25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Niat Menghadap Ayah


__ADS_3

Kuliahku kini sudah menginjak semester ke empat. Dimana mata kuliah semakin ku rasakan padat dan juga sangat sulit. Banyak praktek dimana aku tak bisa pulang saat libur tiba. Tak apa, aku semangat menjalani semuanya demi segera lulus. Aku ingin bisa menghasilkan uang dari jerih payahku ketika selesai kuliah dan ku berikan pada ayah dan mamah. Itu satu impianku. Namun takdir justru berkata lain, tanpa aku sengaja ponselku justru mengantarkan aku mengenal kembali pria yang pernah menjadi kekasihku di masa SMA dulu. Yah, selama kuliah aku sama sekali tak pernah berpikiran untuk menjalin hubungan dengan pria terakhir ketika SMA saja.


"Maaf, aku belum bisa pastikan hubungan kita ke depannya bagaimana. Sebelum kamu menghadap ayahku dulu untuk minta restu. Aku nggak mau pacaran main-main. Kalau mau pacaran berarti serius sampai ke depannya." itulah jawaban yang aku berikan ketika mantanku menyatakan perasaannya.


Aku sudah pernah mengalami hal paling menyedihkan. Dimana ketika aku ingin serius pacaran sudah hampir satu tahun justru ayah menolak hubungan kami. Dan berakhir kami berdua saling menyakiti karena tak bisa bersama. Hal itu membuat aku benar-benar trauma jatuh cinta dengan seorang pria tanpa ada restu dari ayah dan mamah.


"Oke, aku sanggup." kami pun mengatur waktu ke depannya untuk bisa bertemu ayah di rumahku saat aku libur kuliah. Meski dalam hati aku sangat takut jika ayah sampai marah denganku atau dengan pria itu. Pada akhirnya kami pun kembali kesulitan menemukan jadwal sebab aku belum ada libur dan dia pun sedang sibuk kerja.


Namanya Angga. Dia adalah anak darii teman ayah juga saat bekerja dulu. Kami berdua pun tidak tahu jika akhirnya justru menjalin hubungan kembali. Dimana saat SMA aku sama sekali tak memiliki niat serius dengannya. Dan berakhirlah kami memutuskan masing-masing ketika aku harus pindah sekolah ke luar kota mengikuti permintaan ayah.


Saat kuliah pun jarak kami justru semakin jauh. Tapi, takdir sang kuasa sudah menggarsikan kami untuk kembali berkomunikasi setelah hampir enam tahun lamanya kami saling tidak kenal.


Beberapa bulan kami hanya menjalani komunikasi melalui ponsel hingga akhirnya tiba waktu untukku libur dan pulang ke rumah. Namun, untuk Angga aku masih tidak tahu apakah dia bisa datang. Sebab kerjaannya masih belum ada waktu libur.


Untuk pertama kalinya aku berani memanggil pria ke rumah. Jika ingat ketika SMP dan SMA sangat menakutkan. Ayah akan sangat murka melihat aku dekat dengan pria mana pun. Aku tahu ketakutan ayah tentu ada alasannya. Di lingkungan kerja mau pun luar ayah sering kali mendapati anak perempuan yang ia kenal dengan berani menjajahkan tubuhnya pada pria mana pun bahkan demi uang mereka rela. Itulah yang ayah takutkan jika sampai aku seperti itu ketika mengenal pria.

__ADS_1


Semua ayah pasti akan sangat takut jika anaknya hancur masa depannya. Maka dari itu aku pun memberanikan diri menagis janji ayah. Dimana ketika kuliahku hampir selesai aku berharap di ijinkan untuk menjalin hubungan dengan pria.


"Ayah," panggilku dengan ragu. Ayah duduk di kursi teras rumah sembari membaca buku. Salah satu aktifitas yang selalu ayah lakukan adalah membaca buku. Kata ayah membaca itu akan selalu menambah ilmu. Dan ilmu harus terus di asah agar tidak berkurang.


Kali ini aku percaya, apa yang ayah katakan memang benar. Sebab otak yang tidak di asah lama kelamaan akan melambat responnya.


"Ada apa? Sudah belajar kamu?" pertanyaan yang pertama kali ayah lontarkan padaku sungguh rasanya membuat aku bosan. Aku benar-benar bosan sekali dengan kata belajar. Tapi, kali ini aku mengangguk. Sejak kuliah aku jadi rajin untuk mengerjakan tugas dengan belajar sendiri.


"Temanku ada yang mau datang ke rumah, Ayah." ujarku dan ayah hanya merespon mengangguk.


Jujur aku masih tidak bisa tenang melihat respon ayah. "Yasudah siapkan makan, teman kalau ke rumah harus di sambut baik." aku diam. Dari nada bicara aku tahu ayah pasti salah paham. Tapi aku sendiri tak punya keberanian untuk menjelaskannya.


"Ca,"


"Iya, Kak." adikku tengah sibuk dengan alat lukisnya. Memang Ica sangat gemar melukis.

__ADS_1


"Kakak punya pacar. Kira-kira ayah akan marah nggak yah kalau kakak bawa ke rumah kenalin ke ayah?" aku terpaksa curhat dengan adikku. Aku tak perduli bagaimana usia adikku yang masih belum mengerti apa-apa.


Yang jelas aku sangat tenang setiap kali habis bercerita dengan Ica. Aku tak perlu mendapat masukan yang penting ada yang bisa mendengarkan curhatku saja.


"Kan ayah bilang harus selesai sekolah dulu baru boleh pacaran, Kak." Aku pun terdiam. Ica tak salah, ayah selalu berkata demikian padaku mau pun pada ica.


"Iya sih. Tapi kakak kan bentar lagi juga selesai kuliahnya." jawabku berusaha mencari pembenaran.


Hingga sosok mamah pun muncul di pikiranku. Segera aku keluar kamar menemui mamah di toko sebelah rumah. Toko yang menjadi usaha mamah untuk menghilangkan stress. Satu tujuan utama mamah membuka usaha bukan untuk mencari uang semata, melainkan untuk menghilangkan stress kala menghadapi sikap ayah yang sangat egois. Jika kata orang wanita adalah makhluk paling egois, nyatanya aku melihat justru ayah adalah pria yang paling ingin menang sendiri.


Aku tahu sikap ayah seperti itu memang ada alasannya. Bahkan mamah pun sampai berusaha menyibukkan dirinya agar tidak memikirkan ayah yang sering tak pulang ke rumah. Aku tahu mamah pasti sangat kesepian berdua dengan Ica.


"Mah," aku mendekati mamah.


Aku pun menceritakan semuanya pada mamah meski sesekali permbicaraan kami harus terhenti karena banyaknya orang yang datang ke toko mamah. Mamah hanya punya dua orang karyawan. Tapi menurutku itu sudah sangat maju dan aku salut sama mamah bisa mengelola modal kecil yang di berikan ayah menjadi toko yang besar seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Yasudah nanti mamah yang akan bicara sama ayahmu. Semoga ayahmu bisa tidak marah. Ingat Anggia, jangan main-main dengan kuliahmu yang belum selesai. Pikirkan yang utama adalah sekolah. Urusan jodoh itu nanti pasti datang juga kalau sudah waktunya. Jangan terlalu mikir ke sana." aku patuh.


Mamah dan ayah memang satu pemikiran soal pendidikan. Mereka akan mengutamakan pendidikan dari hal lainnya.


__ADS_2