
Kini aku duduk bersampingan dengan ayah di pesawat. Dimana aku akan melanjutkan kuliah tanpa keinginanku sama sekali. Mataku nampak berkaca-kaca melihat awan di depan samping dari luar jendela pesawat. Aku hanya berangkat dengan ayah tanpa mamah dan adik mengantarku ke kota tempatku berkuliah. Sungguh rasanya begitu sangat berat meninggalkan mamah dengan keputusan yang ayah ambil saat ini. Keputusan dari ayah untuk kuliah dengan jurusan yang tidak pernah ku pikirkan. Ayah mantap dengan keputusannya tanpa mau mendengar keinginanku sama sekali.
"Kamu harus kuliah dengan benar. Jangan pernah main-main dengan kuliah, Anggia. Ayah sudah tua, siapa yang kamu harapkan lagi kelak jika kamu tidak sukses?" aku hanya diam kala ayah berkata demikian sebelum keberangkatan ku ke tempat kuliah.
Di sinilah kami berada. Rumah tante menjadi tempat persinggahan pertama kami di kota besar ini. Ayah justru meninggalkan aku ke hotel. Aku merasa benar-benar asing di tempat baru dengan orang yang baru. Dimana semua kuliah bahkan aku sendiri yang harus mengurus di bantu dengan temanku.
Aku benci dengan usia dewasaku dimana aku harus melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan mamah dan ayah. Bahkan aku merasa sangat sulit untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru.
Mendaftar kuliah aku meminta kakak sepupu mengantarku, meski rasanya sangat malu sebab tak begitu kenal. Tetapi keadaan benar-benar memaksaku untuk melakukan ini.
Hari ini aku pulang ke rumah tante dengan perasaan lega dimana urusan kuliahku sudah selesai. Meski di awal aku sedih kala tes kuliah tak bisa aku lewati dan aku tidak lolos. Bahkan jelas aku mengingat ucapan ayah yang sangat marah ketika mendengar aku tidak bisa lolos di kampus yang ayah pilihkan.
Dan kini aku hanya diam mendengar umpatan dari ayah berbagai macam kata yang membuatku sangat sakit. Tetapi, aku sadar ayah marah karena aku memang tidak bisa membuat ayah bangga.
"Jujur ayah sangat kecewa denganmu, Anggia. Ayah merasa gagal mendidikmu. Lihat ibu di sana, abangmu ada tiga tanpa bantuan ayah mereka bisa sukses dengan sarjana semua." tak ada yang bisa aku ucapkan ketika ayah berkata demikian. Aku memang tak bisa sesuai dengan apa yang ayah harapkan selama ini.
__ADS_1
Aku tak mengapa jika ayah terus mencercaku dengan kalimat yang sangat menyakitkan, tetapi aku akan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Aku hanya memiliki satu tujuan, yaitu lulus kuliah dengan cepat. Meski dalam benakku aku sendiri merasa sangat kesal mengapa kepalaku sangat sulit mencerna semua pelajaran saat ini. Meski aku memaksa tetap saja pikiranku tidak bisa fokus.
Satu minggu aku bersama ayah di kota yang sama namun beda tempat tinggal. Ayah sibuk dengan urusannya sendiri. Yah, ayah berusaha mencari pengobatan tradisional dengan temannya. Dan aku sibuk memenuhi perlengkapan kuliahku bersama kakak sepupuku.
Dan kini pagi-pagi sekali aku kedatangan ayah di rumah tante. Keputusan ayah sudah bulat jika aku akan kuliah dan tinggal di rumah tante.
"Ayah sudah harus pulang. Kamu baik-baik di sini tinggal di rumah tante. Ingat jangan nakal dan bertingkah. Ayah ingin kamu selesai kuliah dan segera lanjut ke S2." meski terdengar begitu berat namun aku hanya bisa diam tersenyum tanpa menolak ucapan ayah. S1 saja belum di mulai bagaimana mungkin ayah sudah membicarakan S2? Biarlah mungin hanya itu yang bisa membuat ayah tenang meninggalkan aku di tempat tante.
Kepulangan ayah kini aku gunakan untuk belajar. Jujur aku merasa tak percaya diri dengan kemampuanku saat ini. Bahkan mamah yang sering menghubungi sekedar menanyakan kabar tak begitu aku perhatikan. Pikiranku benar-benar terfokus pada kuliah. Aku tidak ingin jika memiliki teman yang bisa merendahkan aku dengan pikiranku yang kurang mampu dalam belajar. Entah mengapa rasa masa bodohku mendadak sirna begitu saja ketika aku memasuki masa kuliah.
Perkuliahan pertama di mulai aku dengan giat memperhatikan semuanya. Meski sedikit sulit ketika aku mencari teman.
“Ingat, belajar yang benar. Jangan pikirkan macam-macam Anggia.” ujar Ayah di pesan yang di kirimkannya padaku.
Aku melihat dengan helaan napas kasar. Selalu saja seperti ini. Oke, tak masalah. Aku akan buktikan pada ayah jika aku bisa.
__ADS_1
Selama kuliah aku mulai mendapatkan teman. Aku memiliki teman-teman yang cukup mensuport aku dalam pikiranku yang sedikit kurang paham dengan pelajaran. Mereka benar-benar berteman denganku begitu tulus. Jujur, dari sini aku mulai paham. Kuliah bukan hanya serta merta tentang nilai kuliah yang kita dapat dan gelar. Tetapi aku bahkan mulai bisa mengintropeksi diri dan menyesuaikan diri dengan teman-teman. Bahkan aku menemukan banyak pelajaran dari masing-masing karakter teman dekat mau pun sekelas.
Hidupku yang lebih suka berfoya-foya menghabiskan uang yang mamah kirim, kini tak lagi aku lakukan. Aku terus saja berlatih hemat dan menabung. Setiap mamah dan ayah mengirimkan uang aku selalu menabung. Berpikir suatu saat ini aku pasti akan sangat butuh tabungan. Bahkan bayangan skripsiku yang mungkin membutuhkan uang banyak kelak.
Setelah kuliahku menginjak semester dua. Ada rasa tak percaya ketika ayah menelpon dan menanyakan kendaraanku.
“Anggia, berapa harga motor yang kamu inginkan? Kamu ingin motor apa?” Sedikit keningku mengerut dalam mendengar pertanyaan ayah. Kulihat ponsel benar nama ayah yang tertera di sana.
“Anggia, kamu dengar ayah bicara kan?” tanya ayah dari seberang sana membali.
“Ha-lo, ayah. Iya aku mendengarnya.” jawabku dengan gugup.
“Ayah kirim uang besok kamu kasih tau motor apa yang mau kamu pakai kuliah di sana.” Mendadak mataku membulat sempurna mendengar ucapan ayah. Rasanya sungguh tak percaya. Bahkan aku sempat menolak pemberian ayah sebab menurutku aku tidak begitu membutuhkan kendaraan. Di kota besar tempatku kuliah sangat banyak kendaraan yang bisa aku pesan melalui online. Namun, ayah tetap kekeuh untuk membelikan aku kendaraan roda dua.
Rasanya air mataku tak bisa berhenti jatuh saat melihat sebuah motor sudah datang di depan kos ku. Di luar sana begitu banyak anak yang memohon kendaraan pada orangtuanya bahkan rela melakukan segala cara demi mendapatkan keinginanya. Sementara aku begitu mudah mendapatkan apa yang ku inginkan bahkan tidak menjadi kebutuhanku.
__ADS_1
Ayah benar-benar sangat baik tanpa bisa aku rasakan. Terkadang apa yang aku inginkan tak selalu di penuhi, tapi ayah tahu apa yang harus ia penuhi untuk kebutuhanku.
“Terimakasih, Ayah. Kau benar-benar ayah terhebat yang ku miliki.” ujarku hanya sanggup dalam hati ku ucapkan.