Aku Adalah Indah

Aku Adalah Indah
pertengkaran demi pertengkaran dan intimidasi dari mama


__ADS_3

(Monolog Indah)


"Indah akan memaafkan kakak kali ini, dan Indah akan memberikan kakak kesempatan terakhir dan juga kesetiaan untuk kakak, kita akan sama - sama membuktikan siapa yang sebenarnya lebih setia, dan bila terjadi lagi hal serupa seperti ini, kakak sudah tau jawabannya dan artinya bila masa depanku hancur kelak, semua berakar dari kakak!! karena kakaklah yang sudah merusak aku!" tegasku dan bergegas meninggalkan Mathew untuk mengobati luka hati.


Mathew berusaha menahanku, tapi aku dengan kasar menolaknya, dan Kak Mathew membiarkanku pergi, aku pun berjalan keluar dari asrama itu dengan air mata yang terus mengalir tiada henti, tanpa memperdulikan orang disekitar aku beranjak menuju ke rumahku, aku menelpon Roy untuk menjemputku dan Roy bergegas datang hanya butuh waktu sepuluh menit sampai Roy mendapatiku menangis di trotoar depan asrama,


Roy tidak bertanya apapun kepadaku, di perjalanan kami diam seribu bahasa, dan setelah sampai di rumah Roy hanya berpesan " Jadilah adikku yang kuat Indah.." Sahutnya sambil tersenyum,


"Terima Kasih Roy.." jawabku


__________


Aku menutup hatiku untuk siapapun yang mendekatiku, dan khusus untuk Roy, aku yakin Roy sangat tau posisinya seperti apa denganku, kami saling memahami satu sama lain batasan - batasan yang ada, bahkan semalam Roy memanggilku dengan sebutan adik, hatiku sungguh bahagia memiliki seorang sahabat seperti Roy.


Waktu berjalan seperti biasa, dan Aku bersikap bisa dengan Mathew seolah kami tidak memiliki masalah apapun, sesuai janjiku, bahwa aku akan memberikannya kesempatan terakhir untuk membuktikan dirinya bisa berubah menjadi lelaki yang baik, setia dan bertanggung jawab, Mathew selalu rutin mampir ke rumahku hampir setiap hari kecuali jadwal piket di baraknya, hubungan kami pun pelan - pelan terjalin kemistri kembali.


Mama yang sudah membenci Mathew, kini semakin membenci Mathew, kini tekanan kudapatkan dari mama yang selalu memusuhiku karena Mathew, sungguh batinku tidak kuat menghadapi sikap mama yang selalu saja mengintimidasiku, dan setelah tiga bulan berjalan setelah kejadian terakhir pertengkaranku dengan Mathew, kami memiliki masalah lagi, entahlah perkelahian apa saat itu, aku pun lupa, Mathew sungguh emosi dan mengambil pisau sangkur nya di tusuk pada bagian kanan hingga terdapat luka menganga pada lengan Mathew dan membuatku teriak - teriak ketakutan, melihat perkelahianku saat itu membuat mama sangat membenci Mathew tak karuan.

__ADS_1


Bahkan pernah suatu malam, aku sedang bermain bersama seekor anak anjing yang sangat kusayang, anak anjing itu ku beli dari salah satu teman sekolahku dan kuberi nama Negro, melihat kedekatanku dengan Seekor anjing, membuat Mathew sangat cemburu, dan emosi bukan kepalang, Mathew mengambil anak anjingku yang kala itu masih berusia dua bulan, dan mencekik leher negro, sampai membuat negro tak sanggup mengeluarkan suara, melihat apa yang di lakukan Mathew membuatku memohon - mohon ampun, bahkan berlutut di kakinya agar Mathew melepaskan anak anjingku, setelah puas melihatku begitu tertekan Mathew langsung melepas anak anjingku yang sudah tidak berdaya, untunglah anak anjingku selamat malam itu, dan aku menangis sejadi - jadinya,


Entah apa kebodohanku saat itu yang masih berusia 16 tahun, aku sangat takut ketika Mathew mengancamku akan memberitahu semua orang kalau aku sudah tidak perawan lagi, itulah ancamannya untuk membuatku nurut dengan semua perintah dan keinginan Mathew, setiap kali kami bertengkar, lalu anehnya, setiap Mathew melihatku menangis karena intimidasi yang di lakukannya Mathew akan meminta maaf seakan tidak sadar dengan apa yang sudah di lakukannya kepadaku.


Bukan hanya intimidasi, dan ancaman dari mathew, setiap harinya aku harus menghadapi sikap mamaku yang selalu saja marah - marah, dan melihatku dengan rasa benci dan merasa muak dengan kehadiranku di rumah, melihat keadaan sudah tidak memungkinkan, aku sangat tidak tahan, sehingga aku kabur dari rumah dan lari ke rumah Lady salah satu sahabatku.


Baru saja kabur belum ada satu hari, Papaku sudah menduga aku akan lari kemana saat itu, dan supirku menjemputku dari rumah Lady, akhirnya mau tidak mau akupun pulang ke rumah, sesampainya di rumah aku mendapatkan hajaran dan tamparan dari mama, tapi saat itu aku tidak berani melawan atau bahkan menanyakan 'mengapa aku di perlakukan tidak layak sebagai anak oleh mamaku sendiri' dan kalimat pertanyaan itu hanya berani aku tanyakan kepada diriku sendiri, hatiku berteriak namun mulutku tidak bergeming sedikitpun.


Dan sialnya aku memiliki papa yang kurang bijaksana dan tak mampu bertindak sebagai kepala rumah tangga, papa cenderung mengikuti semua omongan mama, benar atau pun salah semuanya akan menjadi benar bila mama yang berkata dan papa akan menuruti hampir semua permintaan mama atau segala protes dari mama, bahkan papa tidak mengetahui bagaimana mama mengijinkan Mathew untuk menyusup ke dalam kamar tidurku dulu, tapi lagi - lagi ketakutan lebih besar bahkan menyelimuti seluruh keberanianku saat itu,


Kebodohan akan ancaman dari Mathew pun membuatku dilema untuk berkata jujur, sehingga aku memilih untuk bungkam selama ini, aku tidak berani melaporkan kepada siapapun bahwa aku menjadi rusak karena Mathew. Diusiaku yang sangat belia tidak seharusnya aku mengalami semua ini, dan tidak seharusnya aku di kucilkan bahkan di intimidasi oleh mamaku sendiri, sedangkan naasnya lagi aku tidak memiliko tempat berlindung, karena harapanku yaitu papaku tidak mampu menjadi pelindungku, sekalipun papa sangat menyayangiku, namun pengaruh mama lebih besar dari pada realita keadaanku kala itu, seolah papa dibutakan oleh rayuan mama, dan telinga papa seolah tuli dan hanya dapat mendengar bisikan dari satu sumber yaitu mama..


"Dek..., kakak dapat surat tugas ke sumatera selama sembilan bulan" Mathew merangkulku sambil menyium kepalaku,


"Apakah tidak bisa di gantikan dengan anggota lain kak?" tanyaku sedih,


"Tidak Dek, kakak juga akan mendapatkan bonus besar jika menerima tugas ini, dan bila menolak maka kakak akan di pindahkan ke kota lain lagi" sahutnya,

__ADS_1


"Baiklah kak.., apakah kau masih mengingat janjimu kepadaku?" tanyaku sambil menatap kedua bola matanya,


"Iyah,kakak tidak akan macam - macam lagi saat tugas Dek, kakak janji akan setia sama Adek" dan Mathew mengecup lembut bibirku,


"Baiklah kak, aku akan menunggumu disini, dengan setia.." lirihku sambil meneteskan air mata,


"Kamu jangan bersedih, bukankah sebentar lagi kamu akan ujian kenaikan kelas?" tanya nya,


"Iyah benar kak.." sahutnya datar,


"Belajarlah yang baik, agar kamu segera lulus, dan kakak berjanji akan menguliahkanmu, juga setelah lulus kita akan segera bertunangan Dek," segala ucapan Mathew terdengar sangat tulus dan aku pun sangat berharap kala itu, agar bisa menikah dengan kak Mathew, karena aku tidak ingin ada pria lain menjadi pendampingku..., sungguh aku tidak sanggup bila harus di katakan "dasar tidak perawan!!" atau di cemooh oleh orang lain.


Pikirku, bisa tidak bisa aku harus menikah dengan Mathew.


*


*

__ADS_1


*


bersambung,


__ADS_2