
Sesampai di rumah terdengar keributan antara Papa Leo dan Mama, "Kamu Kepala Rumah Tangga!!! Kamu Nggak Becus!!!! Anak mau sekolah sampai Uang gak ada di tangan, terus gimana kalau begini??!!!" Teriak Mama,
"Uang semua hasil Proyek aku kasihkam ke kamu kan?!!!! sudah aku Bilang dipisahkan untuk uang sekolahnya Indah, Terus uang - uang itu semua lari kemana??!!!!" suara papa Leo terdengar sampai di luar kamar sangking kerasnya,
"Hehh!!! Kamu pikir anak - anakmu tidak butuh makan??!! Hah?!! Kamu atur semua uang ini, Atur semua !!! biar aku nggak kamu salah - salahin!!!" Balas Mama membela diri,
Dan ternyata barulah disadari oleh Indah bahwa Papa dan mama tidak memiliki persiapan financial sama sekali untuk masuknya Indah ke sekolah swasta tersebut, Hati Indah remuk redam mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, dan Indah menangis sejadi - jadinya di dalam kamar nya.., wajahnya di tutupi bantal agar suaranya tidak terdengar sampai keluar kamar.., Indah berlutut di lantai dan menjadikan tempat tidurnya sebagai tumpuan sikut tangannya.., dengan air mata yang bercucuran dia berdoa..
"Tuhan...mengapa kehidupan keluarga kami tidak ada habisnya dari segala ujian Tuhan..., ampuni bila aku sebagai anak belum bisa menbantu kedua orang tuaku Tuhan.., Tolonglah mereka Tuhan.., Indah gak mau sampai putus sekolah Tuhan, tapi bila aku harus putus sekolah biarlah itu semua terjadi menurut KehendakMu, Namun aku percaya Tuhan...,Bila Bunga Bakung di Padang bisa Engkau Pelihara, Burung - burung diudara pun bisa Engkau Pelihara, maka aku yang adalah ciptaanMu yang paling sempurna pun Pasti akan Engkau Pelihara.., Aku Percaya Engkau menjadikan segala sesuatunya baik.." Air Mata Indah tak terbendung tiap kali mengucapkan kata - kata Doanya, dengan isak Tangis Indah melampiaskan segala keluh kesahnya kepada Tuhan, dan berharap bisa mendapatkan sedikit ketenangan. Kelelahan melanda Indah, kepalanya terasa Pusing dan berat sekali akibat menangis membuat Indah tertidur sambil duduk di kamarnya.
Tidak sadar ternyata sudah sore, Indah memutuskan untuk cuci muka saja dan kembali berdiam diri di dalam kamarnya, namun ketika pintu kamarnya di buka, terdengar mama sedang berbicara dengan seseorang di telepon rumah, dan mengucapkan rasa syukurnya, sedangkan Papa hanya di dalam kamar membaca Kitab Suci nya, setelah cuci muka melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya, namun di hentikan oleh Mama,
"Indah..., Sini Ndah..." panggil mama kepada Indah,
"Iyah ma...?" Indah datang dan duduk di hadapan mama,
"Ngapain kamu itu nangis???" tanya Mama
"Nggak apa - apa ma..." Jawab Indah singkat sambil menundukkan kepalanya,
"Kamu gak usa kawatir, kamu tetap sekolah, besok mama dan papa akan tetap ikut wawancara di sekolahanmu, jadi kamu gak usah kepikiran, besok kamu juga harus ikut yah..." Ujar mama sambil melirik papa yang ada di dalam kamar tidur mereka,
"Iyah ma..., tapi kan papa dan mama belum ada uang, nanti bayarnya gimana?" tanya Indah penasaran,
"Ada yang bantu bayarin, ini pinjem uang aja kok.." jawab Mama menenangkan Indah,
"Iyah tapi siapa ma?" Indah semakin penasaran,
"Mathew..., udah.., kamu skrg siapin aja baju apa yang besok mau di pakai, ingat pakaiannya bebas rapi loh?" perintah mama sambil sedikit mengalihkan omongan, dan segera berdiri meninggalkan Indah yang masih bengong mendengar perkataan Mama tadi.
Lalu Indah segera beranjak menuju kamar tidurnya, dan mencari kotak tabungannya dilihatnya ada beberapa lembar uang dan recehan, Indah segera minta ijin sama papa dan mama untuk ke toko sebentar, namun Indah berlari menuju ke arah Wartel (warung telepon) yang ada di seberang jalan depan gang rumah kontrakkannya.
__ADS_1
Sesampai di Wartel segera Indah menekan nomor telepon Asrama Mathew,
"Halo selamat malam, apakah bisa berbicara dengan Mathew, ini dari Indah" Indah langsung berbicara sebelum petugas piket menanyakan apa - apa,
"Ini kakak dek..." jawab Mathew dari seberang telepon,
"Kak??!! Loh.., kok cepet petugasnya manggil kak?" tanya Indah heran,
"Ini kan hari Rabu..., pas kakak yang Piket" jawab Mathew, "masa kamu lupa? minggu lalu kan kakak sudah kasih info Dek.." sambungnya,
"Maaf, Indah lupa kak.., Kak..., Indah mau ngomong..." suara Indah terdengar sedikit gugup dan menahan rasa malu yang besar,
"Apa sayang? mau tanya apa? kangen kakak??" suara Mathew terdengar sangat lembut dan romantis,
"Iyah Kangen..., Indah mau tanya.., apa benar kakak yang bayar uang pangkal masuk sekolah SMA nya Indah?" tanya Indah lagi - lagi menahan rasa malu yang besar,
"Kenapa Dek?" tanya Mathew,
"Loh...?! kakak ini bagaimana to??! ditanya kok malah balik nanya ke Indah?" suara Indah terdengar sedikit kesal, dan membuat Mathew tertawa terbahak - bahak,
"Serius kak, apa benar kak?" tegas Indah,
"Iyah..., memang kakak yang bayar," jawab Mathew
"Tapi hanya Hutang piutang kan kak?" Indah memastikan,
"Kalau kakak gak mau dikembalikan kan gak apa - apa dong Dek, lagian kamu kan calonku, buat apa kakak hitung - hitungan sama kamu, kakak sayang sama Adek makanya kakak yang mau bantu kedua orang tuamu, sudah Adek gak usa pikiran macam - macam, yang jelas kakak bantu karena kakak sayang kamu" jawab Mathew meyakinkan Indah,
"Tapi kak-..." Suara Indah langsung di potong Mathew, "Sudah, stop gak usa mikir yang macam - macam yah..., kakak sayang kamu, makanya kakak bantu, dan kakak berharap kamu bisa menjadi milik kakak seutuhnya.." Jawab Mathew..,
"Iyah, terima kasih banyak kak...." sahut Indah memelas, " Tapi jadi milik kakak seutuhnya bagaimana kak? Indah kan masih harus sekolah 3 tahun lagi baru Lulus SMA kak.." tanya Indah bingung dengan kalimat yang di lontarkan oleh Mathew,
__ADS_1
"Nanti suatu saat Adek akan memahami maksudnya kakak...," jawaban Mathew semakin membuat Indah penasaran, namun apa daya tagihan telepon sudah mendekati limit uang yang di bawa oleh Indah,
"Baiklah kak..., kak..., Indah pamit pulang dulu yah..,, takut uangnya Indah gak cukup kak...," ujar Indah menyudahi percakapan mereka,
"Iyah sayang, Kakak cinta kamu..., besok malam baru kakak telepon di rumah yah sayang.., kakak cinta sama adek.." Kata Mathew pun mengakiri percakapan mereka,
"Indah juga sayang dan cinta kakak, bye..." seraya menutup telepon, Lalu Indah bergegas membayar tagihan di petugas wartel dan berjalan kaki pulang ke rumah, perasaan Indah tak menentu, antara senang atau harus sedih, terharu dengan kebaikan Mathew atau harus merasa curiga dengan kebaikan Mathew, perasaan di Hati Indah sungguh tak menentu., sesampainya di rumah, ada seorang tamu wanita yang terlihat familiar bagi Indah,
"Halo... kak..." sapa Indah, dan tidak lama kemudian mama datang dengan membawakan teh di cangkir untuk nya,
"Halo Indah.., lupa kah sama kakak?" tanya wanita itu,
"Lupa Nama kak, ahahahahaa!! kalau orangnya gak lupa" jawab Indah manahan malu,
"Ini kan Kakak Ana, yang di kota dingin Dek.." jawabnya.. "Kak Ana ini yang tinggal di rumahnya Rita??, ingatkan?" sahut kak Ana berusaha membuat Indah teringat akan Rita...
"Oh..., Rita yang mainan Keyboard itu yah???" Indah langsung mengingat bagaimana tatapan genit dan rayuan bahasa tubuh yang di lakukan Rita tepat dihadapannya, sontak membuat Indah langsung sedikit kesal pada saat mengingatnya,
"Iyah Benar, Indah ingat itu..." jawab Kak Ana,
"Ayo di minum dulu" kata mama Indah, dan mereka pun minum teh bersama - sama kecuali Indah yang merasa bingung, mengapa orang ini bertamu ke rumahnya, apa tujuannya, namun berusaha tenang Indah mengambil buku komik di dalam kamar dan duduk kembali ke ruang tamu, terdengar Mama dan Kak Ana berrbincang - bincang, dan tiba - tiba,
"Dua minggu lalu Mathew main ke rumah nyari Rita..," Kata Kak Ana, Sontak Indah terkejut mendengar apa yang baru saja di katakan oleh kak Ana.
*
*
*
Jangan lupa Like,
__ADS_1
minta kritik dan sarannya yah..
dan follow Igku @ovie.el