25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kedatangan Ayah


__ADS_3

Liburan usai dimana aku sudah harus kembali melanjutkan pendidikanku. Kami berpisah menuju tempat tinggal masing-masing. Memiliki adik rasanya membuat aku semakin betah di rumah. Lagi pula ayah sudah semakin jarang di rumah. Ica adikku sedih ketika harus aku tinggalkan. Tinggal di rumah berdua sama mamah sering kali membuat mereka bertengkar hingga aku pun menjadi pendengar adikku.


Jarak kami memang lumayan jauh, tapi ica merasa nyaman cerita apa pun masalahnya denganku sebab aku sendiri yang selalu menawarkan diri untuk jadi pendengar.


“Kalau ada masalah sama siapa pun cerita sama kakak yah? Mau mamah dan ayah atau teman-teman. Pokoknya kalau ada yang mau Ica cerita, telpon kakak yah?” Itulah pesan yang sering kali ku ucapkan dan ternyata semakin kesini adikku benar-benar semakin terbuka.


Di kota pendidikan ini aku mulai kuliah. Meski kecerdasanku tidak begitu baik. Aku salah satu mahasiswi yang sangat rajin kuliah. Aku sadar dengan kemampuanku yang standar akan sulit mendapat nilai. Maka dari itu mungkin kehadiranku yang selalu rajin bisa membuat kepalaku sedikit terbantu untuk berpikir.


Jujur pikiranku jauh lebih maju di bandingkan ketika aku di SMA. Di sini aku sangat memikirkan semua tentang pendidikan meski nilaiku tak bisa tinggi. Setiap tugas yang dosen berikan, aku selalu saja bisa mengerjakan bahkan lebih dulu dari waktu yang di tentukan.


“Anggia, besok ayah ke sana.” Ketika pulang kuliah aku cukup terkejut melihat isi pesan dari ayah. Dimana aku sendiri sangat gugup.


Yah, selama kuliah memang aku tak ada dekat dengan pria mana pun. Tapi, tetap saja kerasnya ayah padaku selalu membuatku takut.


Segera aku menghubungi mamah.


“Ada apa, Anggia?” tanya mamah.

__ADS_1


“Mah, ayah besok berangkat yah?” tanyaku pada mamah.


“Iya. Ayahmu lagi pusing sama orang di sini. Mungkin mau tenangkan pikiran di sana. Kamu jangan bikin ayah tambah pusing yah? Nanti sakitnya kambuh lagi.”


“Mamah kenapa tidak ikut?” Aku bertanya lagi dan mamah hanya menghela napas.


Entah apa yang terjadi lagi di antara mereka saat ini. Yang jelas mamah terlihat seperti sedang sedih.


“Ayahmu di perhatikan makannya yah? Jangan sampai gulanya naik lagi.” Aku pun memilih tak banyak tanya.


Di rumah tante aku mulai berpikir bagaimana ayah masuk ke rumah ini sedangkan jalan hanya muat untuk roda dua. Mobil harus di parkir di depan gang. Kasihan ayah pasti akan kambuh jantungnya. Aku pun bergegas bicara tentang kedatangan ayah dan paman ternyata tidak keberatan menjemput ayah. Sedikit perasaanku senang.


Hingga sejak hari itu menuju hari keempat, aku tak kunjung mendapat telepon dari ayah. Hanya pesan singkat yang ku baca ketika ayah mengatakan sudah sampai dan ada urusan.


Aku memberi tahu mamah pun tak ada respon dari mamah.


“Ayahmu kok belum kesini juga, Anggia?” tanya tante yang masuk ke kamar saat aku berberes pakaian.

__ADS_1


“Aku juga nggak tahu tante. Yang penting ayah sudah ngabarin kalau sudah sampai.” jawabku bingung.


“Apa ayahmu nggak mau tidur di rumah jelek tante ini yah?” Perasaanku mendadak tak enak rasanya. Bagaimana mungkin aku nyaman mendengar ucapan tante. Sementara aku bahkan di sini menumpang di rumahnya.


“Yasudah kamu istirahat.” Tante segera keluar saat melihat aku diam saja.


Pikiranku semakin kacau. Entah ayah dengan siapa dan dimana selama tiga hari ini.


“Ayah, sudah makan?” Segera ku kirim pesan. Takut akan pesan mamah untuk menjaga kadar gula ayah.


“Sudah.” Hanya pesan singkat itu yang ayah kirim.


Aku bingung harus bagaimana. Takut menanyakan keadaan ayah dan dimana saat ini. Hingga akhirnya aku melihat ayah memposting foto di akun sosial media miliknya.


Aku menghela napas kasar. Ternyata ayahku sibuk jalan kesana kemari. Tempat wisata yang jauh dan menarik menjadi tujuan ayah beberapa hari ini.


“Astaga…” ujarku menggeleng. Tak percaya jika ayah ternyata sibuk jalan-jalan sedangkan kami semua mencemaskan keadaannya.

__ADS_1


Yah memang begitulah ayah. Pria yang selalu memikirkan kami semua di sekitarnya, terkadang ia sampai lupa memikirkan dirinya. Dan ayah sangat tidak percaya jika ada yang khawatir dengannya.


__ADS_2