
Di ruangan kini ada aku, Mamah, dan satu orang pria teman Ayah. Kami bertiga hanya diam terus menatap monitor di depan sana. Grafik yang terus bergerak tak beraturan semakin membuat air mataku dan Mamah berjatuhan. Begitu pun dengan pria yang menjadi teman Ayah. Ia terus membacakan doa. Ku lihat tangannya memegang kaki Ayah sembari memberikan pijatan lembut. Sesekali aku pun memegang kaki Ayah yang terasa sangat dingin. Firasat buruk semakin kuat ku rasakan kala merasa sebagian tubuh Ayah sudah dingin. Meski di depan sana Ayah masih bernapas tapi itu karena alat bantu yang menempel pada mulut Ayah.
"Mah, aku keluar dulu yah? Kita bertiga nanti takutnya di tegur sama dokter." Mamah menganggukkan kepala. Saat itu juga aku menumpahkan tangis di luar setelah berlari ke ruang tunggu.
Malam ini rasanya hanya menunggu waktu ketika Tuhan memanggil Ayah. Meski menolak ribuan kali nyatanya aku bisa merasakan jika waktu itu akan segera tiba.
Angga memeluk aku yang terduduk menangis di ruang tunggu. Ica pun duduk menangis melihat aku menangis.
"Sayang, sudah yah. Kita berdoa hanya keajaiban Tuhan yang kita harapkan saat ini." Sampai pada akhirnya kami semua kaget di luar ketika teman Ayah yang di dalam ruang ICU berlari keluar.
"Ayahmu, Anggia. Ayahmu." Teriaknya sembari berlari kembali masuk.
Tak lagi aku bertanya, aku lari ke dalam. Adikku dan Angga pun ikut lari bersamaan.
__ADS_1
Pertama kali aku melihat momen menyakitkan seperti ini. Ayah sudah tak lagi memakai alat bantu napas. Dokter sudah membantu mengatur alat pernapasan yang ia pegang sembari di tempel kembali pada mulut Ayah.
"Ayah, ayo bangun. Sekali ini aja Tuhan dengar doaku. Tuhan aku mohon beri keajaiban untuk Ayahku." Terus aku berucap sampai dokter menekan-nekan dada Ayah. Aku menangis melihat tak ada reaksi apa pun yang Ayah berikan.
"Ayah!" teriakku tak perduli jika itu di ruangan ICU. Kedua kaki yang dingin ku cium berkali-kali.
"Aku minta maaf, Ayah. Aku minta maaf. Maafkan Anggia, Ayah. Bangun. Ayah bangun." Detik itu juga ruangan ku rasa begitu sesak sekali. Aku tidak tahu siapa saja yang datang.
Pandanganku hanya tertuju pada Ayah. Dokter di sana masih terus berusaha membantu agar detak jantung Ayah kembali. Sampai pada akhirnya mereka semua menyerah.
Satu persatu ku lihat malam itu wajah siapa saja yang berdatangan. Entah mengapa rasanya seperti mimpi. Ayah pergi di waktu yang bersamaan begitu banyak orang yang datang.
Aku menggeleng. "Tidak. Ini bukan nyata. Ayah pasti masih ada." gumamku terus menggelengkan kepala. Tanganku masih terus memijat kaki Ayah.
__ADS_1
"Sayang, kuat. Ayah sudah nggak ada." ujar Angga yang memelukku dari belakang.
Aku tertawa. Rasanya bukan sedih saat ini. Aku hanya merasa sedang bermimpi. Tiga malam aku bersama Ayah bukanlah waktu yang lama.
"Nggak, Angga. Ini nggak benar. Ayah masih hidup. Aku mimpi kan?" Tak sadar aku berteriak begitu kencang. Mungkin benar dengan menyakiti diri aku bisa tahu ini nyata atau mimpi.
Berkali-kali tangan Angga ku raih dan pukul ke wajahku. Aku masih terus melakukan sampai akhirnya Angga memelukku.
"Anggia, sudah. Ayah sudah tidak ada. Jangan seperti ini." Aku terus menggeleng. Rasa begitu sulit merasakan jika malam ini sebuah kenyataan. Ayah yang selalu ku lihat melawan sakitnya kini tak lagi bisa melawan. Ayahku yang paling kuat melawan sakit kini sudah menyerah.
Lama aku duduk di luar setelah Angga membawaku keluar ruangan. Aku hanya duduk menatap semua orang yang datang. Rumah sakit seketika penuh dengan banyaknya teman Ayah.
Air mataku terus berjatuhan tanpa aku bersuara.
__ADS_1
"Tuhan, nyatakah ini? Benarkah sekarang tinggal aku, Mamah, dan Ica? Mengapa rasanya seperti kilat sekali? Aku belum bisa merasakan jika ini nyata, Tuhan? Ayah, aku belum hamil. Ayah belum melihat anakku..."