25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Doaku


__ADS_3

Air mataku menetes bahagia melihat foto yang mamah kirim di ponsel memperlihatkan ayah tengah berulangtahun dengan meniup lilin bersama mama dan adikku di sampingnya. Wajah ketiganya terlihat sangat bahagia. Jika aku pikir semua baik-baik saja mungkin memang benar. Sebab kebahagiaan begitu terpancar di tawa mereka. Harapanku memang hanya itu. Kedua orangtua ku tetap bersama sampai maut memisahkan mereka.


“Aku ingin pulang, Mah. Bulan depan aku libur.” Pesan yang aku kirim kini seketika membuat mamah menelponku.


“Anggia, kamu benar mau pulang? Berapa lama liburnya?” tanya mamah nampak antusias.


Aku menghitung waktu hingga mamah kaget mendengar liburku cukup lama.


“Tiga bulan? Memang liburnya selama itu?” tanya mamah yang merasa sedikit tak percaya. Aku pun menjelaskan semuanya.


“Mungkin karena memang kampusnya nggak bagus makanya seperti itu.” Suara dari bibir ayah yang tidak begitu nyaring ku dengar dengan jelas. Jujur pikiranku mendadak kacau mendengar ucapan ayah yang tidak mengenakkan.

__ADS_1


Bagaimana mungkin ayah menjelekkan nama kampusku sementara semua kuliah memang liburnya selama itu. Di seberang telepon aku sempat mendengar mamah dan ayah berdebat mulut.


Segera aku mematikan telepon tanpa mereka tahu. Di sini aku berusaha menenangkan pikiranku sendiri. Apa seburuk itu yang di pikiran ayah tentang kemampuanku kuliah di tempat ini. Bahkan aku merasa semua sama saja tak banyak yang berbeda. Sebab dosen yang mengajari kami pun sama dengan dosen di beberapa kampus ternama di kota tempatku berkuliah. Mereka hanya berganti tempat di setiap waktu saja.


Tak lama kemudian mamah pun mengirim pesan padaku. “Pulanglah Anggia. Ayahmu sudah pesankan tiket dengan hari yang kamu katakan. Nanti di kirim segera tiketmu.”


“Iya, Mah.” jawabku melalui balasan pesan.


Yah, aku sama seperti kebanyakan anak yang akan merindukan masakan mamah di rumah. Meski makan masakan restoran bintang lima sekali pun tetap saja tak ada tandingan masakan mamah yang di masak sejak aku kecil dan di olah dengan rasa cinta.


“Kakak,” suara adik kecilku berlari memelukku ketika mereka menjemput aku di bandara. Wajahnya berbinar polos merentangkan kedua tangan. Yah, kami memang sedekat itu sebab aku sangat menyayangi adikku. Meski di awal aku sangat takut jika memiliki adik dan tidak mendapat kasih sayang orangtuaku lagi.

__ADS_1


“Mah, ayah,” ku salim tangan kedua orangtuaku. Kami pun pulang ke rumah setelah itu. Selama perjalanan aku tak ada mendengar sama sekali suara mamah dan ayah. Mungkin mereka lelah setelah perjalanan jauh menjemputku.


Hingga ketika malam aku begitu kaget dari tidurku mendengar teriakan di dalam kamar. Kepalaku menggeleng lirih saat tubuhku reflek duduk dari pembaringan. Mamah dan ayah sepertinya kembali ribut entah apa penyebabnya.


“Ica takut, Kak.” adikku memelukku dengan wajah sedihnya. Ku peluk sembari menenangkan adikku.


Ayah memang sesulit itu mengendalikan diri ketika emosi. Entah bagaimana adikku ketika aku tak ada. Siapa yang menenangkannya selama ini. Dan aku sangat yakin ayah dan mamah pasti sering kali seperti ini. Aku yang sejak kecil bersama mereka sudah sangat paham kehidupan mamah dan ayah yang tak pernah jauh-jauh dari keributan.


Ketika keluar kamar mamah ku lihat menyeka wajahnya yang sembab. Aku datang meninggalkan adikku dan memeluk mamah. Isakan pilu itu ku dengar begitu menyayat hatiku.


“Tuhan, bolehkah damaikan kedua orangtuaku dan jauhkan mereka dari perkelahian fisik seperti ini? Mamahku adalah seorang wanita tak memiliki kekuatan setara dengan pria,”

__ADS_1


__ADS_2