Aku Adalah Indah

Aku Adalah Indah
Teror dari wanita asing


__ADS_3

Suara Ponsel Indah terdengar jelas, namun nomor yang menelpon Indah tidak terdaftar di kontak ponselnya, "Halo selamat pagi," Jawab Indah,


"Wooiii!!! Anak kecil goblok!! Putusin Mathew!! aku pacar Mathew dan asal kamu tau aku sudah melakukan hubungan intim sama Mathew, jadi kamu harus putusin Mathew!! anak kecil tolol!!" tutt....tuttt...tuutt..., tiba - tiba wanita dibalik telepon itu mematikan sambungan teleponnya...


Tanpa berkata - kata, air mata Indah tak terasa mengalir tak terbendung, kedua sahabatnya sangat kebingungan melihat Indah yang menangis tiada henti namun tangisan itu tidak mengeluarkan suara dari bibir Indah, kedua sahabatnya langsung memeluk Indah dengan tanpa menanyakan perihal yang terjadi sampai Indah sendiri yang menyampaikan keluhannya,


"Vany..., mengapa hubunganku dengan Mathew sangat rumit Van..., aku sudah dua kali mendapatkan cerita yang sama bahkan berkembang dari dua orang yang berbeda tentang perselingkuhan yang di lakukan oleh Mathew, namun aku tak berdaya karena aku terikat hutang budi dengannya Van..."


"sssttttt..., sudah Ndah..., hutang budi bisa kau balaskan kelak, tapi masa depanmu tidak bisa kau tukar suatu saat nanti.." Vany mencoba menenangkan Indah yang kalut karena menerima telepon asing.


tlingggg...tlingggg (suara dering sms)


"Anak kecil bego!!! gak tau malu!!! belum jadi apa - apa sudah minta - minta gaji orang!!! kamu pikir kamu siapa?? dasar anak kecil!!! gajinya Mathew kamu pakai buat beli jajan yahhh??? kasihaann.... sunggu rendah..."


Indah membaca isi pesan singkat dari nomor yang sama seperti yang baru saja menelponnya, tak sanggup Indah berkata - kata, terlihat Maya mengeluarkan ponsel miliknya lalu merampas ponsel dari tangan Indah untuk menyalin nomor ponsel wanita asing ini, sedangkan Vany masih berusaha menenangkan Indah yang terlihat begutu sedih.


"Uda Ndah.., biar aku yang bakal garap nomor orang gila ini, kamu tenang saja!" Maya terlihat sangat emosi dengan teror yang terjadi.


"Ndah, sebenarnya apakah kami yakin? akan menghabiskan masa remajamu tertekan dengah hubungan percintaan yang sangat serius dengan seorang cowok dewasa Ndah? apa kamu nggak kepingin gitu merasakan masa SMA mu normal seperti aku dan Maya? Kok rasanya hidupmu ini selalu saja di bebankan pada masalah yang seharusnya belum pantas kamu lalui diusia sekarang Ndah...??" Indah hanya memperhatikan dan memikirkan semua ucapan yang keluar dari mulut Vany, "Sumpah Ndah...., aku merasa prihatin dengan pilihanmu.." sambung Maya.


"Asal kalian tau..., sebenarnya aku juga sudah nggak sreg sama Kak Mathew, tapi hidupku dan keluargaku sekarang bergantung pada sebagian gajinya Mathew, walaupun sebenarnya papaku juga menghasilkan uang, tapi kalian tau kan????! siapa mamaku???? dia kalau sudah urusan uang..., sudah susah banget" Indah merasa sesak pada bagian dada ketika menceritalan fakta di balik hubungannya dengan Mathew, "berulang kali aku ingin menyudahi hubunganku dengan Mathew, mamaku yang sangat berang, dia gak mau aku mengambil keputusan seperti itu, bahkan aku diajari untuk mencari orang yang lebih mapan dari Mathew untuk bisa di manfaatkan, jujur...., aku nggak mau May...Van...., aku hanya ingin sekolah dan hidup normal seperti kalian."


"Ndah..., mamamu gila kalau gitu Ndah..." sambung Maya, "Maaf sebelumnya, rasanya kalau seorang mama memaksakan kehendaknya kepada anaknya untuk melakukan sesuatu dan bila itu untuk kepentingannya sendiri...itu sangat nggak baik Ndah.." Maya terlihat serius berbeda dari biasanya.

__ADS_1


"Tapi May..., mamaku selalu mengatas namakan keluarga agar aku mau melakukan apapun yang di kehendeakinya".. lirih Indah...


"Yah Tuhan Ndah..., andai saya aku bisa membantumu lebih dari hanya sekedar omongan Ndah..." Vany merasa prihatin dengan segala yang terjadi, "Ndah...., kamu ingan Rivaldo nggak?" Maya mengalihkan omongannya,


"Iyah Ingatlah, dia kan satu kelas sama kita dulu di SMP, emang kenapa dia?" tanya Indah


"Dia minta nomor Ponselmu, aku kasih yah?, sekalian aku simpan nomor ponsel mu juga Ndah..", Maya meminta ijin,


"Aku juga dong sekalian nih May, tolong simpankan di ponselku nomornya Indah" sambung vany seraya mengeluarkan ponsel dari tas jalannya,


"Yah..., kalian simpanlah nomorku, terus Ngapain dia minta nomor ponselku ? perasaan jaman SMP aku nggak ada akrab - akrabnya sama dia deh May," Indah merasa heran.


"Yah biarin, dia kan juga bukan orang asing Ndah..., biarlah kamu bisa bersenang - senang..! Ingat Ndah, jangan habiskan waktumu hanya untuk memikirkan cintamu dengan kakak Mathewmu itu, saranku, kamu harus bersenang - senang juga di sini, kamu sudah berulang kali bukan? mendapatkan info dia bermain perempuan disana?!" tegas vany kepada Indah,


"Kalau di pengadilan dua saksi itu sudah cukup membuktikan perkara ini benar atau tidaknya, yang ngomong dua orang, sekarang ada perempuan gila yang lagi meneror kamu, itu artinya kamu tidak boleh percaya lagi dengan Mathew Ndah!!" dengan geram Maya berbicara penuh dengah penekanan agar Indah dapat memahami keadaan yang terjadi.


Indah tidak lagi menjawab sepatah katapun, dia hanya memejamkan mata, mengingat betapa mesranya Mathew bercumbu dengannya lalu mengingat kembali sikap kasar yang selalu Mathew tunjukkan jika keinginannya tidak dituruti, semuanya membuat hati Indah remuk redam, namun tekad baru keluar dari dalam hati Indah, setelah mendengar semua nasehat kedua sahabatnya, Indah bertekad untuk membuka hati lagi kepada siapapun yang hendak mengenal dirinya, "Jika ada seorang laki - laki yang baik dan memahaminya mungkin akan aku akhiri hubunganku dengan Mathew", guman Indah dalam hatinya.


"Thanks yah Girls..." seraya merangkul kedua sahabatnya Indah sangat bersyukur memiliki sahabat yang selalu mendukungnya,


"Aku akan membuka pintu hatiku selebar - lebarnya kepada pria manapun yang ingin mendekatiku dengan sopan dan baik" celetuk Indah dengan menunjukkan senyum lebar kepada kedua sahabatnya. Mendengar apa yang diucapkan Indah, kedua sahabatnya merasa kegirangan bukan main.


"Ayoookkk kita kepantaiii!!" ajak Maya,

__ADS_1


"Aku ijin mamaku dulu yah.."pamit Indah..., bergegas Indah ke kamar mama dan meminta ijin untuk menghabiskan waktunya dengan kedua sahabatnya hingga malam, dan mama memberikan ijin kepada Indah dengah catatan pulang paling malam pukul 21:00. Indah sangat membutuhkan waktu berbagi dengan para sahabatnya, rasanya sudah lama bagi Indah menahan segala gundah gulana di hatinya dan kini Indah memutuskan untuk membebaskan segala masalahnya dengan membuka hatinya..


*


*


*


*


*bersambung


"**siapakah mereka yang terkadang lebih mengenalmu dari pada dirimu sendiri,


yang selalu ada dan tak lelah menolongmu disaat kesulitan menolongmu,


yang ikut menangis bersama denganmu dikala kau menangis,


yang tak pernah menuntut balas akan kebaikan yang telah mereka berikan...,


bahkan tidak jarang mereka lebih dekat denganmu dari pada saudaramu sendiri...,


there more than sisters or more than brother..,

__ADS_1


mereka yang selalu kita sebut sahabat***..."


__ADS_2