
Hari ini dimana Abangku sudah kembali pulang dengan Angga yang datang menggantikan Abang. Aku, Mamah, dan juga adikku Ica terus menangis sepanjang hari. Bergantian keluar masuk ruangan ICU. Ketika di luar ada temanku datang, aku meminta Angga menemani Ayah sejenak. Sampai beberapa menit berlalu aku mendapat panggilan.
"Anggia, sini." Angga melambaikan tangan padaku. Segera aku kembali masuk ke dalam bersama temanku.
Kondi Ayah sudah benar-benar tidak stabil. Dengan mata lelah menangis aku mendekat.
"Ada apa?" tanyaku pada Angga.
"Tadi Ayah buka mata. Sepertinya mencari kalian. Soalnya di ruangan sepi. Mungkin Ayah pengen di temani." Aku menatap sedih pada Ayah yang sudah menutup mata kembali.
Ku dekati Ayah dan ku genggam kembali tangan yang sudah bengkak itu.
"Ayah, bangun. Kami di sini kok temani Ayah terus. Mamah sama adek di luar gantian. Di sini nggak boleh jaga ramai-ramai. Ayah sehat yah. Aku sama Angga jagain Ayah di sini. Ayah harus sembuh yah?" Bergetar suaraku berkata demikian sampai pada akhirnya air mata ku lihat jatuh di sudut mata Ayah.
Aku tersenyum dengan air mata yang juga jatuh di pipiku. Senang rasanya Ayah masih bisa mendengar suaraku setidaknya itulah yang ku pikirkan. Atau mungkin Ayah sedang menahan sakit dalam air matanya, aku tidak tahu. Jelas aku bisa merasakan bagaimana sakitnya Ayah saat ini. Napas yang pendek begitu menyiksa Ayah.
Tak kuasa aku menahan sedihku, segera tubuh Ayah yang kurus ku peluk begitu erat. Perut buncit milik Ayah kini sudah kempes tak berisi lagi.
"Tuhan, sejak kapan Ayahku sakit sampai sekurus ini? Mengapa aku tidak tahu apa pun tentang Ayah selama ini? Bahkan Ayah kembali merokok pun aku dan Mamah tidak tahu sama sekali." Jeritan dalam hatiku ingin sekali teriak sekencang mungkin.
__ADS_1
Tiga hari ini tubuhku pun terasa semakin lemah. Sesuap nasi pun tak bisa ku makan. Sampai akhirnya malam pun tiba. Dimana aku berat sekali meninggalkan rumah sakit untuk mandi.
"Anggia, Pamanmu sama yang lain sebentar lagi akan sampai." ujar Mamah mendekati aku di ruangan.
"Orangtuaku sama keluarga yang lain juga sebentar lagi mau ke sini, Mah." Angga yang menyahut ucapan Mamah.
Aku hanya diam. Berharap dengan kedatangan mereka semua Ayah memiliki semangat meski dalam hati yang paling dalam aku merasakan sesuatu yang aneh. Aku merasa ada sesuatu yang sakit setelah ini.
Sepanjang waktu aku duduk diam, Angga dan Mamah bergantian keluar dengan Ica yang datang melihat Ayah bersamaku.
"Dek, baca doa terus yah? Doa anak untuk orangtuanya pasti Tuhan dengar." Ica mengangguk mendengar ucapanku.
"Kamu sama Kak Angga saja yah yang pulang mandi. Kakak bajunya bawakan ke sini aja." ujarku pada Ica.
"Loh Kakak nggak mau pulang mandi?" tanya adikku.
"Mau sih. Tapi kenapa rasanya Kakak lemas banget. Kayak berat gitu mau keluar dari sini." Pikiranku sejak sore tadi memang sudah sangat tak nyaman. Sepanjang waktu aku terus melihat layar monitor dan wajah Ayah bergantian.
Ketika mataku beralih ke arah perut Ayah, saat melihat napas yang sulit dalam hati aku memohon pada Tuhan untuk jalan yang terbaik buat Ayah. Meski sejujurnya sangat sulit sekali menerima jika apa yang Tuhan pilihkan tak sesuai dengan keinginanku.
__ADS_1
"Kak, Kakak kenapa?" Ica mendekati aku ketika aku menunduk menangis.
Aku hanya bisa menggeleng. Takut kemungkinan terburuk terjadi pada Ayah.
"Tuhan, sembuhkan Ayah. Aku mohon..." Tak pernah bosan aku meminta pada sang kuasa sampai akhirnya Mamah masuk kembali. Dimana ruangan berisi tiga orang dan aku tidak mau melanggar peraturan di ruangan itu.
"Dok, tangan Ayah bengkaknya kok nggak turun-turun yah?" Aku memilih mendekati Dokter yang berjaga di ruangan itu.
Segera ia pun memeriksa. Aku dan Ica memperatikan sementara Mamah kembali keluar sebab ada beberapa orang yang datang menjenguk Ayah.
"Kondisi pasien sudah mendekati koma, Mba." jawab Dokter yang aku masih tanda tanya.
"Untuk monitor itu di angka berapa normalnya, Dok?" tanyaku yang ingin penjelasan dari dokter.
"Saat ini kita bukan mengejar angka normalnya, Mba. Tapi di sini keadaan pasien sudah tidak stabil lagi. Semuanya menurun. Tingkat kesadarannya sangat lemah, bahkan tensi yang turun tiba-tiba naik tinggi, dan tiba-tiba turun sangat rendah. Ini sudah tidak wajar lagi." Aku menunduk menangis mendengar ucapan dokter.
Ku lihat mata Ayah sudah di buka paksa oleh dokter dan di senter. Bola mata yang beberapa hari ini masih terbuka dan terlihat jernih kini sangat keruh. Bahkan tak ada pergerakan lagi di bola mata Ayah.
Aku semakin ketakutan. Ingin mengatakan apa pun pada Mamah tak bisa lagi aku sampaikan.
__ADS_1