hiburan malam. Kekejaman wanita di luar sana pada pernikahan kita patut kita waspadai.


"Anggia, tolong dengarkan aku dulu. Aku mau ijin tapi aku takut." kembali ku tutup ponselku. Aku mengusap air mata membaca pesan suamiku yang rasanya tak lagi bisa ku percaya.

__ADS_1


__ADS_2