25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kepulangan Suami


__ADS_3

Pertengkaranku pada ayah saat itu tak lagi membuat hubunganku dengan ayah hangat. Kecemasan setiap kali aku memikirkan ayah pergi ke luar kota sendiri kini ku tahan. Karena Angga, karena kebohongan yang di lakukan kini hubunganku dengan ayah benar-benar jauh.


Dua minggu tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Suamiku telah pulang dengan kecemasan di wajahnya. Sebab aku tak kunjung mau bicara padanya. Setiap hari aku memilih diam sekali pun kami sedang melakukan panggilan video.


Aku tak perduli, mungkin saat ini aku telah berdosa sebagai istri mendiamkan suami ketika pulang ke rumah. Tapi, sekali ini aku hanya ingin mempertegas apa yang tidak aku inginkan terjadi dala rumah tanggaku. Aku wajib menegaskan hal yang tidak boleh di langgar. Itu semua demi keutuhan pernikahan kami.


“Anggia, aku pulang. Kenapa masuk ke dalam. Ayo kita bicara dulu.” Angga menarik tanganku ketika tiba di pintu rumah.


Aku hanya datang membuka pintu tanpa berniat melihat wajahnya sama sekali. Dadaku begitu sakit sekali. Tidak seharusnya aku mendengar kata-kata kasar dari ayah jika saja Angga tak berbohong padaku. Bahkan selama kami bertengkar pun ia masih fokus dengan jalan-jalan di luar kerjanya.

__ADS_1


Tak sedikit pun ia memikirkan bagaimana akibat kebohongannya. Sayang, semarah apa pun tak bisa ku lampiaskan dengan kasar padanya. Hanya air mata yang selalu tumpah tiap kali aku merasakan sakit ini.


“Jangan pernah sentuh aku, Angga. Jangan pikir masalah antara kita sudah selesai.” Tatapan mataku begitu tajam padanya.


“Oke. Oke aku salah, Anggia. Tolong maafkan aku…”


Tawa sinisku aku perlihatkan padanya. Aku berdecih tak suka mendengar ucapannya.


Tangan Angga di letakkan di kedua bahuku. Di tatapnya dalam kedua mataku. “Aku benar-benar minta maaf, Anggia. Aku tidak melakukan apa pun di sana. Tolong percaya padaku.”

__ADS_1


“Cih percaya sama kamu? Setelah apa yang kamu lakuin?” Kembali aku berteriak.


“Oke aku bohong. Tapi aku nggak macam-macam. Aku nggak selingkuh, Anggia.” Mendengar pengelakan dari suamiku, rasanya kepalaku ingin pecah sekali.


Kenapa begitu sulit memberi pemahaman dengannya.


“Pengkhianatan dalam pernikahan bukan hanya perkara selingkuh atau tidak, Angga. Kebohongan, sudah termasuk pengkhianatan. Lantas bagaimana bisa aku memaafkan kamu? Bagaimana aku bisa memulai semuanya dengan seolah-seolah tidak pernah terjadi apa pun? Kamu sudah menghilangkan kepercayaanku? Aku sudah capek. Mulai sekarang terserah kamu mau apa. Mulai sekarang juga aku nggak akan mau kerja. Kamu berani mengacaukan pikiranku, maka aku tidak akan mau kerja lagi. Susah payah aku fokus di rumah, rela kamu kurung setiap hari di rumah tanpa boleh kemana-mana. Disana kamu malah bohongi aku. Aku kerja bukan buat aku, Angga. Itu buat tabungan masa depan kita. Pernah nggak sih kamu mikir apa yang aku perjuangkan?” Tak terasa air mataku berjatuhan.


Mungkin semua orang tak pernah percaya bagaimana lelahnya aku bekerja tanpa kenal waktu. Siang dan malam aku kerja. Bahkan urusan rumah dan dapur ku kerjakan sendiri.

__ADS_1


Di bandingkan dengan sebelum menikah, hidupku sangat terpenuhi. Tak pernah ku rasakan berjuang sekeras ini sampai tubuhku remuk setiap bangun dari tidur pagi harinya. Menjadi pengisi suara di novel pun tak mudah ku lewati. Tenggorokanku sering luka dan kering. Tak jarang suaraku sampai benar-benar hilang. Di saat itu aku akan kembali fokus menulis novel.


Sayang, semua kerjaan yang tak di lihat orang terkadang membuat mereka meremehkan kerjaanku.


__ADS_2