25 Tahun Tentang Ayah

25 Tahun Tentang Ayah
Bukan Orang Ketiga


__ADS_3

“Semoga saja Ibu selalu sehat yah, Mah.” ujarku di tengah malam.


Kini sudah satu minggu kepergian Ayah. Malam dimana aku, Mamah dan Ica berbaring di ranjang yang sama. Ranjang biasa tempat Mamah dan Ayah mengistirahatkan tubuh mereka.


“Mamah juga berharap seperti itu, Ca. Kasihan Ibumu. Sampai sekarang pun Mamah bisa lihat Ibumu masih sangat mencintai Ayahmu.” Aku mengangguk.


Aku pun demikian melihat Ibu yang begitu tertekan. Ia seolah hanya menerima takdir ketika Ayah pergi dan berpindah agama. Ayah adalah pria yang sangat keras. Apa pun pilihannya tak ada yang bisa mengubah.


Mamah dan Ayah pun hidup tidak semudah yang orang lihat. Dulu ketika Ayah berpisah dari Ibu, Ayah merantau sampai akhirnya Ayah memutuskan mualaf ketika tinggal bersama seorang ustad.


Sampai saat ini pun ustad tersebut masih hidup. Ayah sering kali berjumpa dengannya. Tiga tahun lamanya Ayah mualaf sampai akhirnya bertemu Mamah dan mereka pun menikah.

__ADS_1


“Kok bisa sih Mamah nggak tahu kalau Ayah masih punya istri?” tanyaku penasaran.


“Mamah dengarnya Ayahmu bilang sama Kakekmu katanya duda. Yah memang duda sih, tapi kan dalam kristen tidak ada perceraian. Yang artinya mereka masih tetap sama-sama, Anggia.” ujar Mamah dan aku pun mengangguk paham.


Ternyata awal pernikahan kedua orangtuaku ada di keputusan Kakek. Kini aku pun tak bisa menyalahkan siapa pun. Dan yang aku yakin Ayah tetaplah ayah yang baik untuk kami.


Dua minggu berjalan aku terus memperhatikan Mamah. Kami bertiga saling menguatkan. Sampai akhirnya aku harus kembali pulang ke kota bersama suamiku.


“Mah, Anggia sudah harus kembali. Nanti hari ke 40 Anggia pulang lagi. Mamah nggak apa-apakan? Kerjaan Anggia harus di selesaikan dulu biar nanti bisa kembali ke sini temanin Mamah sama Ica.” Ku lihat Mamah mengangguk.


“Mamah mau ikut Anggia pulang? Di sana Mamah cukup istirahat saja. Di sini kan kerjaan ada yang awasi.” ujarku tak tega meninggalkan Mamah.

__ADS_1


Soal Ica aku berpikir jika Mamah sampai mau ikut denganku maka adikku pun akan aku pindahkan sekolah.


Ternyata Mamah tidak mau ikut. Mamah memilih untuk tetap di sini mengurus semua yang harus ia selesaikan. Banyak kerjaan yang harus Mamah awasi sendiri.


Sedih rasanya karena aku tidak bisa banyak membantu Mamah. Aku merasa menjadi anak yang tidak berguna sama sekali saat ini.


Ingin sekali rasanya tetap bersama Mamah. Tapi di lain sisi ada suami yang harus aku urus. Bahkan pernikahan kami masih sangat awal. Dimana akan banyak ujian yang akan kami lewatkan.


“Anggia berat tinggalin Mamah. Tapi, Anggia sangat takut jika pernikahan Anggia gagal, Mah. Anggia benar-benar trauma dengan lingkungan Anggia.” Mamah menangis memelukku.


“Mamah sangat mengerti, Nak. Mamah ingin kalian tetap bahagia. Baik-baik dengan suami yah? Mamah dan Ayah kamu sangat bahagia kalau kalian terus bahagia. Rawatlah pernikahan kalian yah?” Aku mengangguk.

__ADS_1


Mamah kini adalah satu-satunya orangtua yang tersisa untukku dan Ica. Dimana aku dan Ica justru semakin mengkhwatirkan keadaan Mamah.


“Kalau Mamah nggak sanggup, datanglah ke rumah Anggia. Anggia akan rawat Mamah dengan baik. Mamah bicara jika ada apa-apa. Jangan di pendam sendiri yah?”


__ADS_2