25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Keputusan Kuliah


__ADS_3

Kepulangan ayah tentu saja di sambut hangat oleh Ica. Adikku begitu merindukan kedua orangtua kami. Ia memeluk erat tubuh pria tua itu yang duduk di kursi mobil. Antusiasnya melihat ayah datang. Aku senang dengan kepulangan ayah yang terlihat sehat kembali. Meski dokter mengatakan jika sakitnya tidak akan sembuh total. Pasti akan kembali kambuh sesekali sebelum melakukan operasi. Harapan kami semua ayah akan segera operasi secepatnya.


“Anggia,” panggilan itu membuat aku terkejut sekali dimana aku melihat ayah meringis sakit. Tangannya memegang dada seketika aku panik.


“Ica, sini.” Ku turunkan adikku dari pangkuan ayah.


“Mamah! Mamah!” Aku teriak memanggil mamah yang tampak sibuk mengurus barang dari mobil ke rumah. Aku panik ayah kesakitan saat ini.


Hingga beberapa orang yang tinggal di rumah tampak ikut membantu menurunkan ayah ke kamar. Di sana aku melihat mamah membantu memijit tangan ayah.

__ADS_1


Keadaan itu terus berlanjut dan ayah benar-benar bersikeras untuk tetap menunda operasi. Semua pekerjaan bahkan terpaksa harus ayah hentikan. Dokter memintanya untuk istirahat total tanpa memikirkan beban.


Terlihat kekecewaan mendalam di wajah ayah ketika ia harus berhenti kerja. Dimana usaha yang ia bangun susah payah sudah harus di hentikan saat waktu yang masih sangat singkat rasanya untuk di nikmati. Jujur kami semua juga sedih. Perjuangan ayah begitu sulit untuk bisa memiliki jalan seperti ini mencari rezeki. Tetapi, Tuhan seketika meminta semua di hentikan.


Kedua kalinya ayah harus kembali masuk ke rumah sakit. Di sini kami semua menangis mendapati ayah di larikan langsung dari tempat kerjaan ke rumah sakit. Ketakutan ku semakin menjadi kala melihat dokter membawa ayah ke ruang ICU kembali.


“Tuhan, mengapa kami mendapatkan ujian seperti ini? Mengapa ayah kembali sakit seperti ini?” Aku menangis memeluk adikku Ica yang juga menangis.


“Ica,” panggilan lirih terdengar bergetar di bibir ayah.

__ADS_1


Aku tahu anak yang paling memenuhi pikiran ayah adalah Ica karena usianya begitu kecil di bandingkan kami semua.


Ku lihat ayah meminta adikku untuk di suapi buah. Aku hanya diam. Jujur ingin sekali dekat dengan ayah. Tapi, entah mengapa aku merasa semua seperti ada tembok yang membatasi kedekatan kami berdua. Bahkan ayah tak mengajakku bicara. Ia hanya berbicara dengan adikku di sela napasnya yang terlihat begitu sulit.


Itu bukan pengalaman terkahir untuk ayah kembali masuk rumah sakit. Kami pikir jika ayah sudah tidak kerja lagi penyakitnya akan membaik. Ternyata tidak sama sekali. Ayah justru semakin sering kambuh. Beruntung semua hasil kerja selama ini sudah ayah jadikan investasi dan bisa mencukupi kehidupan kami semua.


Ketika aku lulus SMA, ayah menuntutku untuk segera lanjut kuliah. Kala itu aku meminta istirahat untuk memikirkan jurusan kuliah yang akan ku ambil. Satu tahun waktu aku gunakan bekerja melalui online sembari memikirkan semua yang harus aku putuskan.


“Bagaimana Anggia?” tanya ayah saat tiba sudah waktu untukku memutuskan kuliah.

__ADS_1


“Aku sudah dapat jurusan Ayah. Aku mau ambil jurusan desiner.” Untuk pertama kali aku mengucapkan keinginan. Dan aku lihat jelas ayah nampak merubah raut wajahnya menjadi mendung.


__ADS_2