
Enam bulan pernikahan, semuanya baik-baik saja. Aku begitu bahagia dengan pernikahanku. Kami hidup berkecukupan tanpa ada masalah apa pun. Hubungan kami yang baru terasa masih seperti berpacaran. Bahkan sering kami menghabiskan waktu untuk berjalan atau pun sekedar nongkrong.
Hingga di waktu subuh pikiranku teringat tentang waktu datang bulan yang akan datang beberapa hari lagi. Entah mengapa feelingku sedang terjadi sesuatu pada tubuhku. Terutama bagian dada yang sangat beda dari masa ku akan datang bulan.
“Ah masa iya aku hamil? Kan ini juga sama seperti mau datang bulan.” Aku bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil.
Pikiranku terus gelisah memikirkan jika ada harapan besar apa yang ku pikirkan akan terjadi. Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk memesan online testpack. Angga pagi itu belum bangun. Ia sangat nyenyak tidur. Tanpa ia tahu jika di luar aku tengah menunggu belanjaanku. Bersyukur ada yang menerima orderan onlineku.
Pesananku tiba dan segera aku mengecek apa yang membuat pikiranku gelisah. Di kamar mandi dadaku berdetak kencang menunggu hasil sambil berjongkok.
“Hah? Positif? Ya Tuhan, ini benar positif kan?” Aku begitu senang sampai cepat-cepat keluar kamar mandi dan masuk ke kamar.
“Angga! Angga, bangun!” Gerakan tanganku membuatnya tersadar. Mataku di usap kasara menatapku dengan pikiran masih sulit konek.
“Ada apa?” tanyanya namun aku justru langsung menyerahkan benda kecil itu ke tangannya.
Saat itu juga ia pun membangunkan tubuhnya yang masih berbaring. Ia duduk bersender dan menatap lekat benda yang ada di tangannya. Aku sudah tersenyum sambil menjelaskan hasilnya.
“Itu kalau garis dua berarti positif. Tapi yang satunya samar. Aku baca nggak masalah kok. Itu tetap positif.”
“Sayang, coba nanti siang kita beli alat beberapa lagi dan kita tes lagi yah?” Aku mengangguk meski sedikit kecewa dengan reaksi suamiku.
Apa hanya aku yang terlalu senang dengan hasil ini? Bahkan hari itu Angga sampai tak masuk kerja demi menunggu siang tiba. Dimana kami akan kembali melakukan tes kehamilan.
Aku masuk ke kamar mandi dengan tiga tespeck di tanganku. Suamiku berdiri di depan kamar mandi. Apa mungkin dia tidak percaya dengan yang aku tunjukkan?
__ADS_1
Ah masa bodoh. Toh aku sudah yakin jika aku saat ini hamil. Bayangan pertama ketika hasil pagi tadi keluar adalah wajah bahagia ayah. Aku tahu jika aku hamil orang nomor satu yang paling senang adalah ayah. Meski semua juga pasti senang. Tapi, ayag adalah orang yang selalu menantikan kabar baik ini sampai sering kali menghubungi sekedar bertanya hal itu.
“Tuh kan hasilnya sama. Garis dua, Angga.” Aku menunjukkan tiga benda yang sudah aku angkat dari cairan milikku.
Segera aku keluar dari kamar mandi. Angga menarik tanganku pelan menuju sofa dimana ia saat ini duduk dan membuat aku duduk di atas pangkuannya.
“Selamat yah, Sayang. Makasih yah?” Barulah aku lihat ia senyum padaku dan mencium pipiku dengan penuh cinta dan bahagia. Ia mengeratkan pelukannya di tubuhku.
“Di jaga baik-baik. Sayang jangan capek-capek. Aku mau kirim foto ke mama dulu.” Ia memotret hasil tespack ku dan aku pun melakukan hal yang sama. Mengirim gambar itu pada ayah dan mama.
Lama aku tak melihat ayah membuka chatku. Justru mamah yang menghubungiku saat ini.
“Anggia, selamat yah Nak. Mamah senang dengarnya. Ingat jangan capek-capek. Kurangi kerja di rumahnya yah? Kalau perlu cari orang buat bantu di rumah. Nanti mamah yang bayar gajinya.” Ada rasa hangat yang menjalar di hatiku mendengar ucapan mamah yang sangat perhatian.
Mendengar itu aku semakin takut kehilangan kedua orangtuaku. Dimana usiaku semakin dewasa dan mama dan ayah semakin tua.
“Mah, rumah kami kan kecil. Buat apa kerjakan orang? Lagian kalau cuman masak aku biasa di bantuin Angga kok. Mamah jangan khawatir.”
“Lihat tuh, adikmu senyum-senyum sendiri dengar kakaknya hamil.” Aku terkekeh saat mamah menceritakan adikku.
Aku paling tahu bagaimana Ica sangat ingin memiliki adik namun sayang Tuhan belum memberikan rejeki.
“Yasudah, kamu istirahat. Jangan terlalu kerja berat. Kurangi cuci baju itu. Kalau perlu beli mesin cuci aja biar aman.”
“Iya, Mah.” Aku hanya mengiyakan sebab membeli mesin cuci pun rasanya tak berguna. Aku takut dengan baju-bajuku yang cantik-cantik harus rusak karena mesin cuci.
__ADS_1
Selain itu kami juga harus memikirkan keuangan untuk membangun teras dan pagar rumah.
Panggilan pun mamah putuskan. Aku kembali mendapat pelukan Angga sembari ia menelpon mamah mertua. Kabar bahagia ini benar-benar membuat aku lega. Setidaknya ketakutanku tentang mandul tidak benar. Meski sebelumnya ada rasa gelisah ketika aku tak kunjung hamil.
Di luar sana banyak sekali temanku yang dua bulan tiga bulan pernikahan sudah hamil. Dan sekarang giliranku. Tuhan, terimakasih. Aku sudah kau beri kepercayaan dan ini bisa menjadi kebahagiaan buat ayah sebelum menjalani operasi.
Tak lama setelahnya ayah pun membalas pesan yang aku kirim.
“Terimakasih Tuhan. Syukurlah Nak, kamu sudah hamil. Ayah dengar juga dari mamahmu tadi. Ingat makan makanan yang bergizi. Sering ke dokter untuk mengontrol. Jangan di sayang-sayang uang untuk anak itu yah?” Aku tersenyum membaca pesan balasan dari ayah.
Doaku selama ini ingin hamil agar ayah bisa punya semangat untuk operasi. Aku tahu ayah selalu menunda operasi sekian tahun karena takut dengan pengakitnya yang komplikasi.
Selain jantung dan tekanan darah tinggi, ayah juga menderita diabetes saat ini. Sedih rasanya sering kali mendengar ayah mendapat luka bisul yang berbulan-bulan lamanya baru sembuh. Jatuh sedikit terkadang kaki ayah sulit untuk kembali sehat.
Sebagai anak semua orang pasti akan sangat sedih menyaksikan penyakit demi penyakit menghampiri ayahnya. Demikian denganku. Harapan terbesarku ayah dan mamah panjang umur dalam keadaan sehat. Walau pun akhirnya harus pergi, aku ingin mereka pergi dengan keadaan baik bukan menderita sakit sekian lama hingga akhirnya menyerah.
Selama kuliah aku selalu bertanya untuk ayah operasi hingga akhirnya aku menikah ayah tak kunjung melakukan operasi.
Satu bulan kehamilan semua baik-baik saja. Aku kembali menghubungi mamah.
“Mah, aku habis kontrol ke dokter. Semua bagus kok.” Mamah mengucap syukur dan ku dengar jika mamah tengah menyampaikan pada ayah.
Meski hatiku sendiri sedikit gelisah saat mendengar ucapan dokter yang menurutku membuat aku syok saat ini.
“Ini kantungnya kok nggak ada? Wah ini sebentar coba kita cek lagi. Iya ini benar nggak ada. Bisa kemungkinan ini adalah hamil di luar kandungan.” Pernyataan yang tak pernah aku harapkan kini ku dengar dari dokter. Dadaku rasaya seperti lemas berhenti detakan jantungku saat itu juga.
__ADS_1
Ku rasakan Angga menggenggam tanganku. Ia tampak jauh lebih tenang dariku. Sementara aku yang memikirkan banyak hal sudah merasa sulit sekali untuk tenang.