25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Salah Paham Ayah


__ADS_3

Pertemuan singkat dengan Ibu. Kami berkumpul semua di rumah Ibu yang penuh dengan kenangan. Dimana sebelum kepergian Ayah, beliau sempat berkunjung kemari. Mamah dan Ibu berpelukan menangis memberikan semangat satu sama lain. Mereka adalah dua wanita yang sama-sama kehilangan sosok Ayah.


Hanya untuk berkunjung, itu sebabnya kami satu malam saja menginap di sana. Dan keesokan harinya kami pun bergegas untuk kembali pulang menuju rumah Mamah dan Ayah di kampung. Dimana semua keluarga dan kerabat Mamah menunggu kedatangan kami.


Banyak yang sedih tak bisa melihat pemakaman Ayah.


Ketika kami tiba di rumah satu persatu orang datang mengunjungi rumah memeluk Mamah dan menangis. Mereka semua adalah tetangga yang sangat dekat dengan kami. Di masa sulit dulu Mamah begitu sering menghabiskan waktu bersama mereka sekedar kumpul membuat kue lebaran sama-sama.

__ADS_1


“Sabar yah, Ni. Suamimu sudah tenang di sana. Kasihan Ayahnya Anggia. Sekian tahun dia terus merasakan sakit, sekarang Tuhan sudah kasih sembuh Ayahnya Anggia. Kamu harus kuat untuk dua anakmu. Ica masih butuh ibunya.” Aku meneteskan air mata tiba-tiba mendengar bagaimana ucapan tulus itu ku dengar.


Semua orang yang tinggal di lingkungan kami sangat baik. Mereka sudah seperti keluarga untuk kami. Itu sebabnya Mamah tidak mau pindah dari rumahnya. Mamah sama sekali tak pernah berniat pindah ke kota sekali pun penghasilan keluarga kami sudah cukup untuk ke depannya.


Melihat kondisi Mamah yang lemas dan patah semangat, aku hanya bisa membawakan makan untuk Mamah dan Ica. Di sini aku memiliki Angga yang bisa memberikan aku semangat. Tapi, Mamah dan Ica mereka tak memiliki siapa pun selain aku.


Aku ingat ketika Ayah masih hidup, beliau selalu mengatakan. Jangan pernah makan uang yang bukan hak mu. Apalagi sampai membiarkan orang lain kesusahan karena tidak mendapatkan bantuanmu. Bantulah sebisa mungkin kelak apa yang kamu berikan pada orang lain pasti akan berbalik dengan kebaikan yang kita dapatkan.

__ADS_1


“Ayah, terimakasih atas apa yang sudah Ayah ajarkan selama ini pada kami. Anggia bangga dengan Ayah.” ujarku dalam hati.


“Kasihan Ayahmu, Anggia. Katanya anak-anaknya semua nggak ada yang mau di bantu. Apalagi kamu, mau di bangunkan rumah katanya kamu nggak mau. Di kasih uang kamu mau kembalikan. Ayahmu sedih. Katanya untuk apa dia kerja di hidupnya kalau tidak bisa buat anak-anaknya senang.” Aku menunduk meneteskan air mata mendengar salah seorang teman Ayah berkata hal itu.


Penyesalan rasanya begitu besar aku rasakan. “Ayah, aku bukan tidak mau di bantu Ayah. Sepeserpun uang Ayah tidak tega aku memakainya. Aku sudah kerja, aku sudah punya suami yang bertanggung jawab untuk itu semua. Ayah yang sakit-sakitan. Aku ingin Ayah senangkan diri Ayah dengan hasil kerja Ayah.” Mungkin hanya kata penyesalan inilah yang bisa aku ucapkan.


Sebab Ayah sudah pergi tanpa tahu apa niatku yang sebenarnya. Aku hanya ingin Ayah dan Mamah menikmati masa tua mereka. Aku sudah cukup banyak membebani mereka di masa kecilku.

__ADS_1


Sekali pun aku tidak bisa memberikan apa-apa pada mereka, aku tidak boleh membebani Ayah dan Mamah.


__ADS_2