
Hubungan percintaanku sungguh sehat kujalani bersama Rivaldo, tidak ada kontak fisik yangbberlebih, hanya sebatas gandengan tangan, aku merasa sudah berbunga - bunga, aku merasa Rivaldo sungguh menghargaiku sebagai seorang wanita, walaupun kala itu usia kamu masih terbilang remaja, tapi Valdo memperlakukan ku dengan baik, dan perhatian yang diberikan oleh Valdo sungguh amat membuatku tersanjung, Namun sayang hubungan kami tercium oleh mamaku yang kala itu sangat berpihak pada Mayhew, pasalnya mama mendapatkan keuntungan financial dari hubunganku dengan Mathew, hari ini aku pulang seperti biasa kerumahku sehabis oulang sekolah, namun suasana rumah terasa sungguh tak biasa melihat sikap mama yang menjadi sangat culas terhadapku.
"Dari mana kau??!!! Jalan lagi sama anak ingusan itu?!!" bentak mama kepadaku,
Aku sungguh lelah dan tak ingin berbicara banyak sore itu, rasanya ingun segera kuselesaikan tugas sekolahku dan masuk kedalam kamar tidurku, agar aku bisa saling berkirim pesan singkat kepada Valdo,
"INDAH!!!! *** KAMU!!! Mama ngomong kamu nggak perdulikan sama sekali" emosi mama sungguh meluap sore itu,
"Nggak ma..,, Indah pulang naik mobil angkot, dan sekarang Indah mau nengerjakan PR dari sekolahan ma.." jawabku,
"Stop!! pacar - pacaran sama anak ingusan nggak jelas itu!! PAHAM?!!" Bentak mama, bukankah aneh mama melarangku berpacaran dengan Rivaldo yang dia katakan anak ingusan, sedangkan saat itu usiaku lebih muda dua tahun dari Rivaldo dan aku bahkan lebih ingusan dari Valdo. Sakit hati dari kata - kata mama semakin dalam setiap harinya, namun aku sungguh tidak ingin berdebat hari itu.
Tak terasa ketika selesai mengerjakan tugas sekolah, kepala ini rasanya berat sekali, aku menggapai bantal dan guling di atas tempat tidurku, dan aku memilih untuk berbaring di lantai, namun telepon rumah berdering sungguh mengganggu pendengaranku, tak ada satupun yang hendak mengangkat telepon itu.
"Dimana Mama sebenarnya?" gumanku sambil membuka pintu kamarku cukup kesal, Namun mama tidak dapat kutemui disetiap sudut rumah, Maka dengan terpaksa aku yang mengangkat telpon rumah,
"Halo selamat malam, maaf dengan siapa ini?" sambutku,
"Adek ini kakak." Jantungku seakan berhenti sejenak seper sekian detik ketika mendengar suara itu,
"Iyah kak..., kemana saja kamu selama ini?! sudah hampir satu bulan kamu tidak menghubungiku dan sudah hampir satu bulan juga aku tiap hari menerima teror dari wanita tidak jelas yabg mengaku telah tidur dengamu" Jawabku dengan suara bergetar,
"Iyah, kakak tau, tidak usa di tanggapi, itu hanya wanita gila yang selalu saja mengejarku disini," jawab Mathew,
" Lalu bagaimana mungkin dia bisa mengetahui nomor ponselku?" tanyaku heran,
"Mungkin dia mengambil dari ponselku yang saat itu sempat ketinggalan di ruang piket kerjaku" rasanya sungguh jawaban yang masuk akal namun alasan ini tetap saja tidak dapat aku terima,
"Baiklah.., bagaimana kabarmu?" sungguh aku sangat lelah untuk berdebat hari ini, dengan siapapun itu.
__ADS_1
"Aku sungguh tidak baik disini" jawab Mathew,
"Kenapa? apakah kakak sakit?" rasa khawatir cukup melandaku bila Kak Mathew sakit disana,
"Iyah, aku sakit" namun suara Mathew sungguh tidak terdengar seperti orang yang sedang sakit,
"Kakak, sakit apa?" aku mulai kawatir,
"Aku sakit hati, mengetahui hubunganmu dengan Rivaldo itu"
DEG!!!! Jantungku benar benar sakit mendengar ucapan Kak Mathew,
".........."kini aku tak menjawab apa - apa, dan hanya terdiam menunggu apa yang akan di ucapkan oleh kak Mathew,
"Akhiri hubunganmu dengannya, Kakak sungguh tidak ingin mematahkan tulang belulang anak SMA yang tidak setara dengan kekuatanku" terdengar ancaman keluar dari mulut kak Mathew, dan benar..., Kak Mathew adalah manusia yang arogan yang selama ini aku kenal.
"Apa yang kamu bicarakan kak??!!! aku tidak senang dengan cara kamu menakut - nakutiku" jawabku penuh emosi,
"Tapi kak!!! aku lelah dengan segala teror dan segala cerita orang - orang tentang dirimu!!" aku berusaha membela diriku sebisanya,
"Itu tidak benar!!!! semuanya hanya bohong!! dan untuk yang terakhir kalinya aku memberikan adek waktu satu kali dua puluh empat jam untuk stop berhubungan dengan anak ingusan itu" tiba - tiba saluran telepon terputus,
Hatiku sungguh hancur, dan aku sungguh menyukai Valdo saat itu dan aku sungguh menyayangi Valdo , aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Valdo, sungguh kebingungan bagaimana aku harus menjauh dari Valdo, alangkah lebih baik bila Valdo benar - benar membenciku agar dia merasa aman.
_______
Keesokkan harinya seperti biasa pada saat jam pulang sekolah Valdo selalu dengan setia menungguku di samping sekolahan, ketika aku menghampirinya dan melihat senyum tulus dari wajahnya, sungguh hatiku teriris dan perasaan perih sungguh menyiksa batinku. Benar jata Vany aku harus egois untuk kebahagianku namun aku tidak bisa Egois bila Valdo teracam oleh niatan nekat dari Mathew.
Kini terlihat Rivaldo melambaikan tangannya kearahku, dan aku membalas senyumannya dengan senyuman yang kecut dari wajahku, menyadari gelagatku yang tidak biasa Valdo menautkan kedua alisnya, serta menggenggam tanganku,
__ADS_1
"Kamu kenapa Ndah?" tanya Valdo, Hatiku tidak sanggup menyakiti Valdo lebih lama, dan ini harus segera berakhir demi kebaikam Valdo, aku sungguh membenci diriku sendiri karena sudah terjebak didalam Jerat yang dibuat oleh Mathew,
"Val... maafkan aku..., hubungan kita harus berakhir sampai disini," ujarku tanpa basa basi,
"Apa?!! Kenapa Ndah? Apa salahku? mengapa kamu mengakiri hubungan kita?" Rasa kaget dan kecewa sungguh terlihat jelas dari ekspresi wajah Valdo sore itu,
"Maafkan aku Val.., aku yang salah bukan kamu..,, mamaku melarangku untuk melanjutkan hubunganku denganmu" sambungku,
"Baiklah Ndah.., aku akan menemui mamamu, dan akan meminta ijin kepada mamamu Ndah, nulai hari ini kita tidak akan bertemu di luaran lagi seperti sekarang, aku akan selalu datang kerumahmu, agar mamamu tidak berpikir yang macam - macam terhadap kita." ujar Rivaldo oenuh dengan harap,
Ketulusan Valdo membuatku semakin tersiksa, alasan mama rasanya tidak akan mempengaruhi Valdo yang sungguh menyukai saat itu,
"Ndah...n jangan begini Ndah..., aku nggak mau kamu seperti ini" lirih Valdo, sambil menggenggam erat tanganku, sungguh hatiku trenyuh melihat reaksinya, tapi ancaman Mathew sungguh terngiang - ngiang di pikiranku.
"Val..., sungguh aku tidak bisa bersama dengan kamu Val..., selain mamaku yang tidak setuju, aku sebenarnya juga pacaran sama orang lain, dan aku tidak ingin lebih menyakitimu dengan semua kebohongan ini" Aku berusaha untuk membuatnya sungguh sakit hati,
"Apakah kamu lebih mencintai dia dari pada aku?" tanya Valdo serius menatap kedua mataku,
"Tidak Valdo..., aku sungguh lebih menyayangimu,.,, kamu tidak pernah menyiksa batinku" sungguh kalimat ini ingin ku utarakan kepada Valdo, tapi aku tidak bisa...
"Aku tidak mencintaimu sedikitpun, aku lebih mencintai dia Val.., maafkan aku..." mendengar jawabanku, Valdo menarik nafasnya dalam - dalam, kekecewaan sungguh besar dirasakan oleh Valdo, dan sakit hati juga dirasakah oleh Valdo, sampai Valdo tidak dapat mengucapkan kalimat apapun lagi setelah mendengar jawabanku, Tanpa berpamitan atau mengeluarkan sepatah kata apapun, Valdo pergi meninggalkan ku sendiri, dan berlalu pergi mencari mobil angkot untuk pergi entah kemana.
Kakiku terasa sungguh lemas, derai air mata membasahi pipiku, dadaku terasa sesak..., namun aku tersenyum bahagia ditengah kekecewaanku yang dalam, aku bisa menolongmu dari ancaman Kak Mathew Val..., pikrku saat itu..
"Maafkan aku Val.., sampai kapanpun kita tetap memiliki cerita.." gumanku dalam hati...
*
*
__ADS_1
*
bersambung