25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Kekhawatiran


__ADS_3

Satu malam di pulau tak cukup rasanya untuk kami menikmati keindahan alam bersama orang tersayang. Pertama kalinya aku berlibur dengan keluarga dan juga suami tentu rasanya sesuatu yang sangat membahagiakan tanpa bisa ku ucapkan lagi.


“Ayah, besok saja pulangnya gimana?” tanya kakak iparku dari abang nomor dua.


Sepertinya pulau yang masih alami ini membuatnya ingin menikmati lebih lama lagi keindahan. Sayang justru ayah mengatakan jika ia ada kerjaan yang harus di tangani. Meski ayah sudah pensiun dari proyek-proyek besar tapi ayah tetap memiliki pekerjaan sampingan yang hanya butuh di awasi beberapa saat saja.


Kami semua pun tak bisa protes dengan ucapan ayah. Dimana pagi harinya setelah bersiap kami pun di jemput oleh speed.


“Habis abang pulang kita ke rumah mamah yah, Anggia?” Angga bertanya padaku. Dan aku hanya bisa mengangguk tersenyum.


Tak adil rasanya jika kami menghabiskan waktu di rumah orangtuaku. Sedang dimana seharusnya usai menikah kami tinggal di rumah mertua jika tidak tinggal di rumah sendiri.


“Berapa lama?” tanyaku.


Meski aku tak keberatan sama sekali, tapi rasanya tetap saja sungkan. Di rumah suamiku, aku bukan hanya bertemu dengan kedua mertuaku setiap harinya. Tapi dengan kakek dan nenek mertua serta ada keluarga lainnya juga. Yah mereka memang keluarga besar. Berbeda denganku yang hanya ayah dan mamah lah di rumah.


Rasanya sangat takut jika aku memiliki kekurangan yang akan menimbulkan perselisihan antara aku dan keluarga suamiku.


“Kenapa? Kamu nggak suka tinggal di rumah mamahku?” Segera aku menggelengkan kepala cepat. Jangan sampai hari bahagia ini jadi rusak karena kesalah pahaman saja.

__ADS_1


“Aku malu, Angga. Kalau terlalu lama. Disana banyak orang. Aku bingung mau ngapain? Masak pun takut bukan selera mereka. Asal kamu temanin aku di dapur nggak papa sih.” Angga tersenyum mendengar ucapanku.


Di usapnya kepalaku dengan lembut. Aku tahu dia begitu penyayang. Semua bisa ku lihat dari cara dia memperlakukan adik-adiknya dan juga keluarganya.


Sementara aku adalah wanita yang kaku. Sangat sulit menunjukkan kasih sayangku. Mamah dan ayah adalah orang yang terlalu cuek dan itu semua perlahan tanpa sadar membentuk aku menjadi pribadi yang irit bicara dan terbiasa dengan kesendirian.


“Nanti aku temani kalau masak di dapur. Oke? Masalah selesai kan?” Aku hanya mengangguk.


Rasanya dalam hati ingin sekali teriak. “Mah, tolong aku. Temani aku seperti mamah temani aku daftar masuk sekolah.” Ingatan dimana aku ketika kecil selalu berada di belakang tubuh mamah.


Bahkan aku sadar sampai sedewasa ini aku tak cukup memiliki kepercayaan diri. Sering kali tubuhku gemetar ketika melewati banyak orang. Dimasa kecil mama sering memintaku berbelanja ke toko, dan hasilnya aku akan pulang dengan tangan kosong ketika di toko banyak orang.


Sesampainya kami di rumah, mamah dan ayah segera membersihkan diri begitu pun dengan kami.


Saat makan malam rumah terasa begitu sangat ramai. Aku senang bisa membawa abang ke rumah berkat hari pernikahanku.


“Besok Angga antar ayah dan abang ke kota x yah? Nanti setelah itu ayah dan supir di sana yang mengantar abang kalian ke penyebrangan.”


“Iya, Ayah.” Angga menjawab dengan patuh.

__ADS_1


Kasihan rasanya ketika aku melihat suamiku harus mengendarai mobil dengan jarak jauh. Sebelum ke pulau kami baru saja tiba di rumah ayah dengan suamiku yang membawa mobil selama lima jam. Dan paginya kami berangkat ke pulau. Hari ini tiba di rumah dan besok Angga akan membawa mobil kembali ke kota X.


Aku khawatir ia kelelahan dan lalai dalam berkendara. Tapi, sekali lagi. Tak ada yang bisa membantah ayah.


Bahkan abang sampai meminta maaf pada suamiku. Ia merasa tak enak sebab merepotkan. Kami sama sekali tak masalah. Hanya saja aku khawatir dengan suamiku. Meski aku tahu Angga sudah biasa dengan perjalanan jauh seperti ini.


Setelah makan malam aku meminta suamiku untuk segera tidur agar bisa fit esok hari. Ia pun patuh, sementara aku bermain dengan keponakanku yang lucu.


Sedih rasanya harus berpisah besok pagi. Rumah ayah dan mamah pasti akan terasa sepi sekali.


“Setelah aku pulang mengantar abang kita langsung ke rumah mamahku yah?” Aku mengangguk. Aku tahu dia pasti rindu dengan adik-adiknya yang lucu.


Angga dan aku memang sama-sama anak pertama. Bedanya aku hanya memiliki adik satu dan sudah besar. Sedangkan Angga memiliki tiga adik. Dua yang masih sangat kecil dan pasti itu yang selalu membuatnya ingin pulang.


Mengingat banyak adik, ada perasaan yang terselip di pikiranku. Dimana aku membayangkan kelak mama dan ayah pasti akan kesepian karena rumah ini akan sepi. Bahkan Ica pun sudah mulai sibuk dengan sekolahnya.


Dan aku bersama Angga akan tinggal lebih jauh lagi dari kota ini. Sedih tapi aku tidak ingin berumah tangga tinggal dekat dengan orang tua. Aku ingin mandiri dan jauh dari peluang selisih dengan kedua orangtua ku tentang pernikahanku.


Seperti banyak yang terjadi, ketika tinggal berdekatan akan ada banyak yang ikut campur tentang pernikahan kita. Aku hanya menghindari hal itu.

__ADS_1


Dimana sifat ayah yang keras membuat aku takut jika sampai berselisih dengan suamiku.


__ADS_2