25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kesederhanaan


__ADS_3

“Untuk saat ini kita masih belum bisa tahu karena kondisi janin memang masih sangat muda. Tapi, dari pemeriksaan ini memang adalah salah satu gejala keguguran. Dan ini saya resepkan vitamin serta obat penguat kandungan. Untuk mba nya tolong bedrest total yah? Nanti dua minggu lagi silahkan datang untuk melihat hasil perkembangan janinny.” Panjang lebar dokter mengatakan usai melihat keadaan janin di rahimku.


Air mataku tak hentinya menetes. Rasanya baru saja aku lega dengan pemeriksaan dokter tentang anakku. Sekarang aku dan Angga justru harus mendapatkan berita tak mengenakkan.


“Sayang, sudah jangan stress. Anak kita pasti kuat. Yang penting jangan kecapean lagi. Pokoknya mulai sekarang biar aku aja yang masak terus. Kamu harus istirahat total. Oke?” Aku tersenyum melihat Angga mengusap air mataku.


Salut bisa memiliki suami yang begitu baik dan pengertian. Di saat seperti ini Angga bahkan mampu menggantikan posisiku untuk masak dan membereskan rumah.


Aku benar-benar di rumah hanya berbaring dan makan yang ku lakukan. Ica dan suamiku yang mengurus urusan dapur.


Beruntung rasanya di saat seperti ini justru adikku datang membantu kami.

__ADS_1


Ketika sore harinya, dimana Angga baru selesai memasak. Aku mendengar ponselnya berbunyi.


“Iya, Mah?” Aku mendengar yang menelpon Angga adalah mamah. Entah mamahku atau mamahnya.


Detik berikutnya justru ia datang ke kamar dan memberikan ponsel padaku. Ia berkata melalui gerakan tangan tanpa suara untuk aku bicara dan dia akan melanjutkan kerjaan di dapur.


“Iya, Mah?” Sahutku ketika ponsel ku letakkan di daun telinga.


“Anggia, bagaimana kata dokter? Benar kamu gejala keguguran? Itu yang mamah dan ayah cemaskan. Kalau kamu tidak ikut jalan malam jemput adikmu, pasti tidak akan seperti ini. Kandungan kamu masih muda Anggia. Sangat rawan jalan tengah malam begitu. Sekarang kamu harus istirahat. Semoga saja semuanya bisa di pertahankan yah? Ingat jangan membantah sama Angga kalau di suruh di kamar terus.”


Jujur aku merasa bersalah. Apalagi ayah sempat memintaku untuk tidak jadi ikut dan membiarkan Angga yang pergi. Sayang, keras kepala ku justru membuahkan hasil yang tidak baik.

__ADS_1


Menyesali pun tak ada gunanya. Saat ini yang bisa aku lakukan adalah berdoa dan berharap semuanya baik-baik saja.


Di kamar aku mendengar adikku Ica dan suamiku tampak kompak memasak. Mereka benar-benar bekerja sama. Meski di rumah mamah ada pembantu, tapi aku dan Ica memang sering memasak untuk kami makan sendiri.


“Sayang, ayo duduk. Ini makannya.” Angga datang membawakan aku makanan.


“Ini susunya di taruh mana, Kak?” tanya Ica yang juga baru datang ke kamar.


“Taruh di sini saja.” aku menunjuk pada nakas di dekatku.


Ica ikut berbaring di tempat tidurku memainkan ponsel. Sedangkan aku di suapi oleh Angga makanan malam itu.

__ADS_1


Bersyukurnya aku memiliki keluarga kecil yang sederhana ini. Kami sama-sama anak dari orang berada tapi aku dan Angga sama-sama serba bisa melakukan apa pun.


Masak, membersihkan rumah, menanam bunga, dan mencuci baju dengan tangan pun sering kali kami lakukan bersama. Aku merasa semua kerjaan rumahku tak ada yang berat sebab di bantu suamiku. Bahkan Angga pun sering melarang aku terlalu lelah bekerja dengan laptop, tapi aku yang keras kepala lagi-lagi menolak. Menurutku bekerja itu penting sekali pun kebutuhanku tercukupi oleh suamiku. Aku ingin memiliki tabungan atau usaha yang dari modalku sendiri.


__ADS_2