
Subuh kami tiba kembali di rumah dengan Ica yang sudah kelelahan setelah kami jemput di kota tempat sebuah taksi berhenti. Khawatir jika kembali naik taksi lain, itulah yang menjadi alasanku dan Angga menjemput adikku. Aku pun merasa sangat lelah sampai langsung terlelap di atas kasur. Angga memintaku untuk berganti baju lebih dulu namun aku tak kuasa membangunkan tubuhku lagi. Sebagai suami yang begitu perhatian, ia bergegas mencarikan aku baju tidur dan menggantikan pakaianku.
Bersyukur mendapati suami yang sangat baik dan pengertian.
"Mengapa perutku rasanya semakin nyeri?" aku bertanya dalam hati usai menahan sakit di perutku sejak semalam. Angga memang tidak mengetahui hal tersebut sebab aku berusaha menutupi.
Jika aku pikir ini hanya sakit biasa seperti biasanya, nyatanya sampai pagi sakit itu tak kunjung hilang. Aku merasa mulai tidak tahan lagi.
"Ca, bantuin kakak cuci baju yok. Baju kotor kamu juga keluarin biar kita cuci sama-sama." tuturku memerintah adikku.
Kami bercerita sembari beberapa kali aku masih mengeluhkan sakit di perutku. Dan saat ini aku di buat sangat kaget. Satu tetes bercak darah keluar dari intiku ketika berada di kamar mandi usai membuang air kecil.
Panik, tentu saja aku sangat panik dan takut. Segera aku keluar dan menghampiri Angga yang kebetulan belum berangkat kerja.
"Angga,"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanyanya yang mendekat padaku.
Aku pun segera mengatakan padanya apa yang terjadi padaku saat ini. Dan terlihat reaksi Angga pun juga panik. Sayangnya hari ini adalah hari minggu dimana semua dokter akan libur tentunya.
"Apa ada sakitnya juga?" Angga bertanya sembari membawaku duduk dan tangannya mengusap perutku yang masih rata. Pelan kepalaku mengangguk.
"Sejak semalam sakitnya. Aku pikir hanya sakit karena kekenyangan seperti biasanya." jawabku jujur.
Sebab biasanya ketika aku kekenyangan makan dan langsung bergerak pasti akan sakit. Namun, hari ini seolah menjawab semua yang aku rasakan sejak semalam.
Ia mengatakan jika aku pasti kelelahan akibat perjalanan jauh semalam. Segera aku pun menggeleng.
"Tidak. Ini bukan karena jemput kamu. Sudah mandi gih sana. Kakak mau istirahat dulu yah?" Ica pun patuh tak banyak komentar. Aku tahu adikku sedang takut dan sedih saat ini.
Meski dalam hatiku yang paling dalam tampak mengatakan hal yang sama dengan dugaan adikku. Mungkin saja aku telah melakukan kesalahan dengan perjalanan jauh dan tengah malam. Sedangkan aku, mamah, dan ayah tahu jika aku lemah fisik.
__ADS_1
Satu hari itu aku gunakan untuk beristirahat tanpa melakukan apa pun. Menunggu hari esok untuk memeriksakan ke dokter. Rasanya darah yang keluar justru semakin sering meski tak banyak. Hanya berupa flek saja.
Kerjaanku dalam menulis pun terpaksa aku hentikan untuk hari itu saja. Ica yang datang berlibur justru harus membantu ku mengerjakan pekerjaan rumah.
Saat Angga bekerja aku selalu di temani adikku di dalam kamar. Suasana seperti ini rasanya seperti kami sedang kembali mengingat di masa lalu sebelum aku menikah. Kami akan menikmati waktu bersama di kamar berdua. Kadang menonton film horor di tengah malam. Tentu rasanya begitu merindukan momen bersama di rumah.
"Ca, tunggu kakak agak enakan kita jalan-jalan yah?" ujarku merasa bersalah dengan adikkua.
"Ih kakak ini sakit masih mikir mau jalan." tegur adikku.
"Kan kamu ke sini mau liburan. Masa kakak nggak bawa jalan-jalan. Sabar yah?"
"Yang penting aku ke sini sudah enak tau kak. Bisa puas mau makan apa aja mau main hp terus. Di rumah kan mamah sama ayah pasti marahin aku. Biar kadang aku baru pegang hp. Tapi, pas mereka lihat pasti ngira aku sudah lama main hp." aku tertawa mendengar aduan adikku yang lucu. Semua yang ia keluhkan tentu sudah ku rasakan.
"Sabar. Mamah sama ayah begitu karena takut kamu kecanduan main hp. Beruntung loh sekarang kamu di belikan ayah hp. Kakak dulu waktu SMA baru boleh punya hp."
__ADS_1