
Selesai dengan pendidikan ku, aku tak melamar kerja di mana pun. Bukan inginku semua itu. Namun, pekerjaan yang aku tekuni dari menulis begitu menawarkan gaji yang cukup. Bahkan berapa pun yang aku inginkan selama aku mampu mengerjakan mereka akan membayarnya. Yah, itulah yang membuat pikiranku mantap menghabiskan setiap waktu hanya berdiam di rumah tanpa keluar. Pilihan yang mudah tapi sulit ketika aku menjalaninya. Tak sedikit yang sering kali bertanya tentangku pada mamah dan ayah.
“Loh Anggia katanya sudah lulus? Kok nggak kerja?”
“Anggia masih nganggur yah? Belum dapat kerjaan?”
“Habis lulus kuliah, Anggia mau langsung nikah kah kok nggak kerja-kerja?” Berbagai pertanyaan sering kali aku dengar.
Namun, aku senang ketika mendengar jawaban mamah dan ayah yang mengatakan aku hanya kerja di rumah saja. Penghasilannya sudah lumayan dari pada kerja di luar belum pengeluaran sehari-hari. Bahkan mereka pun mengatakan jika Angga kekasihku memang melarang aku bekerja.
Sekali pun ayah dan mamah selalu menegaskan padaku untuk tidak minta selembar uang pun pada Angga. Sebab ayah tak mau jika sesuatu terjadi pada kami dan Angga justru menuntut balik atas semua yang ia berikan.
“Ingat Anggia, sebagai perempuan jangan pernah rendahkan dirimu apa lagi hanya karena meminta uang. Ayah mampu berikan jika kamu masih kurang dengan gajimu. Jangan pernah buat ayah dan mamah malu apalagi soal uang.” Aku patuh.
Selama pacaran tak pernah sekali pun aku meminta apa pun pasa Angga. Bahkan ia sering memaksa aku untuk menerima pemberiannya. Itu sebabnya karena didikan ayah pula aku jadi merasa kesal setiap mendengar orang meminta-minta meski bukan padaku.
Justru aku merasa senang memberi pada orang yang lebih gigih berusaha meski hanya sekedar untuk sesuap nasi.
“Aku capek! Aku capek kerja di rumah terus. Setiap hari aku mikir kerja-kerja. Aku pengen kerja di luar sekedar menghibur pikiran aja.” Satu tahun berjalan aku mulai merasa penat dengan rutinitas ku yang hanya di kamar bekerja tanpa kenal hiburan.
Jarang bertemu orang untuk sekedar tertawa, sedangkan kerjaanku menuntut untuk terus berpikir mencari ide. Di sinilah perkelahian pertama kami dapatkan hingga aku menangis. Jujur pacaran jarak jauh tentu sangat berat di tambah kesibukan kami masing-masing.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya Angga berjanji akan pulang cuti dan mengajak aku berjalan-jalan. Ia menepati janjinya seminggu kemudian. Tentu saja itu adalah keinginanku, sebab dirinya sendiri yang selalu melarang aku kemana pun pergi.
Aku tahu semua itu karena perhatiannya yang takut jika terjadi sesuatu padaku. Sebagai calon pun aku tahu memang seharusnya aku patuh.
“Aku sudah datang penuhi janjiku kan? Secepatnya kita akan bersama. Aku akan mulai mengurus semua syarat pernikahan kita, okey?” Aku menganggukkan kepala.
Ayah bahkan begitu memberikan izin setiap kali Angga menjemputku jalan. Tentu dengan mamah yang memberi pesan untuk menjaga jarak. Semua hal masih bisa terjadi sebelum kata sah dalam pernikahan terjadi.
Kami berdua menghabiskan waktu dengan ke pantai berdua. Jujur aku senang untuk pertama kalinya merasakan kencan seperti ini tanpa harus sembunyi-sembunyi dari ayah.
“Anggia,” panggilnya dan aku segera menolehkan kepala.
“Aku dapat cuti dua minggu. Tapi satu minggunya terpotong karena ada kerjaan. Kamu tidak masalahkan?” Ragu aku hanya bisa mengangguk.
Jujur aku sedih mendengarnya. Belum saja rasa penatku terobati, Angga sudah harus kembali dalam waktu beberapa hari.
Dimana bayangan kerjaanku yang akan membuat aku kembali stress. Mulanya kerjaan itu hanya menjadi hobi ku saja. Aku menjalani semua dengan senang. Hingga akhirnya aku mulai memaksakan diri untuk bekerja lebih banyak agar mendapatkan penghasilan lebih untuk membantu biaya nikah kami kelak.
Perasaanku benar-benar tak tega rasanya membiarkan Angga kerja sendirian untuk memikirkan pernikahan kami. Sedangkan ia pun sudah di haruskan oleh ibunya untuk memulai cicilan rumah. Tentu itu tak mudah untuk Angga yang masih muda.
“Iya tak masalah. Maaf jika aku membuatmu terbebani. Mungin emosionalku kemarin hanya karena terlalu bosan. Kadang aku ingin sekali kerja di luar rumah bertemu dengan orang-orang setidaknya itu bisa menjadi teman ceritaku di tempat kerja.”
__ADS_1
“Anggia, aku sudah katakan kalau kau mau aku bisa memberikan seperti gaji yang kamu ingin. Asal tidak kerja di luar. Kamu tahu aku sangat takut kamu bertemu laki-laki di luaran sana.” Lagi Angga kekeh dengan pendiriannya.
“Bukan soal gaji, Angga. Ini soal pikiran yang terkadang benar-benar membosankan.”
“Bertahanlah sebentar lagi. Setelah kita menikah, aku akan membawamu tinggal bersama. Setiap hari kita bisa keluar jalan bersama ketika aku pulang kerja dan kerjaanmu bisa di kerjakan di luar bukan? Aku janji secepatnya kita akan bersama.”
Hatiku pun luluh mendengar ucapan Angga. Aku tahu seharusnya aku tidak mendesaknya seperti ini. Tapi, entah mengapa kegiatanku di masa kuliah yang sering ku habiskan waktu di luar kos membuat aku sangat jenuh ketika harus kerja tanpa bertemi siapa pun. Mamah dan ayah sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Ica pun juga sibuk dengan sekolah dan teman-temannya saat ini.
Aku benar merasa kesepian sekali. Tak terasa waktu kami bersantai di pantai pun berakhir. Aku di antar pulang oleh Angga dan setelahnya ia pun kembali ke rumahnya sendiri.
Cuti satu minggu tentu bukan berarti satu minggu ia bersamaku. Kami masih berpacaran, dimana ayah masih tetap membatasi pertemuan kami. Bahkan Angga harus membagi waktu bersamaku dan juga adiknya. Hari kedua cuti ia tak datang ke rumah. Aku kembali bekerja di kamar. Menyelesaikan yang tertunda sejak kemarin.
Rasa bosan tiba-tiba saja membuat aku ingin melakukan olahraga. Di kamar menjadi tempat pilihanku berolah raga aerobik. Seluruh tubuhku pun mulai berkeringat. Lima menit berjalan aku masih merasakan baik-baik saja. Hingga di menit ke sepuluh aku tak kuasa menahan tubuhku yang kram dan dingin.
“Ayah!” Aku berteriak membuka pintu kamar.
Teriakanku yang nyaring sontak membuat ayah berlari seketika.
“Anggia! Anggia, kamu kenapa?” Teriakan dan tepukan tangan ayah pada pipiku membuat aku tak bisa berkata apa pun. Mataku terasa sulit terbuka bahkan wajahku seluruh tubuhku kram semua.
Di telingaku aku hanya mendengar suara ayah yang terus berteriak berusaha membuat aku bangun. Senang rasanya mendengar bagaimana ayah begitu cemas padaku. Dan aku kini benar-benar tidak bisa merasakan apa pun lagi.
__ADS_1